bengkuluOleh Edi Basuki

Sambil menikmati secangkir kopi Flores yang rasanya lumayan nendang di lidah, seorang teman pegiat PKBM berkisah bahwa, pamong belajar yang merangkap sebagai asesor itu enak, rejekinya banyak. Apalagi jika orangnya grapyak semanak, dan sedikit muka badak, maka rejekinya pun akan bertambah melimpah banyak.

Kami pun tertawa ngakak bersama, entah apa yang lucu, kami tidak tahu. Sambil nyeruput kopi, teman saya memandang penuh arti, karena dia tahu bahwa saya juga berprofesi sebagai pamong belajar, namun dia tidak tahu kalau saya, karena sesuatu dan lain hal belum berkesempatan menjadi asesor, sehingga belum pernah merasakan nikmatnya rejeki asesor.

Masih menurut teman saya yang kebetulan sedang mengikuti proses menjadi  asesor, bahwa sebagai pegawai negeri sipil, pamong belajar yang merangkap sebagai asesor itu gajinya utuh, walau harus meninggalkan kantor untuk beberapa lama. Apalagi ditambah dengan upah dari ‘juragannya’. Maka, semakin makmurlah kehidupan keluarganya, tanpa mengganggu tupoksinya. Saya pun diam karena memang tidak tahu benar tidaknya. Rupanya ini yang memotivasi teman saya ini pengen jadi asesor.

Tetap sambil nyeruput kopi dan nyakoti rondo royal, nama lain dari tape goreng, saya bilang kepadanya, bahwa menjadi asesor itu sulit. Hanya pamong belajar yang cerdas, cerdik dan pandai sajalah yang dapat diterima sebagai asesor. Lain itu tidak bisa, termasuk saya. Hal ini seperti yang tersirat dalam BAN PAUD dan PNF, bahwa Asesor adalah seseorang yang mempunyai kualifikasi dan kompetensi yang relevan dengan tugas untuk melaksanakan akreditasi terhadap kelayakan program dan satuan PNF.

Kelayakan seorang asesor ditentukan oleh kompetensi yang dimilikinya. Untuk itu sangatlah penting setiap asesor menguasai pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dipersyaratkan dalam melaksanakan tugasnya sebagai asesor. Selain itu kehandalan dan keberhasilan asesor dalam bertugas perlu dibingkai dengan kompetensi kepribadian dan sosialnya.

 

Disebutkan pula bahwa seorang asesor memiliki peran penting dalam proses akreditasi mulai dari desk assessment, visitasi, validasi, surveilen, narasumber sosialisasi dan lokakarya, narasumber bimbingan teknis, fasilitator pelatihan asesor, review instrumen dan tugas lainnya, tanpa mengganggu tupoksi utamanya.

Cangkir pertama habis, saya pesan lagi secangkir kopi lanang alas malang, katanya ini salah satu kopi hasil perkebunan di daerah Banyuwangi yang terkenal tari gandrungnya. Sementara teman saya memilih kopi robusta campur susu segar.

Sambil menunggu pesanan, saya jelaskan bahwa asesor itu pekerjaan mulia, membantu pemerintah untuk menjaga mutu program dan kelembagaan PNF agar lulusannya layak bersaing di dunia kerja sesuai tuntutan standar MEA (masyarakat ekonomi asia), yaitu sebuah agenda integrasi ekonomi negara-negara ASEAN yang bertujuan untuk menghilangkan, jika tidak, meminimalisasi hambatan-hambatan di dalam melakukan kegiatan ekonomi lintas kawasan, misalnya dalam perdagangan barang, jasa, dan investasi

Untuk itulah, pemerintah melalui asesor melakukan akreditasi berdasarkan UU RI N0. 20/2003 Pasal 60 ayat (1) dan (3), yaitu kegiatan  yang dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan berdasarkan kriteria yang bersifat terbuka.

Secara umum, akreditasi PNF bertujuan untuk memberikan penilaian (assessment) secara obyektif, transparan, dan berkelanjutan terhadap kelayakan suatu program dan satuan PNF berdasarkan atas kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, asesor harus kompeten dan kredibel dalam pelaksanaan akreditasi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan BAN PAUD dan PNF.

Artinya, asesor harus jeli dalam memaknai bukti fisik yang indah menawan dengan kondisi lapangan. Karena lembaga yang “dikunjungi” kadang lebih cerdik, berpendidikan tinggi dan kaya pengalaman, sehingga pandai berkelit dibalik tumpukan dokumen yang bejibun dan melelahkan. Sehingga diperlukan asesor yang berstamina, tahan banting, berkomitmen, dan tidak mudah tergoda oleh banyaknya dokumen dan aroma kudapan yang disiapkan sesuai falsafah jawa “Yen ono tamu kuwi pantese yo gupuh, ewuh, suguh, lungguh, (buwuh?)”.

Seandainya ada perilaku yang kurang sejalan dengan aturan main, itu wajar terjadi, asesor juga manusia, yang penting antara asesor dan lembaga merasa nyaman, tahu sama tahu dan sama-sama diuntungkan. Karena semuanya merupakan suatu kewajaran etika yang tidak tertulis..

Akhirnya, kepada teman saya yang sebentar lagi akan menjadi asesor (jika lulus tes yang dipersyaratkan), selamat menjadi asesor, selamat menikmati rejeki asesor dan rejeki lain yang menyertai saat melaksanakan tugas asesor di lapangan, jangan lupa menjaga kesehatan agar tetap semangat melaksanakan desk assessment. Ingat, semakin sehat, akan semakin banyak jatah ‘nge Desk’, maka rejeki pun semakin banyak, ujung-ujungnya kesejahteraan keluarga semakin meningkat secara signifikan. Amin Allahumma amin. *[edibasuki/humasipabi.pusat]