Refleksi  Kritis Semangat Dasar Belajar

Oleh Trining Herlina

kelas-berjalan-34Sebagian orang menganggap belajar selalu harus dengan bersekolah. Dengan kata lain, belajar harus dengan guru di depan kelas. Padahal belajar sebenarnya lebih luas dari itu dan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Namun demikian pendapat  itu tidak juga salah seratus persen. Dalam kenyataannya sebutan wajib belajar yang dicanangkan pemerintah tak lebih dan tak kurang  adalah wajib bersekolah. Makanya tidak salah juga bila orang beranggapan bahwa dunia belajar adalah dunia bersekolah. Apalgi seakan dipertegas dengan pemberian selembar surat”tamat belajar”kepada para siswa sekolah yang telah menyelesaikan pendidikannya. Padahal, sejak berates-ratus tahun yang lalu sudah lahir ungkapan arif, ‘non scholae sed vitae disco”, belajar bukan karena sekolah, tetapi untuk hidup.

Belajar sepanjang hayat.

Tamat alias selesai. Nah! Tidak ayal lagi, seolah-olah kegiatan belajar sudah tidak perlu lagi dilakukan orang dewasa yang telah selesai sekolah atau anak-anak dan kaum muda yang tidak bisa sekolah. Di dalam benak angkatan muda tersembunyi  semacam keyakinan jika sudah tamat sekolah tidak perlu belajar lagi, tinggal berfikir mencari kerja. Mereka sudah tidak mau lagi repot-repot menambah pengetahuan dan keterampilan, karena sudah merasa cukup belajar ketika di bangku sekolah. Jika demikian  yang terjadi, sebenarnya kemampuan actual  mereka justru akan terus berkurang kompetensinya  terus tertinggal seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang  dibutuhkan dunia kerja dan pengembangan diri.

Bila ini yang terjadi, seseorang benar-benar tertinggal arus perkembangan, lalu dengan sendirinya akan mengalami degradasi. Sebagaimana kita ketahui, pada saat kemampuan  berpikir kurang, maka kreativitasnya juga ikut menururn. Akibatnya kemampuan untuk menelurkan gagasan juga rendah, bahkan akan diperparah dengan kepekaan social yang ikut-ikutan tumpul. Hal-hal ini bukan tidak mungkin akan berfungsi sebagai pemicu stress, yang biasanya cenderung diikuti sikap mengkambinghitamkan pihak lain dalam kegagalan yang dialami. Masalah kepribadian dan social selanjutnya bisa berkemban lebih luas.

Alam pikir belajar sama dengan bersekolah, sayangnya tidak sedikit yang juga disertai mental ketergantungan. Misalnya, untuk melakukan segala sesuatu orang selalu mengharapkan bimbingan, tuntunan, petunjuk dan bantuan  orang lain serta tidak terbiasa mencoba mandiri. Mungkin saat bersekolah tidak sempat belajar berpikir, merasakan dan melakukan sendiri, karena banyaknya materi pelajaran yang harus dikuasai agar segera tamat dan lulus. Manusia dengan pola piker semacam ini akan mudah terlindas oleh kemajuan zaman dan tersisih dari pergerakan kebudayaan  yang semakin hari bertambah cepat perubahannya. Dalam konteks kapitalisme dan neoliberalisme, kurangnya kemampuan  di atas tentu akan menyebabkan tidak siapnya seseorang dalam menghadapipersaingan global. Pada giliran selanjutnya, jika hal seperti ini terjadi pada lebih banyak orang maka dikhawatirkan tingkat ketergantungan masyarakat meningkat. Ujung-ujungnya tentu akan menambah beban bagi Negara, yang saat ini sudah sarat dengan persoalan (klise) yang sulit dipecahkan.

Sebaiknya masyarakat segera meningkatkan kebiasaannya dari belajar untuk sekolah, menjadi belajar untuk hidup. Selanjutnya beralih lagi ke hidup untuk belajar sepanjang hayat. Dengan begitu kita akan menjadi manusia yang selalu  berkembang pengetahuannya, semakin arif dalam menyikapi keadaan. Orang telah belajar untuk mengantisipasi keadaan, bukan lagi sekedar belajar dari pengalaman. Apalagi, di kalangan  masyarakat yang lebih maju, sudah bukan zamannya lagi mengandalkan ijazah dengan kemampuan minimal. Mereka telah mengganti dengan (boleh) tanpa ijazah tetapi kemampuan optimal. Pekerjaan bisa saja menukang, tetapi kelas mutunya setara  insinyur, bukan sebaliknya.

Memang ada tahapan kesadaran belajar pada diri seseorang. Andrias Harefa (2002), misalnya, menyatakan bahwa pembelajaran bergerak dari matra ketidaksadaran atas ketidakmampuan menuju kesadaran ketidakmampuan. Pertanda tumbuhnya kesadaran atas ketidakmampuan diri adalah menculnya cara pendang yang sama sekali baru dalam memmahami realitas kehidupan. Berarti intelektualitas dan hati nuraninya mulai berfungsi. Selanjutnya dari kesadaran atas ketidakmampuan menuju kemampuan diri. Dalam tahap iniseseorang telah merasa membutuhkan belajar dengan diikuti kesediaan untuk (sedikit atau banyak) menderita (baca: pengorbanan) dan memenuhi disiplin untuk sesuatu yang diprogramkan. Baru kemudian tahapan ketidaksadaran atas kemampuan diri. Pada tataran ini seseorang telah professional (baca: profess yang artinya sempurna, tuntas, paripurna, ‘bontos’, bukan profession yang artinya mata-pencaharian) yang tidak menyadari lagi bahwa untuk mengerjakan pekerjaan tertentu diperlukan kemampuan tinggi, karena bagi dirinya hanya merupakan kebiasaan saja.

Konsep belajar

Suatu keyakinan biasanya berangkat dari suatu konsep atau setidak-tidaknya pengertian tertentu. Agar tidak terjebak ke dalam debat kusir soal belajar tanpa pijakan referensi yang jelas, ada baiknya beberapa pengertian berikut ini disadari kembali. Menurut WJS. Poerwodarminto (1953), belajar itu’… berusaha (berlatih, dsb), supaya memperoleh suatu kepandaian. Sedangkan Harold Spear (1955) mendeskripsikan sebagai “…mengamati, membaca, berinisiatif, mencoba sesuatu, mendengarkan dan mengikuti perintah’. Lain lagi Whiterington.’… adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi beupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian’. Tentu masing-masing contoh pendapat tersebut memiliki latar belakang dan perspektif yang berbeda. Misalnya, Poerwodarminto memandang dari segi  kemauan mencapai sesuatu; Spear mengamati dari aspek tindakan konkritnya; dan Whiterington menyadari dari hasil yang diperoleh dari kemauan dan proses belajarnya. Namun demikian, ada satu unsur yang sama-sama diyakini yaitu sesuatu yang berkaitan dengan dengan adanya ‘proses perunahan. Perubahan ini menyangkut 3 hal. Mula-mula ada perubahan pada pengetahuan; yang tadinya tidak tahu, setelah belajar menjadi tahu, dari kurang tahu menjadi lebih tahu atau bertambah pengetahannya. Kemudan terjadi nya perubahan pada sikap ataupun kemauan; seperti dari tidak mau menjadi mau, tidak berminat menjadi berminat, tidak seris menekuni sesuatu menjadi serius; bahkan bisa juga dari kurang percaya diri menjadi percaya diri dan seterusnya. Akhirnya perubahan pada tingkah laku, tindakan atau cara keja; dari tidak bisa menjadi bisa, dari bruk ke baik, dan sebagainya. Dan ini sangat berpengaruh pada kineja seseorang,baik secara pribadi maupun dalam lingkungan dimana ia berada.

Dengan kata lain, denan belajar seseorang diharapkan menjadi tahu, dari tahu menjadi mau, kemudian setelah mau (berkemauan) akan mendorong menjadibsa (berkemampuan), hingga khirnya akan berhasil.Misalnya diharapkan menjadi manusia yang uth dalam penampilan atau sempurna dalam prestasinya. Tentu saja bukan hanya penampakan dari kulit luarnya saja, namun juga ‘inner beatyny’nya.

Kesadaran Moral dan Kesadaran Belajar

Untuk yang teakhir tersebut di atas tentu menyangkut perkembangan mental, moral dan spiritual. Yaitu suatu kesadaran bahwa (ia) seseorang yang merupakan umat Tuhan yang harus senantiasa menyempurnakan keberadaannya (eksistensi dirinya) di bawah kuasa Tuhannya, sampai benar-benar menggambakan keluhuran Penciptanya, melalui dirinya sebagai ciptaan. Sosok ciptaan yang mencerminjernihkan Penciptanya, sampai orang lain bisa bereksklamasi, “oh, dia memang citra keelokan Tuhan! Dia memang percikan Nur Illahi! Itulah sejatinya diri manusia.!”

Kiranya memang ada tahap-tahap kesadaran moral yang mempengaruhi kesadaran belajar. Kohlberg dan Piaget pernah menulis tahap-tahap kesadaran moral anak. Tentunya orang yang lebih dewasa juga memiliki tahapan-tahapan. Setidak-tidaknya, agar tidak berlebihan, anggap saja ada tipe-tipe kesadaran moral atau religius yang bisa mempengaruhi atau bahkan melandasi motivasi semangat belajar seseorang. Misalnya, kesadaran bahwa seluruh tindakan seseorang disadari sebagai dikontrol dari ‘Yang di Atas”, sehinggasemua perilakunya diperjuangkan agar tidak menyimpang dari garis batas  yang telah diaturnya. Nuansa yang akan mewarnai besar atau kecil-kecil dalam segala bidang, baik belajar ilmu, keterampilan, sikap perilaku maupun nilai-nilai keutamaan lebih luas. Orang lalu belajar jga cara melakukan sesuatu seperti yan seharusnya sebagai kebaikan dan kebenaran, dalam bidang apa saja. Contoh sederhana, sesudah PR dikerjakan, diteliti ulang beberapa kali untuk memastikan tidak ada yang salah.

Ada lagi penghayatan yang berangkat dari kesadaran bahwa tindakan keutamaan merupakan dedikasi, devosi atau bagian dari ibadah, maka semakin sempurna berartisemakin berharga di hadapan Tuhan. Model lain yang lebih otonom atau eksistensial menganggap bahwa kebiasaan baik sehari-hari adalah hak, kebutuhan aktualisasi dan harga diri manusia; jika tidak demikianjustru manusia bisa tidak mewujud sebagai dirinya sendiri yang berharga. Pengarus dari kesadaran ini orang akan selalu bersemangat’magis’(segala sesuatu harus menjadi lebih baik dari yang lalu). Orang mungkin tidak lagi terokupasi olah segala kesalahan dan kekurangan yang telah dilakukan dirinya atau oang lain. Mereka lebih tertarik mencaripemecahan agar selanjutnya menjadi lebih baik. Orang berpikirpositif dan dan tidak pernah puasdengan hasil bagus yang telah diraih sebelumnya. Contoh kecil, vas bunga di meja tamu pecah karena terjatuh, lalu diganti dengan bahan yang lebih tahan dan dibawahnya diberi vakum perekat.

Menarik juga yang sufistik, perilaku atau tindakan baik telah menjadi kebiasaan sehari-hari yang tidak lagi disadari. Bahkan tidak lagi dianggap sebagai keistimewaan hidup yang begitu berharga, yang mengobsesi seluruh kesadaran hidup sepanjang hari. Hidup baik merupakan standar kewajaran hidup yang manusiawi (yang buruk adalah yang tidak lumrah). Bagi kalanan sufistik, ada kesadaran lain yang lebih berharga untuk dihayati dan diperjuangkan. Misalnya, seoang petani tua di Muntilan tidak hanya secara teratur menyirami dan memupuk tanaman jeruknya, tetapi juga dirawatnya seperti anak kecil. Ia tidak peduli diasnggap sinting sewantu nembang dan bicara dengan jeruknya atau dipuji sewaktu buahnya lebat.Sebenarnya ia sedang tertarik dengan reaksi komunkatif tanaman yang diperlakukan dengan penuh kasih saying. Ia sedang belajar agar semakin hari bisa lebih memahami kebutuhan-kebutuhan hidup tanaman jeruk agar berbuah lebat. Padahal ditempat lainpara ahli sedang bersusah payah melakukan penelitian laboratoris pengaruh music ballrock terhadap padi dan sayuran untuk meningkatkan hasil panen.

Kesadaran-kesadaran itu tidak saja memperkuat moral, dan spiritualitasnya yang memancar dalam tingkat laku penampilan kehidupan pribadinya, tetapi juga mengalir dalam tindakan belajarnya yang tegen, mugen, titi, telaten dan taberi dalam segala bidang yang digarap. Barangkali karena pengaruh Budhisme dalam Zen, jawaban wawancara calon karyawan paling memuaskan bagi pengusaha Jepang adalah jika pelamar menyatakan motivasi dan tujuan kerja di perusahaannya ingin belajar. Meskipun secara tulus jujur diakuinya tidak berkemampuan cukup atau memiliki reputasi gagal yang bisa diandalkan untuik bekerja di perusahaan iu.

Catatan yang Perlu Ditinjau Kembali

Kadang-kadang kita terjebak pada pengertian atau keyakinan tentang manfaat belajar yang (hampir) selalu dijawab dengan ungkapankeinginan untuk menambah pengetahuan maupun keterampilan Hal itu tidak mengherankan karena masyarakat belajar (hamper) tidak jauh tidak jauh dari konsep hafalan atau kerajinan tangan. Suatu alam pikir belajar yang mengungkung orang itu sendiri dan membelenggunya. Belajar belum merupakan pencerdasan, pencerahan dan proses menjadi lebih manusiawi (humaniora). Orang semakin senang dengan hal-hal yang bersifat instan, praktis, praktis, tidak perlu yang rumit-rumit. Karena untuk menjadi pegawai negeri, tentara atau pejabat politik public”ijazah” menjadi sangat berharga, lebih hemat ‘membeli’ daripada harus belajar.

Ideologi belajar (baca sekolah) masih untuk mempersiapkan dirinya menjadi ‘tenaga kerja’, belum untuk menjadi pencipta (pencipta pekerjaan, pencipta seni, pencipta teknologi, pencipta kehidupan lebih baik, dsb.) Mungkin ini agak menyakitkan bagi kalangan persekolahan, tetapi statistik pendidikan tahun 2000 terlanjur membuktikan, semakin tinggi tingkat pendidikan (baca: sekolah), semakin sedikit yang berorientasi menciptakan pekerjaan bagi dirinya dan orang lain. Hanya sedikit lulusan pendidikan tinggi atau menengah yang sudah memiliki rencana hidup matang. Wiraswasta berarti kecelakaan kerja, bukan cita-cita, karena ditolak menjadi ‘tenaga kerja’. Menjadi seniman berarti orang nyentrik atau, maaf, nekat.

Hal yang perlu diluruskan adalah pemahaman bahwa sekolah atau pendidikan formal merupakan tempat belajar yang paling ideal. Pernyataan yang seharusnya adalah bahwa belajar bisa dilakukan dimana saja, sedangkan yang paling ideal adalah yang sesuai dengan kebutuhan akan jenis pengalaman atau pengetahuan yang diinginkan. Menurut penelitian di London, sekolah benar-benar hanya diperlukan untuk mempelajari hal-hal yang tidak terjangkau di luar bangku sekolah. Misalnya ilmu sistematik yang memerlukan laboratorium mahal..

Pilihan materi belajar, atau jenis sekolah dan cara belajar pada umumnya mengikuti suatu pola ritual: sesudah lulus ini, lalu masuk itu, kalau tidak bisa meraih yang sana, ya disini saja, daripada tidak masuk. Masih sedikit pembelajar memilih materi atau jenis sekolah (termasuk perguruan tinggi) karena didasarkan rencana hidup yang realistis dan rasional: bakat, minat, ekonomi dan tujuan hidup strategis.Jika seseorang telah berniat untuk beranjak dari ‘belajar karena sekolah, lalu belajar untuk hidup, menuju hidup untuk belajar’, maka sudah tentu pola belajar demi gengsi dan demi-demi sejenisnya sudah tidak akan ada lagi, berganti dengan belajar untuk memperbaiki kualitas diri dan meningkatkan kinerja.

Trining Herlina adalah pamong belajar madya pada Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Daerah Istimewa Yogyakarta