BERTEMU KAWAN LAMA DI HOTEL JAYAKARTA

Pelahan namun pasti, waktu akan terus bejalan dengan membawa perubahan sesuai apa yang ditorehkan oleh pelaku hidup itu sendiri. Lebih dari delapan tahun tidak bertemu, ternyata banyak perubahan yang terjadi. Seiring bertambahnya usia dan putihnya rambut disana sini adalah salah satu tanda-tanda alam yang wajib dilalui dalam perjalanan hidup ini.

Termasuk juga kawan lama yang satu ini. Saat pertama bertemu di Hotel  “Jayakarta”, Jakarta beberapa waktu yang lalu, penampilannya sungguh lain, tidak seperti dulu. Bajunya semakin kental warna agamisnya, jidatnya yang menghitam sebagai tanda kekhusyukan beribadah, ‘manembah marang gusti kang akaryo jagad’. Begitu juga dengan wawasannya pada program-program Pendidikan nonformal (PNF) sungguh luar biasa. Lulusan pasca sarjana Universitas Semarang ini sangat mumpuni bersilat lidah dalam kegiatan Review Pedoman Pengelolaan Tutor Paket B yang diadakan Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar. Gagasannya mengalir segar untuk menyempurnakan ‘naskah akademik’ yang telah disusun oleh team yang dimotori Slamet Sujadi dari P4TK Bispar, Jakarta. Namun tetap saja terbuka untuk dikoreksi, seperti konsistensi istilah yang masih kacau, penghapusan dasar hukum yang tidak perlu, penghapusan daftar pustaka yang terkesan mengada-ada dan masih banyak lagi. Perdebatan hangat muncul dari para dosen dan widyaiswara yang dianggap senior, sehingga disini seakan berlaku siapa yang pandai ngomong dan ngeyelan dianggap jago dan benar sehingga susah ditemukan kesepahaman dalam memaknai draft yang di review.

Kepiawaiannya dalam mengoperasionalkan ‘komputer jinjing’  pun tidak diragukan, sehingga setiap kegiatan review, beliaunya selalu terlibat dan ditunjuk sebagai tukang ketik yang handal. “Begini Lho, perubahan itu kan sunnatullah, sebuah pilihan yang wajib dijalani. Anak-anakku telah beranjak dewasa dan saya ingin mereka menjadikan saya sebagai bapak yang layak dicontoh. Untuk itulah saya harus berubah, baik dalam hal perilaku sosial, perilaku keagamaan maupun keilmuan. Kayaknya kamu pun harus begitu, biar nanti lahir generasi penerus yang berguna bagi keluarga, bangsa dan agama. Kamu harus bisa ‘nuturi’ anak-anakmu seperti ketika kamu memotivasi masyarakat calon peserta program PNF dalam rangka identifikasi kebutuhan.” Katanya memberi alasan tentang perubahan sikap seiring bertambahnya usia.

Ya, sesungguhnyalah, kita sebagai pendidik PNF hendaknya tidak hanya bisa memotivasi masyarakat untuk berubah kualitas hidupnya. Kita pun harus mampu menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah sesuai tafsir masing-masing dalam memaknai keluarga sejahtera bahagia. Dan, kawan lama ini telah memilih jalannya untuk menjadi idola anak-anaknya dengan gaya yang seperti itu. Subhanallah, sungguh sebuah keputusan yang berani karena penuh konsekwensi  ditengah godaan manipulasi duniawi.

Dua hari berkumpul dengannya dalam sebuah kelompok diskusi, sungguh menyenangkan, banyak informasi dan teladan kehidupan yang bisa dipetik untuk bahan kontemplasi dikala sendiri. Daya kritisnya dalam mencermati draft pedoman pengelolaan tutor paket B yang katanya sudah lama dibahas dari hotel ke hotel  dan akan difinalisasi ini ternyata memang masih perlu penyempurnaan, mengingat pedoman ini nantinya akan menjadi pegangan dalam pengelolaan tutor paket B secara nasional. Jadii segala egosektoral dan kepentingan pribadi harus disingkirkan.

Menjelang penutupan acara, sambil menikmati kudapan berkualitas kalangan “Wong Sugih”, beberapa pertanyaan nakal terlontar kepada kawan lama ini, seperti, mengapa yang disusun pedoman pengelolaan tutor paket B ?, Untuk paket A dan paket C apakah tidak perlu dibuatkan pedoman ?. Mengapa tidak menyusun pedoman pengelolaan tutor kesetaraan, sehingga di dalamnya mencakup tutor paket A, paket B dan paket C. Apakah benar sudah ada Forum Tutor Kesetaraan Paket B, Forum Tutor  Kesetaraan Paket C dan Forum Tutor Kesetaraan Paket A ? Karena, selama ini yang nyaring terdengar itu hanya Forum Tutor Kesetaraan (tanpa embel-embel tutor paket A, paket B dan paket C). Apakah benar di dunia Tutor Kesetaraan ini sudah ada wadah berkumpulnya tutor dalam bentuk Musyawarah Tutor Mata Pelajaran (MTMP) yang berlaku secara nasional seperti halnya MGMP untuk guru ?. Atau, jangan-jangan konsep MTMP ini sekedar sebuah gagasan model yang coba diselundupkan agar bisa dinasionalkan. Sekali lagi ngeyelan dan kemampuan bersilat lidah sangat berperan disini.

Jawaban yang terlontar pun cukup diplomatis, “Sudahlah sebaiknya kita syukuri saja bisa diundang menikmati fasilitas Hotel semewah ini dan pulang pun diberi amplop. Tidak semua orang berkesempatan ikutan acara seperti ini, jadi mari kita ikui saja aturan main dari panitianya saja demi daya serap anggaran, agar suatu saat nanti kita bisa dipangil kembali.” Katanya sambil nyeruput kopi. *[eBas/humasipabipusat_online]