Program Pengembangan Desa Vokasi merupakan wujud implementasi program Pendidikan Kecakapan Hidup dalam spektrum perdesaan dengan pendekatan kawasan, yaitu kawasan perdesaan yang potensian dikenai program pendidikan nonformal.

Keberadaan program ini dimaksudkan untuk mengembangkan sumberdaya manusia dan lingkungan yang dilandasi oleh nilai-nilai budaya dan pemanfaatan potensi lokal. Melalui program desa vokasi ini diharapkan terbentuk kawasan desa yang menjadi sentra beragam vokasi, dan terbentuknya kelompok-kelompok usaha yang memanfaatkan potensi sumberdaya dan kearifan lokal. Dengan demikian, warga masyarakat dapat belajar dan berlatih menguasai keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja atau menciptakan lapangan kerja sesuai dengan sumberdaya yang ada di wilayahnya, sehingga taraf hidup masyarakat semakin meningkat.
Mengingat wilayah kerja Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Sumenep kebanyakan pedesaan yang memendam potensi besar untuk dikembangkan, maka program desa vokasi merupakan Salah satu program unggulan yang dilaksanakan oleh SKB Sumenep. Program Desa Vokasi dilaksanakan di Desa Payudan Dundang Kec. Guluk-Guluk Kab. Sumenep.

Nuansa alam di desa ini kental dengan nuansa alam khas pedesaan, hamparan sawah dan tegalan yang dikelilingi bukit-bukit semakin menambah kekhasan alam pedesaannya. Hasil-hasil produksi pertanian seperti ketela, singkong, jagung, padi, dan lainnya cukup banyak di sini. Selama ini hasil-hasil pertanian tersebut biasanya dijual petani dalam bentuk aslinya sehingga nilai ekonomisnya biasa-biasa saja, bahkan sering masyarakat dipermainkan oleh pasar, sehingga hasil panenan yang melimpah itu kurang bisa memberi kesejahteraan hidup baginya.

Melalui Program Desa Vokasi, SKB Sumenep berusaha membantu masyarakat bagaimana agar produk-produk pertanian yang banyak terdapat di desa tersebut mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi dengan mengolahnya menjadi produk lain, produk olahan yang bernilai ekonomis tinggi. Salah satunya dalam bentuk Kue Brownis Ketela (brotella), sebuah jenis kue yang cukup familier dan bergengsi bagi para pecinta kuliner.

Program Desa Vokasi ini juga dimaksudkan sebagai upaya melestarikan kemampuan membaca, menulis dan berhitung (calistung) agar tidak buta huruf kembali., hal ini dibuktikan bahwa kelompok yang beranggotakan 20 orang warga belajar itu terdiri dari kaum ibu dan remaja putri yang pernah mengikuti program keaksaraan. Dengan demikian akan memudahkan dalam penyampaian pembelajaran, diantaranya mereka menerima materi tentang tata cara pembuatan kue brotella sekaligus mempraktekkannya, materi dinamika kelompok, kewirausahaan dan membangun jarring kemitraan dalam rangka mempermudah pemasaran.

Dalam program desa vokasi, masing-masing kelompok diberi modal usaha dalam rangka memberikan rangsangan bagi kelompok untuk memulai usaha. Dukungan modal usaha tersebut, disamping digunakan untuk membeli bahan dan melengkapi beberapa perlatan, juga diputar lagi dalam bentuk usaha Prakoperasi agar berkembang. Seiring dengan berjalannya sang waktu, sekarang ini kelompok usaha desa vokasi binaan pamong belajar SKB Sumenep, disamping membuat Kue Brotela mereka juga memproduksi produk lain yaitu Tape Singkong, Kue Ulat Sutra, dan Rengginang (baik mentah maupun siap saji).

Sebagai pemain baru di dunia usaha, pemasaran merupakan kendala utama yang sulit ditaklukkan, Utuk itulah sambil belajar, pemasaran produk dilakukan dari mulut ke mulut (gethok tular antar pertemanan), untuk menghindari kerugian, kebanyakan berdasarkan pesanan khususnya di wilayah Madura, untuk keluar Madura (ke Pasuruan) belum rutin.

Sedangkan yang sudah bisa dititipkan ke Toko/Supermarket adalah Kue Ulat Sutra dan rengginang. Agar kelompok tidak jenuh, mereka pun akan mencoba memanfaatkan dana usaha yang masih ada itu untuk membuat usaha kerupuk ikan, hal ini mengingat Sumenep juga mempunyai penghasilan perikanan yang cukup melimpah. Sebuah upaya cerdas dari kelompok yang patut di dukung oleh pamong belajar SKB yang diberi tugas membina desa vokasi agar keberadaan kelompok bisa lestari dan berkembang sekaligus membawa perubahan peningkatan pendapatan bagi anggotanya. Disamping itu, pamong belajar SKB Sumenep juga ingin membuktikan bahwa dana usaha yang diberikan kepada kelompok, jika didampingi penggunaannya dengan penuh keakraban ternyata bisa memperpanjang usia kelompok binaannya, bahkan bisa memunculkan ide-ide kreatif dalam bentuk pengembangan usaha sesuai peluang pasar yang ada.

Yang jelas program desa vokasi ini semua SKB pasti mendapatkan ‘jatah’, hanya bagaimana kualitas dan bentuknya, itu sangat tergantung dari niat, kesungguhan, kreativitas dan kepentingan, apakah program desa vokasi hanya dimaknai sebagai program yang hanya bisa hidup selama didukung suntikan dana, atau mengartikan program tersebut merupakan tanggung jawab moral untuk memberdayakan masyarakat, sehingga keberadaan SKB dengan segala program pendidikan nonformalnya memang layak dijadikan tolehan oleh khalayak ramai, bahwa kehadiran SKB itu memang layak dipertahankan dan ditambahi anggarannya sekaligus layak mendpat jatah pengangkatan pamong belajar baru yang selama ini langka sekali. Wassalam* [ediBasuki/humasipabipusat_online]