Juara III fepSungguh, apa yang dilakukan Fauzi Eko Pranyono dibidang tulis menulis mulai membuahkan hasil. Para pegiat pendidikan nonformal (PNF), khususnya di wilayah jawa tengah (yang dulunya tidak peduli terhadap bidang tulis menulis) kini, mulai banyak terinspirasi perbuatan Fauzi, mereka mulai keranjingan, apapun yang menarik ditulis untuk kemudian di masukkan ke dalam Blog pribadi maupun Blog organisasi , bahkan tidak sedikit yang mulai merambah masuk media cetak.

Ya, sesungguhnya potensi di bidang tulis menulis itu ada pada diri pegiat PNF, hanya kadang, kesibukan rutin dan  konsep ‘wani piro’ semakin kuat membelenggu potensinya. Artinya, jika seseorang dalam tahap pemula sudah berpikir ‘tulisan saya dibayar berapa?’, itu dapat dipastikan dia tidak akan berhasil, dan dia akan menulis jika diiming-iming hadiah, seperti ikut lomba karya tulis ilmiah.

Sungguh perkembangan kebiasaan menulis di kalangan pegiat PNF luar biasa, dan diakui atau tidak, Fauzilah yang menjadi inspirator bidang jurnalistik bagi pegiat PNF. Padahal, kalau dilihat sepintas, tulisan mantan ketua IPABI ini biasa saja, tentang berita suatu peristiwa, tentang artikel dan opini yang menyoroti sebuah issue yang bagi pegiat PNF dianggap bukan masalah. Namun, cobalah membaca tulisan-tulisannya dengan mata hati, dengan mengedepankan sisi humanism, maka akan ditemui betapa pesan yang ingin disampaikan begitu dalam dan sarat makna.

Masalah-masalah sepele yang luput dari perhatian awam, ditangan Fauzi menjadi enak untuk dinikmati sambil minum kopi sore hari, enak dibaca sambil menunggu berakhirnya jam kantor. Ya, tulisan yang mampu menggugah kesadaran bahwa masalah itu memang perlu diwacanakan, siapa tahu dari situ bisa dijadikan bahan pengembangan model, bahan bimtek maupun sebagai materi untuk kegiatan mengajar.

Ya, jika kita penikmat Facebook, pasti setiap hari akan menemukan postingan Fauzi terbaru dengan bermacam topik menarik dan apik ilustrasinya, sehingga yang membaca akan bertambah wawasannya, berguna untuk mendukung peningkatan kompetensi pegiat PNF. Pria yang mirip Munir ini pun semakin piawai merangkai kata dan kalimat yang dapat memacu adrenalin pembacanya, sehingga tertarik untuk belajar berbuat yang sama, mengkomunikaasikan ide dan gagasan dalam bentuk tuisan.

Ya, sehari tanpa menulis, seakan membuat Fauzi penuh derita hati, makanya selalu menulis dan terus menulis. Semua peristiwa dan fenomena yang ada dalam dunia PNF tidak pernah lepas begitu saja dari perhatian pena Fauzi, semua ‘diramesi’ kemudian disajikan dalam bentuk tulisan yang ditebar dimana-mana, diberbagai komunias pegiat PNF.

Satu persatu penulis baru muncul dengan kegenitannya sendiri, namun sayang kemunculannya masih sporadis, belum bisa rutin seperti Fauzi, sekali muncul kemudian hilang sama sekali, susah diajak bangkit lagi dengan berbagai alasan yang dicari-cari. Lain dengan Fauzi, yang telah menjadikan aktivitas menulis sebagai salah satu kebutuhan menyalurkan syahwat intelektualnya untuk berbagi informasi, hal ini sesuai perintah agama, sampaikan ilmu kepada sesamamu walau hanya satu ayat.

Kerja keras pria berkacamata ini pun telah membuahkan hasil dengan mendapatkan penghargaan dari panitia Peringatan Hari Aksara Internasional Kemendikbud, atas upayanya mengkomunikasikan program pendidikan nonformal (PNF) kepada khalayak ramai melalui media massa. Harapannya tentulah, prestasi Fauzi bisa menjadi pemicu tumbuhnya penulis-penulis baru yang rajin dan berani menyuarakan “hati nurani pegiat PNF”. Bukan pandai menulis sekedar memindahkan aneka teori untuk konsumsi lomba berhadiah semata. Paling tidak dengan perbuatan Fauzi itu, pihak direktorat tergerak hatinya untuk mengadakan pelatihan jurnalistik sekaligus membentuk komunitas penulis yang akan meramaikan majalah terbitan PAUDNI. Semoga. [eBas/humas ipabi]