Oleh Bais Jajuli Sidiq

Seperti tertera dalam PERMENPAN-RB No. 15 Tahun 2010 Pasal 3 ayat (1) disebutkan bahwa Pamong Belajar berkedudukan sebagai pelaksana teknis fungsional di bidang belajar mengajar, pengkajian program, pengembangan model PNFI. Selanjutnya, pasal 4 ayat (1) menyebutkan bahwa Tugas pokok Pamong Belajar adalah melaksanakan kegiatan belajar mengajar, mengkaji program, dan mengembangkan model di bidang PNFI. Pengembangan model pada dasarnya merupakan kegiatan penelitian. Pengembangan model di bidang PNFI berarti merupakan kegiatan penelitian yang menggunakan metode penelitian pengembangan untuk mengatasi masalah-masalah yang terkait dengan bidang PNFI. Pamong Belajar dalam mengembangkan model akan menjalankan tugas seperti layaknya seorang peneliti yang biasa dikenal secara informal dengan sebutan pengembang.

Dalam melakukan suatu penelitian pengembangan, pamong belajar harus melewati beberapa langkah atau prosedur agar penelitian itu berjalan dengan baik dan mencapai hasil yang diinginkan. Sebagai langkah awal sebelum memulai penelitian, pengembang perlu melakukan identifikasi masalah dan  studi pendahuluan atau biasa dikenal dengan studi eksplorasi. Langkah ini menjadi satu jalan menuju langkah-langkah penelitian berikutnya.

Pamong belajar (pengembang) mungkin telah mempunyai ide atau menemukan suatu permasalahan yang akan dijadikan tema pengembangan, namun ide atau gambaran permasalahan yang ingin kembangkan tersebut tidak bisa dengan langsung kita jalankan. Karena tanpa dipungkiri, masalah-masalah yang kita dapati sekarang ini sering kali bukanlah hal baru tapi merupakan masalah-masalah yang lama sering muncul kembali dalam keunikan yang lain. Oleh karena itu, sangat perlu sekali bagi calon pengembang untuk menelusuri lebih jauh terlebih dahulu tentang apa yang akan dipermasalahkan melalui identifikasi kebutuhan pengembangan atau studi pendahuluan.

Dalam identifikasi kebutuhan pengembangan model ada sebenarnya dapat ada sedikit penelitian. Menurut Indriantoro dan Supomo (1999), penelitian dapat dilihat sebagai proses yang mencakup dua tahap yaitu penemuan masalah dan pemecahan masalah. Penemuan masalah dalam pengembangan model meliputi identifikasi masalah, memilih masalah menjadi topik dan perumusan atau formulasi masalah. Penemuan masalah merupakan tahap penelitian yang paling sulit karena masalah penelitian mempengaruhi strategi yang diterapkan dalam pemecahan penelitian. Seperti yang dikemukakan oleh Einstein dan Infield dalam (Indriantoro dan Supomo, 1999), formulasi masalah penelitian sering merupakan tahap penelitian yang jauh lebih esensial dibandingkan dengan tahap pemecahan masalah. Bahkan menurut Isaac dan Michael dalam (Indriantoro dan Supomo, 1999), formulasi masalah penelitian dengan baik merupakan setengah dari tahap pemecahan masalah.

  1. Pentingnya Identifikasi Masalah

Pengembangan model untuk menemukan produk atau memodifikasi produk sehingga lebih efektif dan efisien. Dalam kegiatan mengembangkan model akan terjadi kegiatan penelitian dan kegiatan pengembangan. Untuk kegiatan itu maka haruss dilakukan identifikasi kebutuhan pengembangan.

Menurut Nusa Putra (2013), secara sederhana penelitian dan pengembangan merupakan metode penelitian yang secara sengaja, sistematis, diarahkan untuk mencaritemukan, merumuskan, memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk, model, metode, strategi, cara, jasa, serta prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, efisien, produktif, dan bermakna. R & D diarahkan untuk mencari dan menemukan sesuatu produk yang inovatif dan memiliki keunggulan dalam rangka meningkatkan efektifitas, efisiensi, dan produktivitas.

Dalam penerapannya pada lingkup bidang pendidikan nonformal, informal, termasuk pendidikan anak usia dini, R & D juga diarahkan untuk menemukan suatu produk yang inovatif dalam rangka meningkatkan efektifitas, efisiensi, dan produktivitas program dan pembelajaran yang dilakukan oleh satuan atau lembaga pendidikan nonformal, informal, termasuk PAUD. Pengembangan model yang dilakukan oleh pamong belajar diharapkan menggunakan metode R &D dan dapat menghasilkan produk unggulan untuk perbaikan program atau pembelajaran.

Penelitian dan pengembangan (R&D) terdiri dari empat jenis kegiatan, yaitu penelitian dasar, penelitian terapan, pengembangan produk, dan proses pengembangan (Nusa Putra. 2013). Selanjutnya Gall, Gall dan Borg (2003) dalam Nusa Putra (2013), menyebutkan R & D dalam bidang pendidikan adalah sebuah model pengembangan berbasis industri dimana temuan penelitian digunakan untuk merancang produk dan prosedur baru, yang kemudian secara sistematis diuji di lapangan, dievaluasi, dan disempurnakan sampai mereka yang memenuhi kriteria tertentu, yaitu efektifitas dan berkualitas.

Proses penelitian dan pengembangan merupakan langkah-langkah pelaksanaan dimana produk-produk baru dikembangkan. Produk-produk program pendidikan dan pembelajaran banyak muncul sebagai sesuatu produk yang inovatif. Tahapan dari penelitian pengembangan di mulai dari menemukan masalah dan dengan mengembangkan ide. Ide ini merupakan solusi untuk penyelesaian dan dikemas dalam suatu produk. Ide dapat dikembangkan dari eksplorasi dan mencari dari sumber pustaka.

  1. Masalah

Terjadinya masalah adalah adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, masalah kadang kala hanya terlintas apa yang ada dalam fikiran kita dan itu kita anggap sebagai masalah serius yang perlu dan harus dipecahkan tapi terkadang kita tidak memikirkan bagaimana metodologi pemecahannya.hal yang seperti ini yang memancing kita untuk melakukan yang namanya penelitian  dengan mencari fakta – fakta dan bukti – bukti yang jelas dan terarah sehingga alat dan instrument pengumpulan data sesuai dengan penggunaan metode kita  perlu mencurahkan lebih banyak waktu untuk menentukan masalah penelitia tersebut baik dari mengidentifikasi ,pembatasan sampai pada perumusan masalah yang memiliki tujuan dan manfaat (Setyosari, 2012)

Menurut Lincoln dan Cuba dalam Moleong (1996) menyebutkan masalah penelitian adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.  Faktor yang berhubungan itu dapat berupa konsep, data empirik, pengalaman, atau unsur  lainnya. Dengan kata lain masalah adalah hubungan antara dua (beberapa) variable yang tidak atau belum jelas.

Masalah dalam penelitian dan pengembangan akan menentukan kualitas dari penelitian. Masalah penelitian secara umum bisa diketemukan lewat studi literatur atau lewat pengamatan lapangan. Identifikasi masalah  sebenarnya dilakukan untuk menemukan ruang lingkup masalah tertentu. Ruang lingkup masalah tersebut, misalnya ditentukan bahwa  masalah tersebut dalam bidang pendidikan nonformal, kemudian dipilih salah satu masalah sesuai dengan kemampuan peneliti baik dari berbagai segi pertimbangannya (Tahir, 2011).

Masalah yang dibutuhkan dalam pengembangan model berbeda dengan masalah-masalah dalam penelitian lainnya. Tidak semua masalah kehidupan dapat menjadi masalah yang dibutuhkan dalam penelitian pengembangan. Masalah penelitian terjadi jika ada kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan kenyataan yang ada, antara apa yang diperlukan dengan yang tersedia antara harapan dan kenyataan, kelangkaan cara-cara untuk mengatasi suatu kejadian, atau ketiadaan informasi yang sangat diperlukan untuk mengambil suatu keputusan.

Secara umum masalah dalam bidang PNFI dan PAUD akan muncul dari dua sumber yaitu masalah dari penyelenggaraan program (manajemen) dan masalah dari kegiatan belajar mengajar (pembelajaran). Masalah penyelenggaraan adalah masalah yang terjadi karena proses penyelenggaraan yang terjadi tidak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam rencana, atau hasil penyelenggaraan tidak sesuai dengan yang diharapkan dalam rencana. Tujuan tidak tercapai juga dapat menjadi masalah dalam penyelenggaraan.

Masalah dalam pembelajaran terjadi karena hasil belajar peserta didik tidak sesuai dengan yang diharapkan, atau proses kegiatan belajar mengajar tidak sesuai dengan rancangan pelaksanaan pembelajaran.

Tabel 1. Contoh-contoh masalah yang terjadi pada bidang PNFI dan PAUD

Bidang Sasaran masalah Contoh Masalah
Pendidikan Nonformal Penyelenggaraan program 1.    Tujuan penyelenggaraan program tidak tercapai sesuai target yang ditetapkan.

2.    Program pendidikan keterampilan yang ditawarkan sepi peminat.

3.    DUDI atas kinerja peserta hasil didik

4.    Tingkat kehadiran peserta didik pada program paket B kurang dari 50%

5.    Hasil UNPK peserta didik program paket C rendah.

  Pembelajaran 1.    80 % peserta didik program paket C mengalami kesulitan belajar materi integral dalam pelajaran matematika.

2.    90% peserta didik program paket B tidak dapat fokus dalam belajar

3.    Tutor kesulitan dalam melatih peserta didik keaksaraan fungsional dalam membuat kalimat majemuk.

4.     90 % hasil unjuk kerja peserta didik membatik jumputan belum sesuai yang diharapkan

5.    Tutor tidak memiliki media pembelajaran yang baik untuk pembelajaran materi menentukan potensi pasar, sehingga pembelajaran kurang efektif.

Pendidikan informal Penyelenggaraan program 1.    Kader PKK sebagai pendamping keluarga tidak memahami metode pembelajaran dan metode pendampingan keluarga, sehingga pendampingan keluarga tidak efektif.

2.    80% keluarga rentan merasa malu untuk belajar tentang tata laksana rumah tangga

3.    80% keluarga bantaran kali gajah wong tidak memahami pendidikan anak yang baik.

4.    90% keluarga di Desa Karanggedhe tidak mengenal pendidikan berbudaya dalam keluarga.

5.    75 % remaja wilayah pesisir Gunungkidul sering bergadang. Karakter remaja memudar, sehingga banyak terjadi kenakalan remaja.

  Pembelajaran 1.    90% orang tua kesulitan dalam membelajarkan pendidikan seks pada anak.

2.    Anak mengalami kesulitan belajar bahasa jawa dan tata krama.

3.    Anak tidak mengenal adab ketika di rumah dan ketika bertamu.

4.    90% orang tua tidak mengetahui UU tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

5.    90% orang tua tidak mengetahui cara mendampingi anak pada saat menonton TV yang baik

 

PAUD Penyelenggaraan program 1.    Pengelola lembaga PAUD kesulitan dalam medapatkan akreditasi lembaga

2.    Pengelola lembaga PAUD kesulitan dalam harmonisasi antara TK, Kelompok Bermain dan TPA dalam satu atap.

3.    Visi dan misi lembaga tidak tercapai sesuai target yang diietapkan

4.    Lembaga tidak menarik bagi masyarakat, sehingga kesulitan untuk mendapatkan peserta didik.

5.    Pengelola lembaga PAUD kesulitan dalam meningkatkan kompetensi pendidiknya.

  Pembelajaran 1.    Pendidik kesulitan dalam menstimulasi peserta didik PAUD dalam hal menanamkan nilai-nilai tradisi budaya.

2.    Pendidik kesulitan dalam membuat media untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang abstrak.

3.    Anak tidak menyukai permainan yang monoton dan tradisional.

4.    Pendidik kesulitan dalam membelajarkan bahasa jawa dan tata krama pada peserta didik PAUD

5.    Pendidik kesulitan dalam harmonisasi antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik normal.

Dari contoh di atas akan didapat gambaran tentang banyaknya masalah yang ada dalam pendidikan nonformal, informal, dan PAUD. Pengembang akan tidak kesulitan dalam mencari masalah.

  1. Identifikasi Masalah dan Perumusan Solusi

Setiap pengembang yang mau mengembangkan model pertama akan menanyakan pada diri sendiri dengan beberapa pertanyaan berikut:

  • Apa model yang sebaiknya saya kembangkan?
  • Sebenarnya apa masalah yang terjadi di masyarakat pendidikan nonformal, informal atau PAUD itu?
  • Secara spesifik, mengapa hasil penyelenggaraan kegiatan pendidikan atau hasil penyelenggaraan pembelajaran belum sesuai dengan yang diharapkan (belum sesuai tujuan atau hasil yang akan dicapai)?
  • Bentuk solusi yang seperti apa yang dapat saya susun untuk memperbaiki penyelenggaraan kegiatan pendidikan atau penyelenggaraan pembelajaran supaya menjadi sesuai dengan yang diharapkan (sesuai tujuan atau hasil yang akan dicapai)?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan itu, dalam penelitian pengembangan pertama yang dibutuhkan adalah diketemukannya masalah yang jelas dan adanya ide sebagai solusinya. Masalah akan diperoleh dengan mengidentifikasi masalah yang terjadi di lapangan. Dalam bidang pendidikan nonformal, informal, dan PAUD pengembangan model biasa dimulai dengan identifikasi masalah dan  memunculkan ide untuk dibuat produk.

Identifikasi masalah adalah salah satu proses penelitan yang boleh dikatakan paling penting diantara proses lain. Identifikasi Masalah merupakan suatu tahap permulaan dari penguasaan masalah dimana objek dalam suatu bidang tertentu  yang dapat dikenali sebagai suatu masalah (Suriasumantri, 2001). Selanjutnya, Identifikasi masalah berarti mengenali masalah yaitu dengan cara mendaftar faktor – faktor yang berupa permasalahan. Mengidentifikasi masalah dalam penelitian pengembangan bukan sekedar mendaftar jumlah masalah tetapi juga kegiatan ini lebih dari itu, karena masalah yang telah dipilih hendaknya memiliki nilai yang sangat penting atau signifikansi untuk dipecahkan (Setyosari, 2012). Sedangkan menurut Amien Silalahi, (2003), identifikasi masalah artinya usaha mendaftar sebanyak-banyaknya pertanyaan terhadap masalah yang terjadi yang sekiranya dapat dicari jawaban melalui penelitian. Jawaban yang dimuncilkan dalam penelitian pengembangan adalah merupakan solusi kreatif yang menjadi produk hasil pengembangan.

Dijelaskan oleh Arikunto (1992) bahwa, permasalahan dalam penelitian sering pula disebut dengan istilah problema atau problematik. Secara garis besar, peneliti mempermasalahkan fenomena atau gejala atas 3 jenis, yaitu:

  • Problema untuk mengetahui status dan mendeskripsikan fenomena. Sehubungan dengan jenis permasalahan ini terjadilah penelitian deskriptif termasuk di dalamnya penelitian survei, penelitian eksploratoris, penelitian historis, dan filosofis.
  • Problema untuk  membandingkan dua fenomena atau lebih (problema komparasi). Dalam penelitian ini peneliti berusaha mencari persamaan dan perbedaan fenomena, selanjutnya mencari arti atau manfaat dari adanya persamaan dan perbedaan yang ada.
  • Problema untuk mencari hubungan antara dua kejadian atau lebih yang mengakibatkan tidak sesuai yang diharapkan atau yang seharusnya.

Identifikasi masalah dalam pengembangan model merupakan need assement terhadap kebutuhan pengembangan. Hasil dari identifikasi dijadikan dasar untuk penyusunan desain dan penyusunan produk.

  1. Prinsip-prinsip Identifikasi Masalah

Secara sederhana informasi awal untuk mendapatkan masalah dapat diperoleh dari hasil pengkajian atau hasil evaluasi.

Emory (1985)  dalam Sugiyono (2015) menyebutkan bahwa baik penelitian murni maupun terapan, semuanya berangkat dari masalah, hanya saja untuk penelitian terapan hasilnya langsung dapat digunakan untuk membuat keputusan. Dalam metode penelitian pengembangan yang digunakan untuk pengembangan model juga berangkat dari masalah. Oleh karena itu, menemukan masalah dalam penelitian merupakan pekerjaan yang tidak mudah, tetapi setelah dapat diketemukan, maka pekerjaan penelitian akan segera dapat dilakukan.

Secara umum identifikasi masalah prinsipnya adalah wajib untuk dilakukan. Identifikasi masalah dilakukan dengan mengumpulkan masalah-masalah yang terjadi kemudian dilakukan seleksi menurut skala prioritas. Ada beberapa hal prinsip yang menjadi pertimbangan dalam identifikasi masalah antara lain:

  • Menunjukan adanya kesenjangan antara yang seharusnya dengan kenyataan yang terjadi.
  • Memperimbangkan kerumitan dan kekomplekan dalam penemuan solusi
  • Sifat urgenitas atau keterdesakan untuk diselesaikan
  • Kemampuan pribadi pengembang.
  • Eksternal pendukung, misalnya kebijakan atau aturan yang ada.
  1. Sumber-sumber Masalah

Stoner (1982) dalam Sugiyono (2015) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui apabila terdapat kejadian penyimpangan antara pengalaman atau teori dan kenyataan (hasil kajian), atau antara apa yang direncanakan dengan kenyataan (hasil evaluasi), adanya pengaduan masalah, dan adanya kekalahan dalam persaingan. Adanya informasi penyimpangan antara pengalaman, teori, kebijakan, atau aturan, denga kenyataan yang terjadi ini biasanya muncul dari hasil pengkajian.

Pamong belajar juga memiliki tugas pokok mengkaji program atau pembelajaran dalan bidang PNFI termasuk PAUD. Biasanya pamong belajar akan melakukan pengkajian terhadap kegiatan belajar mengajar yang telah dilakukkan, setelah melakukan pembelajaran dalam Diklat Dasar dari Diklat berjenjang pendidik PAUD, selanjutnya akan melakukan pengkajian, untuk menjawab pertanyaan; Apakah pembelajaran yang dilakukan mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai penilaian atau evaluasinya tepat atau tidak? Jawaban yang berupa rekomendasi hasil kajian itu dapat dijadikan sumber masalah untuk dilakukan pengembangan model.

Selanjutnya adanya hasil evaluasi penyelenggaraan diklat, hasil evaluasi narasumber, hasil evaluasi belajar peserta didik, dan hasil evaluasi proses pembelajaran, apabila terjadi kesenjangan antara hasil yang diharapkan dengan kenyataan hasil diklat juga dapat dijasikan sumber masalah. Adanya pengaduan dari masyarakat umum, wali peserta didik, DUDI, mitra, dan sebagainya, tentang keluhan dan kekecewaan dapat dijadikan sumber permasalahan yang selanjutnya dapat dibuat rancangan pengembangan model.

Tabel 2. Contoh-contoh masalah dan sumbernya

Sumber Contoh Masalah
Ada kesenjangan antara pengalaman, teori, aturan, atau kebijakan dengan kenyataan

 

(Hasil kajian)

1.    Seharusnya setelah dilatih keterampilan budidaya jamur tiram, peserta didik akan bersemangat dan giat dalam membudidayakan jamur tiram, tetapi fakta yang ada dari 40 peserta didik hanya ada satu orang yang giat berwirausaha jamur tiram.

2.    Setelah outbond seharusnya peserta diklat akan lebih bersemangat dan lebih kreatif, tetapi justru sebaliknya menjadi kurang semangat dan kurang fokus.

3.    Setelah lulus dalam uji kompetensi keterampilan tata busana seharusnya peserta lebih mudah di terima kerja pada DUDI, tetapi ternyata lebih sulit untuk diterima DUDI

4.    Tingkat kehadiran peserta didik pada program paket C reguler padahal perserta didik sendiri yang butuh.

5.    Lembaga TBM telah membuat acara berhadiah yaitu bagi pengunjung dan pembaca buku terbanyak dan mencapai 100 buku keatas, serta dibuktikan dengan menunjukan sinopsis akan mendapat hadiah sepeda motor, tetapi ternyata sepi peminat dan tidak mencapai target.

Ada kesenjangan antara rencana dengan kenyataan pelaksanaan

 

(Hasil Evaluasi)

1.    Sebuah kursus manajeman bisnis online dirancang akan mendapatkan peserta didik  100 orang dengan rincian 20 orang peserta per bulan, tetapi ternyata pada bulan pertama mendapatkan peserta didik 18 orang, pada bulan kedua 10 orang dan pada bilan ketiga 7 prang, berarti rencana tidak tercapai.

2.    Dalam rencana diklat, hasil yang diharapkan 99% lulus diklat dengan nilai minimal 75, tapi ternyata 80 % peserta didik mendapatkan nilai hasil diklat dibawah 65.

3.    Dalam pembelajaran PAUD, setelah beberapa kali distimulasi seharusnya anak sudah bisa berbahasa Jawa sederhana, tetapi ternyata anak masih tetap saja menjawab menggunkan bahasa Iindonesia.

Adanya pengaduan masalah 1.    Ada pengaduan dari DUDI bahwa ternyata 80% peserta didik yang dikirim menjadi tenaga kerja di perusahaanya tidak memiliki keterampilan seperti yang dibutuhkan.

2.    Ada pengaduan dari masyarakat, bahwa anak-anak remaja di kampung X tidak berkarakter dan merugikan masyarakat yang lain.

3.    Ada pengaduan dari wali peserta didik, bahwa anaknya berbuat yang kurang terpuji, karena tadi di sekolah bermain pencuri-pencurian.

4.    Ada pengaduan dari masyarakat bahwa sebaiknya PKBM segera dibubarkan, karena dianggap menjadi organisasi yang tidak jelas

5.    Ada pengaduan bahwa masyarakat di Bantul memohon untuk dilatih kesenian kethoprak mataram, karena mereka berkeinginan membangun kesenian ketoprak tetapi tidak ada yang memfasilitasi untuk berlatih.

Adanya kekalahan dalam kompetisi (persaingan) 1.    Setelah bebarapa kali mengikuti lomba mewarnai, ternyata peserta didik PAUDnya tidak pernah memperoleh juara atau prestasi yang paling rendahpun.

2.    Ada banyak lembaga kursus dengan bidang keterampilan yang sama dalam suatu daerah tertentu, sehingga lembaganya kurang mendapat peserta didik

3.    Orang tua kesulitan dalam membelajarkan karakter “legawa” dan memulihkan dari trauma pada anak yang gagal dalam berkompetisi

4.    Nilai hasil belajar peserta didik program paket C yang dikelola masih kalah dari peserta dari PKBM lain di sekitarnya

5.    Produk batik hasil karya peserta didik KF yang dikelola masih kalah kualitasnya dari produk warga lain, sehingga produknya kurang laku.

  1. Sumber-sumber Data

Sumber-sumber data yang dapat menunjukan masalah sangat banyak dan luas. Sumber data tersebut menurut Arikunto (1992) yang mengemukakan bahwa seperti teori pengumpulan data pada umumnya, maka sumber data atau informasi untuk mengadakan studi pendahuluan dalam hal ini identifikasi kebutuhan pengembangan model dapat dilakukan pada tiga obyek atau sasaran. Yang dimaksud dengan obyek di sini adalah apa yang harus dihubungi, dilihat, diteliti atau dikunjungi yang kira-kira akan memberikan informasi tentang data yang akan dikumpulkan. Ketiga obyek tersebut biasa disebut dengan istilah tiga P yaitu:

  • Paper yang bernmakna dokumen, buku-buku, majalah atau bahan tertulis lainya, baik berupa teori, laporan penelitian atau penemuan sebelumnya (findings).
  • Personbermakna bertemu, bertanya dan berkonsultasi dengan para ahli atau nara
  • Placebermakna tempat, lokasi atau benda-benda yang terdapat di lokasi sasaran masalah.

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa hal yang juga dapat dijadikan sebagai sumber data atau informasi untuk mengetahui masalah adalah :

  • Bacaan

Bacaan yang berasal dari jurnal-jurnal penelitian yang berasal dari laporan hasil-hasil penelitian yang dapat dijadikan sumber masalah, karena laporan penelitian yang baik tentunya mencantumkan rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut, yang berkaitan dengan penelitian tersebut. Hal ini menuntut adanya penelitian lebih lanjut dengan mengangkat masalah-masalah yang belum terjawab.

Selain jurnal penelitian, bacaan lain yang bersifat umum juga dapat dijadikan sumber masalah misalnya buku-buku bacaan terutama buku bacaan yang mendeskripsikan gejala-gejala dalam suatu kehidupan yang menyangkut dimensi sains dan teknologi atau bacaan yang berupa tulisan yang dimuat dimedia cetak.

  • Pertemuan Ilmiah

Masalah dapat diperoleh melalui pertemuan-pertemuan ilmiah, seperti seminar, diskusi. Lokakarya, konfrensi dan sebagainya. Dengan pertemuan ilmiah dapat muncul berbagai permasalahan yang memerlukan jawaban melalui penelitian. Foccus Group Discussion (FGD) dapat dijadikan wahana untuk menggali permasalahan. Bermodal pengalaman pribadi dan instrumen wawancara, maka dapat digunakan untuk mencari permasalahan yang dapat diangkat dalam pengembangan model.

  • Pernyataan Pemegang Kekuasaan (Otoritas) atau kebijakan

Beberapa pernyataan dari seorang pimpinan berupa kebijakan-kebijakan dapat dijadikan bahan untuk mendapatkan masalah. Orang yang mempunyai kekuasaan atau otoritas cenderung menjadi figure yang dianut oleh orang-orang yang ada dibawahnya. Sesuatu yang diungkapkan oleh pemegang otoritas tersebut dapat dijadikan sumber masalah. Pemegang otoritas di sini dapat bersifat formal dan non formal.

  • Observasi(Pengamatan)

Pengamatan yang dilakukan seseorang tentang sesuatu yang direncanakan ataupun yang tidak direncanakan, baik secara sepintas ataupun dalam jangka waktu yang cukup lama, dapat melahirkan suatu masalah. Contoh : Seorang pendidik menemukan masalah dengan melihat (mengamati) sikap dan perilaku peserta didiknya dalam proses belajar mengajar.

  • Wawancara dan Angket

Melalui wawancara kepada masyarakat mengenai sesuatu kondisi aktual di lapangan dapat menemukan masalah yang sekarang dihadapi masyarakat tertentu. Demikian juga dengan menyebarkan angket kepada masyarakat akan dapat menemukan apa sebenarnya masalah yang dirasakan masyarakat tersebut. Kegiatan ini dilakukan biasanya sebagai studi awal untuk mengadakan penjajakan tentang permasalahan yang ada di lapangan dan juga untuk menyakinkan adanya permasalahan-permasalahan di masyarakat

  1. Metode Pengumpulan Data

Untuk dapat mengumpulkan data yang akan dianalisis atau ditelaah sehingga dapat menunjukan permasalahan dari sumber-sumber data dapat digunakan beberapa metode pengumpulan data. Metode merupakan cara yang digunakan untuk melaksanakan pengumpulan data identifikasi kebutuhan belajar. Di dalam satu kegiatan identifikasi kebutuhan pengembangan dapat digunakan satu atau beberapa metode yang disesuaikan dengan kedalaman masalah yang akan digali. Pemilihan cara identifikasi kebutuhan pengembangan didasarkan pada beberapa pertimbangan (Brown, 2003), antara lain:

  • Bagaimana karakter dasar permasalahan yang diinginkan?. Dalam penelitian pengembangan berarti permasalahan yang diinginkan adalah permasalahannya yang pemecahannya memerlukan disusunkan produk baru atau dengan memodifikasi produk lama menjadi lebih baik dan lebih efektif;
  • Bagaimana pengalaman atau hasil-hasil pemecahan masalah yang sama di masa sebelumnya? serta bagaimana hasil-hasil upaya pemecahan dimasa lalu itu?;
  • Berapa biaya yang disediakan untuk identifikasi atau menggali permasalahan itu?
  • Siapa petugas yang akan melakukan penggalian data dalam identifikasi kebutuhan pengembangan itu?
  • Berapa lama waktu yang disediakan untuk menggali data? dan,
  • Apa saja data pokok yang menjadi indikator untuk mendapatkan permasalahan pengembangan?

Selanjutnya beberapa metode pengumpulan data yang dapat digunakan antara lain:

  • Interview (Wawancara)

Interview atau wawancara tanya jawab langsung baik tatap muka atau menggunakan media elektronik, secara formal atau informal terhadap perorangan maupun kelompok orang yang menjadi sumber informasi dan dijadikan narasumber. Untuk melakukan wawancara yang baik, sebaiknya digunakan pedoman wawancara. Pedoman ini dipakai untuk mengarahkan pembicaraan supaya fokus pada materi data yang akan diambil. Namun, ada keuntungan yang lebih apabila dilakukan secara informal tanpa panduan pedoman wawancara hanya mengandalkan kemampuan petugas untuk mendapatkan informasi, yaitu data yang diperoleh akan lebih alami, lugas, dan lebih mendalam. Sedangkan kelemahannya akan ada bias pribadi atau terkadang ada data yang tercecer karena hanya fokus pada bagian tertentu yang mendalam. Dengan demikian untuk lebih baiknya, dibuat pedoman wawancara dan difahami, walaupun dalam praktik wawancaranya secara informal.

Tabel 3. Contoh pedoman wawancara

 

PEDOMAN WAWANCARA IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PENGEMBANGAN MODEL

RESPONDEN : PENGELOLA PKBM

NO PERTANYAAN JAWABAN RESPON
YA TIDAK
1 Sudah berapa lama menjadi pengelola PKBM?      
2 Apa prestasi yang telah Anda peroleh sebagai pengelola PKBM?  

 

   
3 Program kegiatan apa saja yang diadakan PKBM untuk pembelajaran selama ini?      
4 Program kegiatan apa saja yang menarik diikuti oleh masyarakat?  

 

   
5 Apakah pernah ada pengaduan kekecewaan dari masyarakat, atau mitra, atau DUDI?  

 

   
6. Apakah Anda puas terhadap kinerja PKBM selama ini?      

 

7. Apakah pernah ada kegiatan, yang akan diprogramkan tetapi gagal?      
8. Sudah seberapakah misi dan visi PKBM ini tercapai?      
  • Angket

Angket atau kuesioner dapat digunakan untuk mendapatkan data atau informasi yang akan menunjukan permasalahan yang terjadi. Angket adalah instrumen atau alat. Di dalam angket di sajikan pertanyaan atau pernyataan yang diarahkan untuk menggali informasi yang dibutuhkan. Angket dapat berisi pertanyaan terbuka yang akan di jawab oleh responden secara bebas, seperti halnya wawancara, tetapi dapat juga tertutup yang mana jawaban dari responden berupa pilihan-pilihan jawaban. Instrumen dapat dikirimkan melalui pos atau e-mail. Keuntungan penggunaan kuesioner adalah dapat menghemat waktu.. Kelemahannya adalah dapat dimungkinkan diisi oleh responden yang tidak diharapkan, menghabiskan waktu untuk pengisiannya, serta tidak dapat dilakukan terhadap responden yang buta huruf atau berpendidikan rendah, dan kuesioner yang dikirim biasanya kadang kala tidak diisi dan tidak dikembalikan.

Tabel 4. Contoh angket terbuka

 ANGKET IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PENGEMBANGAN MODEL

RESPONDEN : PENDIDIK PAUD (Telah bersertifikat Diklat Dasar Pendidik PAUD)

Petunjuk Pengisian:

  1. Bacalah pertanyaan dengan cermat!
  2. Isilah kolom jawaban untuk menjawab pertanyaan secara jujur dan cermat!

 

NO PERTANYAAN JAWABAN
1 Sudah berapa lama menjadi pendidik PAUD?    
2 Apa yang Anda peroleh setelah  mengikuti Diklat Dasar Pendidik PAUD?  

 

 
3 Apa yang dapat Anda implementasikan dari hasil diklat?    
4 Apa kesulitan anda dalam mengimplementasikan hasil diklat?  

 

 
5 Apakah pernah ada pengaduan kekecewaan dari masyarakat, wali peserta didik?  

 

 
6. Apakah Anda puas terhadap kinerja Anda selama ini?    
7. Apakah pernah ada kegiatan, yang akan diprogramkan tetapi gagal?    
8. Apakah anda ingin uji kompetensi?    
  • Workshop atau FGD

Kegiatan workshop dapat dipakai untuk menemukan suatu masalah yang dapat dipakai dalam pengembangan model. Workshop dilakukan dengan mengumpulkan beberapa orang kemudian berdiskusi bersama membahas tentang kebutuhan pengembangan. Alangkah lebih baik jika peserta workshop terdiri dari orang orang yang berkompeten dan profesional dalam bidang yang dibahas.

  • Sarasehan

Sarasehan adalah pertemuan yang biasanya dilakukan untuk mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi kelompok kerja di masyarakat.. Pertemuan ini biasanya untuk mengungkapkan permasalahan secara terbuka dan transparan. Segala kebutuhan kelompok dan permasalahan yang ada dapat muncul secara bebas. Permasalahan-permasahan yang muncul juga akan langsung dicari pemecahannya.

  • Observasi (Pengamatan langsung)

Observasi atau pengamatan dilakukan untuk mengecek kebenaran data dari angket atau dari wawancara. Observasi dapat menunjukan kebenaran data yang diperoleh. Selain itu, observasi juga dapat menunjukkan data-data beru yang mendukung untuk sebagai petunjuk munculnya permasalahan. Supaya observasi lebih terarah dan mengena sasaran sesuai tujuan yang ingin dicapai, maka digunakan pedoman atau panduan observasi.

Tabel 5. Contoh panduan observasi

PANDUAN OBSERVASI IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PENGEMBANGAN MODEL

RESPONDEN : Tutor Keaksaraan

Petunjuk Pengisian:

  1. Bacalah pertanyaan dengan cermat!
  2. Isilah kolom jawaban untuk menjawab pertanyaan secara jujur dan cermat!

 

NO PERNYATAAN KETERANGAN KEADAAN
YA TIDAK
1 Mengajar dengan metode yang tepat      
2 Peserta didik kesulitan memahami materi  

 

   
3 Tutor mengajar menggunakan media yang tepat      
4 Peserta didik aktif  

 

   
  • Test

Test atau pengujian digunakan untuk mengetahui tingkat perkembangan hasil belajar yang telah dilakukan. Hal ini untuk menunjukan apakah pembelajaran yang dilakukan efektif atau tidak? Apabila ada peningkatan hasil belajar secara menonjol dan sesuai dengan target atau melebihi standar yang ditetapkan berarti pembelajaran berhasil. Sebaliknya, apabila hasil test lebih rendah dari standar yang ditetapkan berarti pembelajaran kurang efektif.

  • Kajian Literatur

Kajian literatur dilakukan untuk membandingkan antara kenyataan yang terjadi dengan teori yang ada. Apabila terjadi kesenjangan antara teori yang ada dengan kenyataan yang terjadi berarti ada masalah. Selanjutnya diruntut untuk mencari sumber permasalahan yang sebenarnya dengan menggunakan wawancara, pengamatan, maupun angket.

  • Telaah Dokumen

Telaah dokumen dilakukan dengan memelajari dokumen-dokumen yang tersedia terkait dengan kegiatan atau penyelenggaraan program, misalnya laporan kegiatan dan dokumen portofolio peserta didik. Dengan telaah dokumen akan diketemukan permasalahan yang terkait dengan isi dokumen tersebut. Beberapa kegagalan atau rekomendasi dapat diketemukan dari dokumen. Apabila telah mendapatkan rekomendasi berarti permasalahan sudah diketemukan dan dimintakan tindakan solusinya.

  1. Persiapan Identifikasi

Prosedur merupakan langkah-langkah praktis yang sebaiknya dilalui dalam setiap kegiatan. Identifikasi kebutuhan pengembangan merupakan suatu kegiatan. Prosedur akan selalu dimulai dari persiapan kemudian pelaksanaan dan diakhiri dengan tindak lanjut atau evaluasi. Dalam persiapan berarti pengembang akan melakukan pesrsiapan-persiapan supaya proses nantinya lancar. Prosedur identifikasi untuk mengefektifkan langkah identifikasi dan memaksimalkan hasil.

Adapun beberapa langkah dalam persiapan identifikasi adalah:

  • Membidik bidang yang akan dicari permasalahannya.

Bidang yang dapat dipilih ada bidang pendidikan nonformal (dikmas dan kursus), bidang pendidikan informal (pendidikan berbasis keluarga), dan bidang pendidikan anak usia dini (PAUD).

  • Mengumpulkan dan memilih pengalaman pribadi.

Mengumpulkan dan memilih pengalaman pribadi ini sebagai pertimbangan utama dalam menyusun rancangan identifikasi kebutuhan pengembangan, misalnya mengumpulkan pengalaman probadi secara informal dalam bidang dikmas.

  • Menyusun rancangan identifikasi kebutuhan pengembangan model.

Rancangan ini dipakai sebagai acuan untuk melakukan kegiatan identifikasi, supaya lebih terarah.

  • Menyusun kisi-kisi dan instrumen identifikasi

Kisi-kisi instrumen berisi kerangka dasar untuk pembuatan instrumen, sedangkan instrumen sudah berwujud alat untuk menggali informasi. Instrumen yang disusun disesuaikan dengan metode pengambilan data yang digunakan serta sumber data yang dipilih.

  • Memvalidasi instrumen.

Instrumen yang telah disusun kemudian divalidasi isi maulun konstruknya. Supaya lebih mudah, validasi dapat dilakukan oleh teman sejawat atau oleh narasumber ahlinya.

  • Melakukan koordinasi dengan fihak terkait

Berkoordinasi dengan fihak-fihak terkait ini dilakukan untuk memperlancar proses pengambilan data. Koordinasi dipakai untuk mendapatkan ijin, untuk meminjam dokumen, mencari literatur, wawancara, melakukan observasi, dll. Koordinasi ini sangat penting karena untuk menghormati dan mendapatkan data atau informasi yang benar secara legal.

  • Mempersiapkan sarana

Mempersiapkan sarana ini terkait dengan sarana yang dapat memperlancar proses pengambilan data. Petugas pengambil data juga termasuk yang harus dipersiapkan. Selain itu sarana transportasi, dokumentasi, komunikasi, dan sarana untuk memperlancar proses analisis.

  1. Pelaksanaan Identifikasi

Pelaksanaan identifikasi merupakan langkah utama dalam identidikasi pengembangan model.

Adapun beberapa langkah dalam pelaksanaan identifikasi adalah:

  1. Menggambil data dan informasi

Proses pengambilan data sebaiknya dilakukan oleh petugas pengambil data. Apabila menggunakan angket, pengambilan data dilakukan oleh petugas pengumpul data. Namun, apabila metode yang digunakan wawancara, diskusi, pengamatan, workshop, dan kajian literatur dapat dilakukan sendiri. Sebenarnya pengambilan data menggunakan angketpun dapat dilakukan sendiri. Hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat pemilihan responden, pastikan bahwa responden yang dipilih tepat.

  1. Memilah data

Setelah data terkumpul, kemudian data digolong-golongkan dan dipisah-pisahkan sesuai kelompoknya. Misalnya data untuk menggali motivasi, kinerja lembaga, kebermanfaatan lembaga, karakteristik pendidik, dll

  1. Menganalisis data

Setelah data di kelompok-kelompokan kemudian dianalisis. Maksudnya dianalisis adalah dihubung-hubungkan antara data yang satu dengan yang lain dan dimaknai. Pendekatan analisis yang paling sederhana adalah deskriptif naratif. Dalam menganalisis data menggunakan deskriptif naratif, setelah data diketahui kenampakannya, selanjutnya ditulis dalam bentuk narasi. Sebagai contoh hasil wawancara maka analisisnya ditulis apa adanya seperti notulen dan dimaknai antara jawaban yang satu dengan yang lainnya.

  1. Memilih masalah

Dalam sekali waktu identifikasi masalah tentu akan menemukan banyak permasalahan. Masalah yang banyak itu kemudian dipilih sesuai prioritas atau kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan masalah antara lain:

  • Masalah yang muncul memerlukan produk baru atau perbaikan produk sebagai jawabanya. Produk itu mungkin produk fisik, naratif, grafis atau bentuk lain.
  • Waktu yang disediakan untuk pengembangan model.
  • Biaya yang dialokasikan
  • Kemampuan dan kompetansi pengembang.
  • Tingkat kebermanfaatannya atau relevansinya.
  • Efektifitasnya
  1. Merencanakan solusi

Setelah diketemukan masalah, selanjutnya merencanakan solusi dengan merencanakan produk atau model pengembangan yang akan diujicobakan.

  1. Tindak lanjut Identifikasi

Pelaksanaan identifikasi merupakan langkah utama dalam identidikasi pengembangan model.

Adapun beberapa langkah dalam pelaksanaan identifikasi adalah:

  • Menyusun laporan hasil identifikasi

Menyusun laporan hasil identifikasi kebutuhan pengembangan model merupakan wujud nyata dari pertanggungjawaban atas kegiatan identifikasi yang telah dilakukan. Laporan hasil identifikasi menjadi dasar untuk melakukan penyusunan rancangan atau desain pengembangan model. Permasalahan yang didapat dari identifikasi sampai terpilih, akan dijadikan dasar merancang pengembangan model dan nantinya akan masuk dalam desain pengembangan.

  • Melakukan evaluasi penyelenggaraan identifikasi.

Evaluasi penyelelenggaraan identifikasi dimaksudkan untuk mendapatkan balikan dari kegiatan identifikasi yang telah dilakukan. Disamping itu evaluasi juga untuk melihat apakah proses identifikasi yang dilakukan efektif atau tidak. Evaluasi sederhana ini dapat dilakukan menggunakan cek list yang diisi sendiri atau tim, sehingga dapat menunjukan kekurangan dan kelebihan dari identifikasi yang dilakukan.

Referensi

Amel, 2010, Identifikasi Rumusan, dan batasan Masalah Dalam Penelitian http://callmeamel.blogspot.com/2010/07/identifikasi-rumusan-dan-batasan.html

Arikunto,Suharsimi (1993). Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek.  Jakarta: PT. Rineka Cipta

Brown, Judith. 2002. “Training needs assessment: A must for developing an effective training program”.  Artikel pada  Public Personnel Management. Diakses dari http://www.owlnet.rice.edu/~antonvillado/courses/09a_psyc630001/Brown%20(2002)%20PPM.pdf.

Putra, Nusa. 2013, Research & Development. Penelitian dan Pengembangan: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Suriasumantri, Jujun. 2001. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

Silalahi, Gabriel Amin. 2003, Metodologi Penelitian Studi Kasus Desain dan Metode. Sidoarjo: Citramedia

Setyosari Punaji. 2012. Metode Penelitian Pendidikan dan pengembangan .   Jakarta: Kencana.

Tahir Muh.2011.”Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan”.Universitas Muhammadiyah Makassar

aku blangkonan 2Bais Jajuli Sidiq adalah pamong belajar muda pada Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Daerah Istimewa Yogyakarta