job asesmenFauzi Eko Pranyono, salah seorang penasehat  IPABI menghimbau dalam statusnya agar kita segenap pamong belajar mendoakan  kawan-kawan yang terpilih sebagai wakil pamong belajar untuk mengikuti job assessment (26-28 Desember 2012), dalam rangka memenuhi persyaratan usulan tunjangan fungsional yang sudah digagas sejak 15 Desember 2009. Mereka adalah  Mahmudin, MM (mewakili PB Madya), Eva Umar, M.Pd. (mewakili PB Muda), dan Wika Karina Damayanti, S.Pd. (mewakili PB Pertama). Begitu juga dengan mBak yu Yetty Pudiantari dan Kang Dadang yang meminta doa restu agar ‘ke tiga senopati’ pamong belajar selamat mengembang tugas yang menyangkut hajat gidup pamong belajar se Indonesia.

Ya, sejak awal kepemimpinannya, Fauzi bersama rezimnya getol mengangkat isu tentang perlunya meningkatkan eksistensi pamong belajar setara nasib guru. Dimana-mana, diberbagai pertemuan dengan pamong belajar maupun “pertemuan tingkat nasional”, pria pendukung slemania ini selalu berteriak lantang, menawarkan gagasannya.

Akhirnya, setelah masa kepengurusannya habis, gagasan lama itu baru ditanggapi oleh ‘mereka yang punya kuasa’ dengan melakukan acara Job Asessmen bagi jabatan pamong belajar. Dengan cerdas penuh perhitungan, Dadang Subagja, Ketua IPABI pengganti Fauzi, memilih wakil-wakil pamong belajar yang mumpuni untuk melaksanakan tugas mulia menghadapi para ‘penguji’ yang akan bertanya dan mempertanyakan apa itu pamong belajar beserta tupoksinya. Terpilihlah Mahmudin, Eva Umar dan Wika Karina Damayanti sebagai ‘corong’ yang akan menerangkan ‘abang ijone’ pamong belajar beserta permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan tugas mensukseskan program pendidikan nonformal di lapangan.

Harapannya tentulah mBak yu Wika beserta ke dua temannya bisa sekaligus menyuarakan nasib pamong belajar sehingga keberadaannya bisa semakin lebih dikenal oleh khalayak ramai dan pembuat kebijakan, sehingga diperoleh kesepahaman terhadap keberadaan sosok pegawai negeri sipil yang bernama pamong belajar.

Sesuai dengan penjelasan Eva Umar, wawancara dalam rangka analisis job asessment tunjangan fungsional jabatan Pamong Belajar, dilaksanakan di ruang rapat Direktur Harmonosasi Peraturan Penganggaran Lantai.19 Kemenkeu, Gedung Sutikno Slamet, Jl.Dr. Wahidin No.1 Jakarta Pusat. Sungguh melelahkan prosesi itu, katanya,  Sesi pertama “wawancara” terpisah masing-masing jenjang jabatan lebih kurang 2 jam dengan job analys masing-masing 3 orang dan sesi kedua “konfimasi” dalam bentuk panel diskusi semua jenjang dan semua job analys nya. “Kami ditemani Pak Abu dan Pak Ajang, dari P2TK serta Ketua umum IPABI, Dadang Subagja, mereka hanya boleh melihat, dan mejawab ketika diminta konfirmasinya.” Ujarnya. Selanjutnya dikatakan bahwa pada sesi wawancara,  sudah menyampaikan semua uraian pekerjaan yang dilakukan dan dicatat pada kertas kerja oleh job analysnya dan direkam.  Semua langkah-langkah kegiatan dalam setiap unsur dan sub unsur serta butiran tugas pamong belajar yang meliputi KBM, Pengkajian dan Pengembangan Model pada setiap jenjang jabatan.

Selanjutnya akan dilakukan evaluasi oleh internal Dir. HPP sampai dengan menghasilkan rekomendasi untuk disetujui menteri keuangan dan selanjut dikeluar ijin prinsip yang menentukan besaran tunjungan fungsional PB untuk masing-masing jenjang jabatan.

Kami juga diberi pemahaman tentang perjalanan panjang dari pengusulan tunjungan fungsional ini antara lain, jika ijin prinsip telah dikeluarkan oleh kemenkeu, akan disampaikan kembali ke MenPAN RB, kemudian MenPAN dan RB akan mengadakan rapat harmonisasi dengan KemenKUMHAM (peraturannya), DEPDAGRI (jaminan penganggaran di daerah karena PB ada kab/kota,  provinsi  dan  pusat),  MENKOKESRA.  Setelah  harmonisasi  tercapai  baru  masuk  ke SESKAB untuk dibuatkan PERATURAN PRESIDEN tentang Tunjangan fungsional PB. Ketika  PP nya sudah ditetapkan barulah dibayarkan, begitu informasi yang diberitahukan kepada kami. Duh, ternyata perjalanan masihlah panjang …

Sebulan sudah pelaksanaan job asessmen berlalu, ke tiga warrior pamong belajar pun sudah mulai sibuk dengan program tahun 2013, begitu juga dengan pamong belajar di berbagai penjuru Indonesia, baik yang ada di SKB, BPKB, BPPAUDNI maupun P2PAUDNI, tenggelam dalam pelaksanaan tupoksinya. Sebulan sudah, gaung job assesmen pun mulai dilupakan, buktinya, ditingkat manajemen sedikit yang mengetahui adanya acara job asessmen, celakanya Pak Ajang dan Pak Abu pun diam seribu bahasa, enggan menginformasikan kepada tataran pengambil kebijakan agar memberi dukungan kepada pamong belajar yang konon ingin diperlakukan sama dengan nasib guru.

Celakanya lagi, pamong belajar sendiri tidak banyak yang merespon ‘jerih payah’ Eva Umar dan kawan-kawan, bahkan untuk sekedar berkomentar pun. sungguh terlalu, padahal nanti jika usaha “the three musketeers” berhasil, mereka yang pelit komentar itu pun juga turut menikmati. Inilah mungkin yang di dalam istilah politik disebut sebagai penumpang gelap yang menunggu di tikungan sambil membangun konspirasi.

Mengingat panjangnya proses pengusulan sampai menjadi sebuah keputusan, pastilah terbersit dihati, sebuah keraguan campur galau, mengingat tahun 2013 sering disebut sebagai tahun politik, tahun pemanasan untuk siap-siap merebut singgasana suksesi 2014, yang biasanya semua ‘elemen pejabat’ lebih peduli kepada upaya menyongsong 2014 daripada ngurusi yang lain yang dianggap kurang menguntungkan kedudukannya. Nah, kalau sudah begini, maka perjuangan “Trio wek wek” ini agaknya akan sia-sia, layu sebelum berkembang, itu kata lagu, dan bagai pungguk merindukan rembulan, itu kata peribahasa atau preketek telek singkek, kata kang Tukimin, tukang becak yang suka mangkal di depan Hotel Brongto, Jogja.

Namun, bagaimanapun pamong belajar dan IPABI harus tetap optimis, paling tidak sudah menunjukkan kapasitas, kompetensi dan keprofesionalannya dihadapan penguji ‘job assesmen’. Harapannya tentulah seluruh pamong belajar tetap semangat berkarya dan memperbincangkan nasibnya melalui media jejaring sosial agar keluh kesahnya di ketahui dan didengar oleh para penguasa pendidikan. Semoga apa yang telah diperbuat mbak yu Wika Karina dan kawan-kawan di nilai ibadah oleh Tuhan yang menjadi sesembahan kita semua.[eBas/humas-ipabipusat.online]