Oleh Edi Basuki

“Instalasi internet di kawasan Kantor untuk sementara waktu di hentikan” Begitu bunyi pengumuman yang disebarkan melalui short message service (SMS). Pengumuman di awal tahun yang tidak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Disatu sisi, dengan tidak adanya fasilitas internet gratisan, akan menguntungkan bendahara yang tidak perlu repot-repot membayar abunemen bulanan ke provider. Namun, disisi lain aktivitas jamaah fesbukiyah menjadi terhambat, tidak selancar hari-hari kemarin yang jalur komunikasinya di fasilitasi kantor secara gratis, termasuk ketika harus bertanya kepada “mBah Google” tentang informasi apa saja yang berkaitan langsung dengan tupoksi, termasuk ketika terburu-buru mencari bahan mengajar, mencari bahan referensi untuk penyusunan pengembangan model, bahkan sekedar memuaskan ‘nafsu selingkuh’ di udara, semua bisa dilakukan, semua bisa melakukan.

Ya, diakui atau tidak, keberadaan internet sudah menjadi “sego jangan” bagi karyawan yang benar-benar cerdik memanfaatkan keberadaannya.

Ada nilai yang terkandung dengan dimatikannya jalur internet gratisan, yaitu secara tidak langsung membantu mengurangi kebiasaan “Korupsi waktu” di saat jam kerja sekaligus sebagai upaya menata kinerja, memperbaiki dan meningkatkan kompetensi dan profesionalitas masing-masing karyawan sesuai dengan bidang tugasnya, agar tidak tertinggal. Sehingga, hanya mereka yang butuh informasi saja yang akan membuka internet karena harus membayar pulsa. Bagi mereka yang rejekinya ‘sana sini’ berlebih tidak masalah, akan tetapi bagi mereka yang oleh karena sesuatu dan lain hal hanya mengandalkan gaji semata, akan berpikir tujuh keliling, “antara beli pulsa untuk internetan atau nongkrong di warung kopi bersama kawan”.

Artinya, tidak ada lagi kebebasan memperoleh akses informasi dan membina hubungan antar mitra melalui jejaring sosial yang bernama internet gratis di kantor.

Ada falsafah jawa yang mengatakan “Jer Basuki Mawa Bea”, terjemahan bebasnya, jika ingin sukses harus keluar biaya, begitu juga kalau kita menginginkan aneka informasi dari internet, ya harus rela berkorban beli pulsa, karena jaman yang serba materialistis ini segalanya haruslah mengeluarkan uang sesuai konsep Keuangan yang maha kuasa.

Itulah hidup, tidak ada yang gratis jika ingin menikmati kehidupan, sesederhana-sederhananya hidup pasti memerlukan dana pendukung. Jadi, kalau ingin ‘berinternetan-ria’, ya harus mengeluarkan biaya untuk membeli pulsa.

Itulah kandungan makna dari ditiadakannya fasilitas gratis internet. Itulah (mungkin) cara pimpinan dengan bijaksana mengajari tentang makna efisiensi, berpikir ekonomis, penghematan dan menghargai pulsa untuk hal-hal yang penting sesuai tupoksi masing-masing karyawan, karna internet bukan hanya untuk ‘membunuh rasa jemu’, karena, senyatanyalah pemanfaatan jalur internet gratisan itu lebih banyak untuk “buang waktu menunggu jam pulang”, seperti main game, chatingan, bisnis online, ngerumpi antar sesama fesbuker sebagai sahabat udara.

Seandainya nanti, penghilangan fasilitas internet dilakukan secara permanen pun, sebagai bawahan harus tetap menghormati, mendukung dan menerima dengan lapang dada, siapa tahu dari itu semua ada hikmah yang dapat dipetik, yaitu mengalihkan kebiasaan mencari informasi dengan bantuan ‘mBah Google’ ke  ruangan perpustakaan yang telah menyediakan aneka koleksi yang cukup representatif untuk menunjang kegiatan pengembangan model, pengkajian program PNF maupun pengembangan profesi yang melekat pada profesi tenaga fungsional.

Bagaimana dengan rencana pemberlakuan program e-PAK yang berbasis internet ?. apakah harus mandiri mencari pulsa sendiri untuk mengakses internet dalam rangka menyusun angka kredit?.

Mari kita berpikir bersama sekaligus mempersiapkan diri melakukan resolusi 2012 yang dinaungi oleh shio Naga. Salam.[eBas/humas ipabipusat].