Berikut ini kisah Ketua Pengurus Daerah IPABI Sumbar yang mengalami kecelakaan kapal tenggalam sehabis mengikuti MUNAS FPBI (IPABI) di tahun 2009

Assalamualaikum teman-teman….
Baru kali ini saya sempat menurunkan kisah nyata yang saya alami berkenaan dengan musibah yang saya hadapi, dengan harapan kesediaan kawan-kawan membaca dan memberikan masukan seperlunya, terima kasih.

Bagian Pertama

Pengantar

Hari Sabtu tanggal 22 November 2009, saya berangkat ditemani anak sulung Amir El Havidh (Calon Hakim Pengadilan Negeri Batam) dan temannya Wahyu (Pegawai suatu Perusahaan di Batam Centre), menuju pelabuhan Sekupang Batam. Kami berangkat jam 08.00 WIB dengan mobil Avanza warna hitam dari perumahan tempat kost anak, dalam waktu 25 menit, karena menurut jadwal kapal berlayar menuju Dumai jam 10.00 WIB. Cuaca pagi itu cerah dan langit bersih. Sampai di pelabuhan Sekupang, saya harus menunggu sekitar satu setengah jam untuk berangkat dengan kapal cepat Feri Dumai Ekpress 10 dengan tujuan Dumai. Menurut informasi, bila perjalanan tidak ada kendala, akan sampai di Dumai sekitar jam 16.00 WIB.

Setelah kedua orang anak yang mengantar tersebut pamitan dan pergi kembali ke rumahnya, sambil memperhatikan penumpang berdatangan dan naik ke kapal, saya teringat dengan beberapa kegiatan beberapa hari sebelumnya. Dalam pemikiran saya masih segar suasana Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Pamong Belajar Indonesia (IPABI) yang dilaksanakan di Bandung tanggal 18 s/d 20 November 2009, dimana saya diundang sebagai peserta Munas ke I IPABI sebagai utusan dari Sumatera Barat, dimana saya dipercaya sebagai Ketua Umum Forum Pamong Belajar Indonesia (FPBI) Sumatera Barat periode 2009 – 2011.

Dalam Munas tersebut secara aklamasi disepakati oleh semua peserta Sdr. Fauzi Karto Sudhiro (Pamong Belajar BPKB Jogyakarta) sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Forum Pamong Belajar Indonesia (FPBI) menggantikan Haji Syamsuddin (Pamong Belajar BPKB Jayagiri Bandung. Pada saat tersebut dilakukan perubahan nama organisasi ini menjadi Ikatan Pamong Belajar Indonesia disingkat IPABI. Saya mendapat tugas dan kepercayaan dalam kepengurusan pusat IPABI ini sebagai Koordinator Diklat dan Kaderasi, suatu jabatan yang sesungguhnya cukup berat bagi saya yang berada di daerah.

Saya hadir dan datang ke Bandung bersama Kasubag Tata Usaha BPKB Sumbar, Sdr. Drs. Madrian (42 tahun), yang setelah selesai Munas berangkat duluan menuju Padang, karena ada tugas kantor yang mendesak perlu diselesaikan. Sedangkan saya masih ingin berada di Jakarta untuk beberapa hari dan bermaksud ke Batam mengunjungi anak pertama saya Amir El Havidh yang bertugas di Batam sejak 2 tahun yang lalu, bersama istrinya yang mulai hamil muda.

Di Batam, saya membeli beberapa alat-alat elektronik pesanan famili dan teman di kampung, yaitu laptop dan HP, dengan harga masing-masing Rp. 4.500.000,- dan Rp. 1.750.000,- Ada beberapa paket kiriman lain yang dibawa sebagai oleh-oleh perjalanan.

Setelah 2 hari di Batam, saya berangkat ke Dumai untuk menemui ibu saya Hj. Azimar, 83 tahun, yang sejak terjadi gempa 7,6 SR bulan September 2009 berada di tempat kakak saya Hj. Nurleli (58 tahun), dan adik saya Nur Azwefi (45 tahun). Mereka bersama suami dan anak-anak masing-masing telah berada dan menetap di Dumai sebagai karyawan Pertamina sejak lebih dari 20 tahun yang lalu.

Peluit kapal berbunyi nyaring, pertanda kapal segera akan diberangkatkan. Saya bergegas menuju kapal dan masuk ke bahagian bawah kapal serta mencari tempat duduk sesuai tertera pada tiket. Saya masih ingat harga tiket adalah Rp. 220.00,- Setelah duduk beberapa menit, layar monitor TV dinyalakan dan tampil film sejarah kerajaan yang menceritakan kejadian kepahlawanan seorang putra mahkota raja. Saya memperkirakan film sudah berjalan lebih dari 1 jam. Sambil nonton, saya masih berkomunikasi via HP dan SMS dengan teman dan saudara yang di Aceh, Padang, Medan, Jakarta dan daerah lain.

Saya masih ingat Bpk. Drs. H. Amri Darwis, SA, MM. (Mantan Bupati 50 Kota Sumatera Barat) yang sedang mengikuti kegiatan sosialisasi untuk ikut mencalonkan bakal calon Gubernur Sumbar, yang ternyata kemudian beliau tidak ikut karena sesuatu pertimbangan. Bpk. Amri Darwis sms saya; “dinda smskan no. rekening dinda, saya mau transfert uang untuk ikut nyumbang ke jamaah mesjid satu kambing korban hari raya Haji” yang jatuh beberapa hari lagi. Saya juga selalu berkomunikasi dengan yang lain, karena sinyal HP masih bagus dan cuaca cerah tidak ada angin dalam perjalanan laut ini.

Monitor TV kapal di depan saya menampilkan film baru, yang saya tidak terlalu ingat ceritanya, karena kapal mulai goyang terombang ambing ke kiri dan ke kanan menghadapi gelombang yang kuat dan diperkirakan lebih dari 3 meter. Lebih dari 1 jam kondisi mencekam terjadi, dengan pekikan histeris penumpang wanita dan anak-anak. Saya melihat seorang bapak umur 45 tahun bertubuh besar pingsan dan jatuh di gang antara kursi-kursi penumpang. Dia tidak lagi bisa bangkit berdiri karena kuatnya goncangan kapal, dan tidak ada yang sanggup mengangkatnya karena bobot badannya yang lebih dari 80 kg. Saya pikir dia mati tenggelam bersama kapal.

Di kursi sebelah kanan saya ada 2 orang ibuk-ibuk, usia sekitar 35 – 42 tahun, dengan 4 orang anak usia 6 sampai 10 tahun. Mereka tidak kuat lagi menghadapi kondisi kapal yang sangat goncang ke depan, ke kiri dan ke kanan akibat hempasan gelombang yang kuat dan tinggi. Para awak kapal berdiri di tengah memegang tiang-tiang yang terdapat di dalam kapal. Air mulai masuk dan menggenangi kapal, saya mulai khawatir dan ingat film kisah tenggelamnya kapal Titanic seratus tahun yang lalu. Semua penumpang mulai panik dan berpegangan kemana dia bisa asal ada tempat pegangan di kapal.

Air masuk semakin kencang, dan saya bicara sama ABK yang berpakaian serangam biru; “Dik, kalau sudah pasti kapal akan tenggelam tolong diperintahkan semua memakai baju renang”, dia mengingatkan dan menjawab “jangan panik”. Kalimat ABK ini saya jelaskan kembali kembali, ketika saya diwawancarai via telepon oleh salah seorang wartawan salah satu tv Malaysia. Saya tahu karena loghat bahasa yang digunakan wanita tersebut. Hal yang sama juga saya sampaikan kepada pewawancara lain via telepon dari salah satu (mungkin) dari Perancis dalam bahasa Inggris.

Saya pikir informasi tersebut mereka butuhkan untuk bahan dalam pengadilan internasional, karena kemudian saya mendengar bahwa nakoda kapal ini Johan Hutajulu ditangkap untuk mempertanggungjawabkan kejadian musibah ini.

Saya tetap berusaha tenang dan berdoa. Saya ambil pelampung dari bawah kursi depan dan ternyata tidak ada. Mungkin sudah ada yang menggunakannya. Saya langsung memeriksa bagian bawah kursi saya, dan ternyata ada satu pelampung yang dapat saya gunakan.

Dalam kondisi kapal yang terguncang, terombang-ambing dan air laut masuk semakin banyak, saya berdiri dan berjalan menuju bagian belakang kapal, terus keluar dan naik ke bagian atas melewati tangga dari besi. Sepatu saya lepas, tas laptop yang dalam kantongnya ada HP saya terjatuh. Saya tidak mau dan tidak turun, karena di bawah semakin banyak orang yang mau naik. Saya tidak berpikir lagi soal laptop yang jatuh entah kemana.

Kapal mulai miring, bagian depannya sudah masuk ke laut, sementara kapal tetap berjalan. Terjebak. Saya berdiri di bagian belakang, memperhatikan orang-orang jatuh dan melompat ke laut. Ada yang sudah pakai pelampung dan ada yang tidak. Kabarnya jumlah pelampung tidak sebanyak penumpang kapal. Kemudian hari saya mendengar bahwa pemilik kapal Boing, ikut korban dalam kapal ini setelah membantu penumpang lain dengan memberikan pelampungnya.

Saya masih berdiri memberikan kesempatan orang menggunakan sekoci yang secara otomatis kembang menjadi perahu karet. Saya ingat dalam kegiatan di kepramukaan, bahwa dahulukan membantu anak-anak dan wanita. Saya masih berdiri di pinggir bagian belakang kapal. Saya perhatikan kapal miring 45 sampai 50 derjad, sekitar 60 % bahagian depan depan sudah masuk ke laut. Mesin kapal mati. Kapal menunggu tenggelam. Salah seorang penumpang, yang berdiri di samping saya melepas sekoci dari ikatannya, dan melompatkannya ke laut. Begitu terbuka menjadi perahu karet saya diperintahkan untuk melompat. Saya langsung terjun, diikuti oleh beberapa penumpang lain, yang kemudian saya ketahui berjumlah 53 orang.

Pelan-pelan kapal hilang dan tenggelam. Saya menangis dalam hati dan sedih sekali melihat perempang wanita dan anak-anak satu persatu hanyut dan ada yang tenggelam. Perlahan seseorang yang melemparkan sekoci tadi melepas tali sekoci muncul dan terjawab ternyata dia adalah nakhoda kapal. Saya perhatikan dan melihat pengetahuannya yang sesuai dengan kondisi tanggap darurat, mulai ketika dia melompatkan sekoci ke laut, memberi perintah kepada semua isi sekoci dan memberikan pengertian kepada kami agar tidak berdiri, tidak panik, luruskan kaki dan membelakang sambil memegang tali yang melekat pada balon sekeliling sekoci.
Selama lebih kurang 4 jam terombang-ambing di lautan bebas, belia sang nakhoda selalu mengamankan jiwa dan pikiran kami. Dia memegang bayi berumur 2 minggu selama sekoci dalam laut. Badan sang nakhoda kuat dan tegar. Di atas sekoci masing-masing berteriak histeris ketika sekoci melambung dibawa ombak dan dihempaskan turun kembali. Mereka berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Ada yang meminta Ya Tuhan Kami Bapa di Syorga, ada yang zikir dan menyebut nama Allah.

Saya duduk membelakangi bundaran balon pinggir sekoci. Saya mulai cemas dan khawatir, karena ada bagian dari lantai bawah sekoci yang bocor. Air laut masuk dari bawah. Ditambah air yang masuk akibat percikan ombak. Saya buka kaus kaki, dan mulai membasahi dengan air yang masuk terus memerasnya keluar sekoci. Ada seorang relawan yang menutup dengan tangannya lobang lantai plastik sekoci agar air tidak masuk ke sekoci.
Saya terus membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang sering saya hafal, dan selalu berdoa untuk keselamatan bersama. Saya tidak mengetahui lagi bagaimana keadaan dan nasib penumpang kapal yang lain, karena kami sudah dipisahkan oleh ombak entah kemana. Bagai sabut kelapa terombang-ambing dibawa gelombang.

Salah seorang diantara yang ada dalam sekoci, yang kemudian saya ketahui bernama Zulfan Ajhari Siregar, umur 54 tahun, seorang wartawan menghubungi temannya di Metro TV menyatakan keadaan kami dan kapal Dumai Ekspress 10. Dia sangat aktif, minta dihubungkan dengan teman-temannya. Ada seorang wanita muda punya 1 anak laki-laki menguhubungi suaminya, yang kemudian saya dapat informasi bahwa suaminya adalah seorang tentara, meminta agar diupayakan ada helikopter untuk mengambil kami. Saya ingat akan siaran TV yang menayangkan kegiatan penjaga keselamatan pantai ByWath, yang memiliki heli untuk menyelematkan pengunjung yang tenggelam. Saya menghayal alangkah baiknya kalau itu ada di Indonesia.

Saya mendengar salah seorang isi sekoci, berkomunikasi lewat telepon dengan salah satu TV swasta menjelaskan dimana posisi kami. Kemudian saya dapat info, bahwa percakapan langsung tersebut dengan Metro TV dan disiarkan secara langsung dengan siaran ulang beberapa kali. Saya tidak bisa merekam semua kejadian, karena HP saya ikut tenggelam bersama tas laptop, ketika saya masih di kapal sebelum lompat ke sekoci.

Saya pinjam HP salah seorang teman di samping kanan saya, dan mulai menelepon ke nomor telepon rumah 0751.91090 yang sangat saya ingat karena nomor tesebut sudah ada sejak tahun 1991. Istri saya mengangkat dan menjawab telepon saya, saya katakan saya kapal kami tenggelam dan karam. Kami berada di atas sekoci dalam keadaan selamat. Tapi dia diam saja, saya kira dia pingsan. Lalu telepon saya kembalikan kepada pemiliknya yang juga menggunakan telepon untuk berkomunikasi dengan siapa, saya tidak tahu.

Saya ingin nelpon lagi, tapi minjam telepon dalam kondisi ini kan susah. Saya tahu sudah mulai ada yang menyebarkan informasi ini. Saya ingin menyampaikan bahwa saya selamat, tapi saya tak bisa. Saya menahan diri sampai kami kemudian diselamatkan oleh dua kapal dan membawanya ke salah satu pulau yang ada tower, yang kemudian saya tahu bernama pulai hiu kecil.

Saya pinjam HP salah seorang teman satu sekoci dan menelopon lagi ke rumah. Istri saya mengangkatnya. Saya katakan saya selamat dan sedang ada di sebuah pulau. Istri saya tidak bisa ngomong lagi, lalu telepon diambil alih oleh anak bungsu saya Erfan Aref, laki-laki, usia 19 tahun. Saya katakan, tolong beritahu semua yang bisa dihubungi dan katakan bahwa alhamdulillah saya selamat.

Sekitar setengah jam kami berada di pulau kecil tersebut, datang sebuah speedboat untuk membawa kami ke Tanjung Balai Karimum. Di atas spedboat seseorang menawarkan telepon gemgamnya dan mengatakan; “Saya Bupati Karimun, silahkan pakai dan gunakan telepon saya untuk memberi teman dan saudara”. Saya mulai nelpon lagi ke telpon rumah, cukup lama, karena yang lain tidak menelepon karena mungkin tak ingat nomor telepon yang akan dihubungi.

Kemudian hari saya tahu, bahwa di rumah saya di Kampung Gadang Padusunan Pariaman Utara (sekarang Pariaman Timur), Kota Pariaman, telah berkumpul banyak orang mendengar berita tentang saya. Mereka berkumpul menghibur istri saya yang shock karena masih menganggap saya sudah meninggal, karena dia tahu bahwa saya tak bisa berenang di laut dan di sungai.

Setelah hampir setengah jam, kami sampai dan disambut banyak orang di pelabuhan Tanjung Balai Karimun, (Drs. H. Basyiruddin Basyirun ?). Saya salut dengan Bupati Karimum yang kemudian hari saya tahu bernama Basyir Basyirun yang sangat dicintai oleh rakyatnya. Bupati Karimum menjadi akrab dengan saya, karena saya ketika saya menghubungi Bupati Ali Mukhni (waktu itu masih Wakil Bupati), mengatakan kepada Bupati Karimun bahwa saya dan dosen serta salah seorang ulama di Padang Pariaman. Sesunggunya secara jujur saya katakan bahwa saya tidak butuh informasi seperti itu mengenai saya, tapi saya butuh perhatian juga dari Bupati Karimun. Ternyata benar, saya dibawa ke ruang khusus informasi di rumah dinas Bupati dan memberikan kesempatan menggunakan telepon dinas kemana dibutuhkan. Kemudian saya diinapkan di hotel, berbeda dengan penumpang lainnya yang nginap di pendopo rumah dinas Bupati Karimun.

Ada beberapa nama yang ingin saya sebutkan dalam kondisi darurat ini. Mereka sangat mempedulikan penumpang korban kapal ini, terutama saya. Mereka adalah; (1) M. Kamal seorang teman menantu saya yang membantu saya membeli HP dan kartunya, yang dengan HP tersebut saya dapat berhubungan langsung dengan banyak orang, (2) Apri salah seorang polisi patroli laut, (3) Izhar pagawai Kejaksaan Karimun, Apri dan Izhar adalah teman dan mitra kerja anak saya yang bertugas di Pengadilan Negeri Batam. Bagaiman bentuk kepedulian ke tiga pribadi ini akan saya ceritakan lebih banyak nantinya. Sampai saat ini saya masih berkomunikasi dengan Apri dan Izhar secara intensif, tetapi dengan M. Kamal saya hubungi via no. Hp tidak ada kontak.
Perjumpaan saya pertama kali dengan M. Kamal, pada saat pengumuman petugas posko bencana bahwa Amir Azli minta datang ke meja posko karena ada famili yang mencari. Saya baru kali ini kenal dengan Kamal yang ternyata teman akrab dan famili dari Amrita menantu saya. Dia langsung memperkenalkan diri dan menyediakan diri untuk membantu apa yang saya butuhkan. Saya keluarkan uang yang masih basah karena air laut sebanyak Rp. 200.000,- untuk beli sebuah HP berikut kartunya. Saya tidak tahu dan tidak ingin tahu berapa harga HP di Karimun, yang saya tahu Kamal telah memberi HP dan kartunya. Saya mulai mengumpulkan dan memberikan nomor baru ini kepada siapa yang saya pandang pantas diberikan.

Akhirnya saya tersambung kepada hampir semua anak, famili, saudara dan teman-teman dari berbagai daerah, termasuk salah seorang bekas murid saya di PGA Sungai Limau tahun 1976 lalu dan ketika saya mendapat musibah ini dia berada di Kuala Lumpur Malaysia.

Perjumpaan saya dengan Apri, 29 tahun atas permintaan temannya yaitu anak saya yang bertugas di Pengadilan Negeri Batam. Apri adalah polisi patroli laut. Dia mencari saya melalui petugas di posko bencana. Setelah ketemu dia melayani saya untuk makan siang, tetapi saya katakan bahwa Bupati telah memberikan nasi bungkus, roti dan pakaian pengganti berupa kaos dan celana setengah betis. Saya belum bisa keluar penampungan rumah dinas Bupati Karimun, karena belum terdaftar dalam Daftar Identifikasi korban selamat dan meninggal.

Sama halnya dengan Izhar yang bertugas di Kejaksaan Negeri Karimun yang membawa saya nginap di hotel, atas perintah Bupati Karimun. Awalnya saya menolak untuk nginap di hotel, tapi karena Apri dan Izhar teman akrab anak saya mengatakan bahwa anak bapak meminta kami agar bapak ditempatkan di hotel. Saya paham dan bersedia untuk nginap di hotel asal saja Apri dan Izhar minta izin kepada Petugas Posko bahwa saya izin dan tidak keluar dari rombongan tanpa pemberitahuan.

Setelah petugas memberikan izin, saya masuk ke kamar hotel untuk tidur dan istirahat, tetapi sulit sekali bagi saya untuk memejamkan mata, karena semua persendiaan terasa pegal. Saya kira hal ini disebabkan oleh selama supaya tidak terlepas dan tercampak ke laut. Akhirnya saya tertidur dan tiba-tiba terbangun karena seorang berpakaian polisi (bernama: ……..) datang mengetuk pintu dan memperkenalkan diri bahwa dia adalah menantu dari salah guru saya di SMP Sungai Limau tahun 1967 dulu. Dia bertugas di Karimun, dan mendapat telepon dari istrinya di Sungai Limau, agar mencari dan memperhatikan saya yang sedang berada di Karimun.
Sebelum masuk ke kamar hotel, kedua teman anak saya mengajak saya makan sate dan minum skootang, sejenis minuman hangat, di pinggir pantai Karimun yang cukup indah pada malam hari. Kami bercerita tentang banyak hal, termasuk pengajian tasauf untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan zikir yang berkelanjutan. Ada kesan yang tidak dapat saya lupakan dari pembicaraan dengan Izhar, yaitu dia melihat wajah saya sebelum terjadi pertemuan ini. Bahwa dalam pandangan batinnya akan ada orang yang ia temui yang pola pikir dan orientasi kajian tasaufnya sejalan dengan dia. Saya heran dan takjub; masih ada orang yang diberi kelebihan dan keutamaan khusus oleh Allah SWT. Maha Besar Allah = Allahu Akbar.

BERSAMBUNG