Oleh Endang Titik Setianingsih

gambar-1Pendahuluan

Media belajar tiga dimensi untuk pendidikan anak usia dini yang dikembangkan ini adalah Menara Tancap.  Bentuk dasarnya berupa batang terbuat dari kayu yang dilobangi kecil-kecil dengan berbagai bentuk ada bentuk segi tiga, segi empat, segi lima, segi enam dan bulat  untuk ditancapi lidi-lidi bendera yang terdiri dari berbagai macam bentuk bendera yang dikenalkan pada anak.

Bentuk dan warna baku bendera bisa dikembangkan ke dalam tema-tema sesuai muatan yang dimaksud. Selain itu gambar pada bendera mulai dipilih dari objek yang paling menarik, mudah diperhatikan, mudah diingat dan mudah dicari  dalam kehidupan sehari-hari anak,  baru kemudian yang lebih sulit namun ada, bukan konsep.

Adapun tema –tema yang dimaksud seperti tema pengenalan jenis sayuran, pengenalan jenis buah – buahan, pengenalan macam-macam binatang peliharaan serta macam macam jenis serangga yang cocok untuk dikenalkan pada anak usia dini.

Bentuk dasar batang bisa diganti dalam berbagai bentuk menarik bagi anak dan menerbitkan imajinasi. Misalnya, lingga, tugu, pilar, leher jerapah, dan sebagainya.

Menara Tancap terinspirasi dari mainan anak-anak pedesaan jaman dulu yang terbuat dari batang pohon pisang bagian dalam ditancapi lidi berhias. Mainan ini menyenangkan bagi anak-anak.

  1. Pengertian

APE “Menara Tancap” adalah alat permainan berupa batang berlubang untuk tancapan aneka bendera untuk membantu menstimulasi tumbuh kembang anak pada jenjang prasekolah atau pendidikan anak usia dini.

  1. Kegunaan kecerdasan visual spasial, mengenalkan berbagai pengetahuan, melatih mental dan membangun nilai-nilai.

Contoh stimulasi motorik kasar, misalnya, anak-anak memegang tangkai     bendera dan berlari

APE “Menara Tancap” terutama digunakan untuk menstimulasi motorik kasar dan motorik halus, atau berjalan cepat dari posisi awal menuju tonggak menara tancap.  Sedangkan contoh stimulasi motorik halus terutama pada saat anak harus berusaha menancapkan tangkai bendera ke lobang sempit dengan sempurna tanpa merusak lobang atau mematahkan tangkai bendera.

gambar-2Stimulasi kecerdasan visual-spasial berlangsung saat anak harus menyesuaikan warna bendera dan bentuk geometris lobang tancapan tangkai. Bentuk bendera, jenis hewan dan bentuk lobang tancapan sudah disesuaikan sedemikian rupa sehingga memudahkan proses stimulasi yang selaras.

Pengenalan berbagai pengetahuan macam hewan dan manfaatnya dapat dilakukan dengan cara memberi gambar pada bendera sesuai pengetahuan yang hendak dikenalkan. Contoh aneka hewan peliharaan dalam rumah tangga antara lain : sapi, kambing, ayam, bebek, kelinci, anjing dan kucing, pengetahuan bisa beragam sesuai gambar yang dimuatkan atau dimasukkan pada bendera sesuai tema yang dikehendaki. Misalnya, tema lingkungan hidup, tema binatang dengan mengenalkan berbagai macam hewan dengan penjelasan kebermanfaatannya. Wujud gambarnya bisa berupa: jenis-hewan berupa ayam, kambing, sapi, kuda, kelinci, anjing dan kucing..

Pelatihan mental akan terjadi, misalnya, jika kegiatan penancapan bendera bersifat kompetitif. Mendapatkan apresiasi atas keberhasilan akan meneguhkan usaha untuk berprestasi. Memberikan tepuk tangan dan menyalami pemenang akan membiasakan sikap sportif, misalnya, bersedia mengakui keunggulan teman dan berani mengakui kekalahannya sendiri. Tegangan saat berlomba bisa menguatkan daya tahan mental anak saat berjuang atau berusaha, dan sebagainya.

Proses membangun nilai akan berlangsung manakala anak-anak mengalami sendiri menancapkan tangkai bendera kambing ke dalam lobang pada tonggak. Pada saat berlomba, anak-anak akan membangun nilai kejujuran, kerendahan hati, sportivitas, sikap dan dorongan menjadi lebih baik dan sebagainya. Bila tidak dilombakan, anak-anak bisa belajar berbagi, antri, cermat, hati-hati, bertanggung jawab, dan lain-lain.

Dengan melihat, memegang, memainkan suatu bendera bergambar hewan, secara tidak sadar anak dalam keadaan gembira terjadilah proses penanaman akan hal-hal baik yang termuat dalam gambar hewan. Tidak saja menguatkan ingatan terhadap subjek ide gambar, lebih dari itu ingatan akan sesuatu yang baik tersebut berada dalam bungkusan suasana positif. Hal ini akan membangun persepsi positif terhadap subjek ide itu sendiri.

Contoh, anak dengan bangga mampu menancapkan bendera berbentuk gambar hewan  bebek. Kemudian kesan tentang jenis-jenis hewan dalam benaknya seumur hidup adalah “jenis-jenis hewan peliharaan dalam rumah tangga dan mengandung vitamin serta bermanfaat bagi tubuh kita.”. Hewan tersebut dapat dipelihara di dalam rumah tangga serta akan dapat menghasilkan uang serta memupuk hobi dalam memelihara hewan peliharaanya. Kelak dewasa, akan terpatri sikap positif terhadap hewan peliharaan dalam rumah tangga. Ingatan positif ini akan membantu pembentukan sikap positif memandang jenis hewan peliharaan dalam rumah tangga jenisnya apa saja sehingga anak dapat menyebutkan serta mengenal hewan tersebut.  Selain itu juga mengetahui kegunaan dari hewan tersebut bagi perkembangan dan pertumbuhan diri kita sendiri dan mendorong bersikap menghargai manfaat hewan peliharaan dikembangkan dalam bentuk jenis kewirausahaan dalam rumah tangga .

Permainan Menara Tancap bersifat membangun susunan pengetahuan, sikap, tindakan dan nilai-nilai pada diri anak sejak dini. Cara membermainkan yang baik dan benar Menara Tancap akan menghasilkan suatu bangunan susunan pengetahuan, sikap, tindakan yang baik dan benar serta nilai-nilai yang luhur pula.

  1. Konsep yang Dikembangkan

Secara alamiah, entah didorong oleh jenis naluri apa, anak-anak cenderung suka memasukkan atau menyusupkan benda-benda ke dalam lubang, atau sebaliknya memasukkan benda-benda ke dalam lubang. Antara lubang dan benda-benda yang dijejalkan cenderung seimbang.

Jika anak-anak melihat lubang-lubang yang warna-warni menarik lagi pula memegang tangkai-tangkai bendera yang juga warna-warni, diharapkan mereka akan melakukan hal serupa menurut dorongan naluri alamiahnya. Pada saat itulah dorongan natural diolah menjadi tindakan kultural bertujuan yang dimaksudkan pendidik.

Prinsip pengolahannya memanfaatkan prinsip penjodohan berdasarkan asosiasi, kategorisasi dan harmoni. Misalnya, warna merah akan dipasangkan dengan warna merah, biru dengan biru. Bentuk bulat akan dijodohkan dengan bentuk bulat, segi empat dengan segi empat, dan sebagainya.

Kesamaan atau kemiripan warna dan bentuk akan membentuk suatu kelompok kategori berdasarkan homogenitas. Manakala identitas kelompok telah berhasil disatukan maka akan diperoleh rasa nyaman. Ini merupakan harmoni atau keselarasan dasar, sebelum meningkat menjadi perpaduan warna dan bentuk yang berbeda dalam suatu bentuk komposisi harmoni baru.

Pengalaman berproses ini merupakan pintu menuju penyeselarasan internal atau di dalam batin individu sendiri, dan penyelarasan eksternal atau penyesuaian terhadap lingkungan. Capaian keselerasan internal dan eksternal ini merupakan sokongan dasar proses pembentukan identitas dan sosialisasi diri.

Banyak masalah konflik dan afiliasi sosial orang dewasa berakar pada gangguan keselarasan dalam batin dan mewujud ke dalam kegagalan atau ketidakcakapan penyelerasan diri terhadap lingkungan. Hakikat survival for the fittest dalam darwinisme sosial kemasyarakatan adalah kemampuan seseorang menyesuaikan diri terhadap keadaan awal beserta perubahan dari lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya, baik yang alamiah maupun buatan.

Oleh karenanya, jika tema-tema kebudayaan dan kebangsaan yang dikembangkan sebagai topik pembermainan Menara Tancap, maka sejak dini anak-anak telah dikenalkan dan dibiasakan mencicipi pengalaman awal suatu bentuk kecakapan kerukunan dan kebhinekaan. Kecakapan ini merupakan muara dari empat tujuan belajar menurut UNESCO, yaitu belajar hidup bersama (learn to live together).  Ide-ide etik dan spiritual sisi kemanusiaan yang lebih tinggi kelak saat dewasa akan sangat terbantu dengan pengalaman bermain ringan dan sederhana.

  1. Konsep permainan yang dikembangkan

Berkaiatan dengan anak usia dini, terdapat beberapa masa yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi bagaimana seharusnya seorang pendidik menghadapi anak usia dini, sebagai berikut :

a. Masa peka

Sebagaian pendidik baik orang tua maupun pendidik belum sepenuhnya mampu menciptakan suatu kondisi yang kondusif, member kesempatan dan menunjukkan permainan serta alat permainan tertentu yang dapat memicu munculnya masa peka dan atau menumbuh kembangkan potensi yang ada di masa  peka.

b. Masa egosentris

Orang tua harus memahami bahwa anak masih berada pada masa egosentris yang ditandai dengan seolah-olah dialah yang palaing benar, keinginannya harus selalu dituruti dan sikap mau menang sendiri. Orang tua harus memberikan pengertian secara bertahap pada anak agar dapat menjadi makhlik social yang baik. Misalnya dengan melatih anak untuk dapat berbagi sesuatu dengan temannya atau belajar antri/menunggu giliran saat bermain bersama.

c. Masa meniru

Pada masa ini proses peniruan anak terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya tampak semakin meningkat. Peniruan ini tidak saja pada perilaku yang ditujukkan oleh orang-orang disekitarnya tetapi juga terhadap tokoh-tokoh khayal yang sering ditampilkan di televise. Pada saat ini orang tua atau pendidik haruslah dapat menjadi tokoh panutan bagi anak dalam berperilaku.

d. Masa berkelompok

Biarkan anak bermain di luar rumah bersama teman-temannya, jangan terlalu membatasi anak dalam pergaulan sehingga anak kelak akan dapat bersosialisasi dan beradaptasi sesuai dengan periaku lingkungan sosialnya.

e. Masa berekplorasi

Orang tua atau orang dewasa harus memahwmi pentingnya eksplorasi bagi anak. Biarkan anak memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitarnya dan biarkan anak melakukan trial dan error, karena memang anak adalah seorang penjelajah yang ulung.

f. Masa perkembangan

Orang tua disarankan tidak boleh selalu memahami anak saat ia membangkang karena ini merupakan suatu masa yang akan dilalui oleh setiap anak. Selain itu bila terjadi pembangkan sebaiknya diberikan waktu pendinginan (cooling down) misalnya berupa penghentian aktivitas anak dan memberikan anak sendiri berada di dalam kamarnya atau di sebuah sudut. Beberapa waktu kemudian barulah anak diajak bicara mengapa ia melakukan itu semua.

  1. Bentuk dan ukuran ape tradisional menara tancap

APE menara tancap tersebut terbuat dari papan kayu atau triplek, Kayu Kalimantan dan kayu jati.a.

Pengenalan konsep bendera dan warna dengan ukuran sebagai berikut :

Menara Menara tancap sisi muka :

Ukurannya tinggi 65 Cm, Lebar 12 Cm, dari sisi muka di lobangi dengan jumlah delapan (8) lobang dengan empat (4) macam bentuk (segi tiga, segi empat, segi lima, bulat) dengan empat (4) macam warna yaitu merah, hijau, kuning, dan  biru

Menara tancap sisi belakang :   

Ukurannya tinggi 65 Cm, Lebar 12 Cm, dari sisi belakang di lobangi dengan jumlah delapan (8) lobang dengan empat (4) macam bentuk (segi tiga, segi empat, segi lima, dan bulat) dengan empat (4) macam warna yaitu merah, hijau, kuning, dan  biru

Menara tancap sisi samping kiri :

Ukurannya tinggi 65 Cm, Lebar 12 Cm, dari sisi kiri di lobangi dengan jumlah delapan(8) lobang dengan empat (4) macam bentuk (segi tiga, segi empat, segi lima, bulat) dengan empat (4) macam warna yaitu merah, hijau, kuning, dan  biru

 Menara tancap  sisi samping kanan

Ukurannya tinggi 65 Cm, Lebar 12 Cm, dari sisi kanan di lobangi dengan jumlah delapan (8) lobang dengan empat (4) macam bentuk (segi tiga, segi empat, segi lima, bulat) dengan rmpat (4) macam warna yaitu merah, hijau, kuning, dan  biru

Cikal Bakal dan Modifikasi  

Cikal Bakal

APE “Menara Tancap” dikembangkan dengan cara memodifikasi bahan, ukuran, cara bermain dan peruntukan dari permainan batang pisang (kedebog) anak-anak desa.

Pohon yang sudah dipanen tandan pisangnya oleh anak-anak benar-benar dimanfaatkan habis dari daun, pelepah hingga batangnya untuk bermain. Salah satunya digunakan untuk main tancap lidi berhias.

Kelebihan permainan ini adalah pertemanan beda umur yang membangun kesetiakawanan berjenjang. Anak-anak bangga atas karyanya sendiri dari optimalisasi persediaan bahan alami.

gambar-3Sedangkan kelemahannya adalah stimulasi berlangsung kurang sistematik dan tanpa pengukuran. Sumber daya dan kepraktisan pemerataan terbatas. Anak-anak kota tidak bisa ikut menikmati serunya permainan tersebut. Selain tidak awet, juga tidak sepenuhnya aman bagi anak dari segi keselamatan bermain.

Dengan memodifikasi bahan, ukuran, peruntukan dan cara bermain, setiap anak bisa berkesempatan ikut menikmati permainan Menara Tancap secara lebih terarah dan terukur. Tentu saja, tidak semua keunggulan permainan versi alamiah di kampung.

  1. Modifikasi

Batang pisang diganti dengan bahan lain yang lebih awet dan tetap aman bagi anak. Misalnya batang kayu lunak dan ringan, kayu lapis, atau bahan lain yang tidak membahayakan kesehatan.

gambar-4Ukuran menara bervariasi. pada dasarnya harus mudah dijangkau anak, mudah tangani orang dewasa, dan jika tumbang tidak membahayakan keselamatan anak.  Contoh, tinggi 65 – 80 cm dan lebar 12 – 15 cm cukup untuk bermain untuk rentang usia 2 – 6 tahun.

Menara diberi 6  lobang beda bentuk mulut;  segi tiga, segi empat, segi lima, segi enam , bulat telor dan  bundar. Mulut lobang dibedakan dengan 6 warna: merah, hijau, putih, hitam, kuning, dan  biru.

Sedangkan bentuk menara bisa dibuat unik agar menarik atau menyerupai sesuatu yang lebih bermakna. Misalnya, di kota Yogyakarta bisa berbentuk tugu lancip atau tugu golong-gilig ciri khas Yogyakarta. Di Jakarta bisa berbentuk Monas; di Bukit Tinggi berupa Jam Gadang, dsb.

  1. Pengembangan Pembelajaran

Pada saat Menara Tancap diperlakukan sebagai piranti bermain anak, maka akan berfungsi sebagai alat permainan edukatif maupun non-edukatif tergantung kadarnya. Namun pada saat yang sama bila diperlakukan untuk menyampaikan muatan pesan di luar permainan itu sendiri, maka bisa disebut sebagai media belajar atau pembelajaran.

Sebagai APE, Menara Tancap hanya terbatas melatih bagian-bagian kecerdasan tertentu seturut bagian yang terstimulasi. Misalnya, kecakapan motorik, kecerdasan visual-spasial, maupun pengetahuan kognitif tentang suatu subjek pembelajaran. Contohnya, pengenalan huruf, angka, tanaman, hewan, bangunan, dan sebagainya. Sebagai alat bermain, Menara Tancap memberikan sensasi menyenangkan atau memuaskan perasaan.

APE “Menara Tancap” berubah menjadi media pembelajaran manakala tema dan proses bermainnya menimbulkan suatu pengalaman bernilai yang membentuk watak kepribadian. Artinya, APE beserta tema-tema nilai yang diusung menjadi semacam  instrumen setting sosial yang mengubah perilaku nyata anak-anak.

Dengan demikian, pengembangan pembermainan menyangkut tema nilai dasar dan cara bermainnya. Tema akan melembagakan suatu konsep secara non-verbal. Adapun cara pembermainan merupakan proses internalisasi atau pelembagaan dari nilai-nilai dasar yang dimaksud.

Bagaimanapun juga, pada dasarnya manusia itu mahluk bermain (homo ludens). Anak-anak, remaja, dewasa bahkan lanjut usia juga suka bermain. Masalahnya, apa dan bagaimana mainan itu yang dimainkan. Permainan dan bermain yang sehat akan mendukung martabat kemanusiaan beserta lingkungannya.

Permainan tetaplah permainan, maka bermainlah dalam permainan, tetapi jangan main-main, agar tidak menjadi permainan dari permainan atau korban permainan. Permainan, mainan dan bermain dalam konteks pendidikan berarti suatu pembudayaan kehidupan. Anak-anak mendapatkan teladan, ruang pembiasaan diri dan bila perlu mendapatkan juga campur tangan agar tabiatnya menjadi lebih baik.    

Dalam keadaan kelas yang homogen, tema-tema bisa lebih spesifik. Misalnya: benda-benda bersifat religius atau keagamaan; perincian dari satu hal yang berangkai, misalnya: ayam, telur, anak ayam, kandang, jagung; dsb.

Hal-hal yang perlu dihindari antara lain gambar-gambar yang layak dicitrakan sebagai bagian dari kekerasan atau kekejaman, stigmatisasi (cap buruk) sosial, secara umum layak dianggap melampaui kapasitas usianya, mengarah pada kekuatan sosial politik tertentu, menimbulkan perbedaan persepsi antarkelompok atau golongan, bisa dianggap merendahkan pihak lain, pengenalan perbedaan yang menimbulkan perbenturan, dan lain-lain.

Perluasan Cara bermain

Pada dasarnya hanya ada dua kategori bermain, yaitu kompetitif dan non-kompetitif. Keduanya terbagi menjadi berbagai macam jenis keperluan sesuai tujuan yang dimaksud.

  1. Permainan kompetitif, misalnya melombakan kecepatan, kerapian, kebenaran pengelompokan atau pengurutan kategori, kerjasama, dsb.
  2. Permainan non-kompetitif, misalnya kerjasama, berbagi, antri, kerapihan, kebenaran tematik, dan setting sosial lainnya.

Permainan kompetitif biasanya dilaksanakan sesudah non-kompetitif terbukti berhasil. Kompetisi dimaksudkan untuk peneguhan dan pelembagaan ide-ide yang dimaksudkan.

Penutup

Demikian modifikasi alat permainan tradisional batang pisang menjadi APE menara Tancap pengembangan kegiatan inovatif peningkatan kompetensi Pendidik Paud disusun untuk dijadikan pedoman bagi Pendidik Paud, Pengelola Paud, Penilik  Paud, Pemerhati Paud serta orang  lain dan setiap pihak terkait.

Harapan kami semoga tulisan ini dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh semua warga masyarakat maupun para pemerhati maupun pendidik dan khussusnya bagi pengelola Paud dan kegiatan telah berlangsung seperti yang dirancang dalam tulisan ini.

Endang Titik Setyaningsih, S.Pd., MM. adalah pamong belajar madya pada Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Daerah Istimewa Yogyakarta.