Berawal dari beredarnya isu yang dihembuskan Agus Sadid tentang bursa Ketua Umum Ikatan Pamong Belajar Indonesia (IPABI), maka dimunculkanlah beberapa kandidat yang cocok menggantikan ketua lama. Lobi-lobi coba dilakukan sambil rehat kopi dalam rangka mendinamisir situasi, saling lempar wacana dan argumentasi, mencari sosok pemimpin yang teruji. Sayang semuanya tidak terjadi, Musyawarah nasional (munas) IPABI yang digelar untuk ke tiga kalinya ini berjalan adem ayem, tidak seheboh organisasi lain saat menyelenggarakan munas yang selalu diwarnai kubu-kubuan, dukung-dukungan, gontok-gontokan bahkan menebar money politic untuk mengamankan kepentingannya.

Ya, di Hotel Brongto, Jogjakarta, 45 orang pamong belajar berkumpul dalam hajatan munas IPABI untuk memilih kepengurusan baru menggantikan kabinetnya Fauzi yang telah usai mengabdi guna mensosialisasikan eksistensi IPABI, walau hasilnya belum berarti.

Ditangan merekalah, wacana pengurus baru dimunculkan untuk menggairahkan kiprah IPABI agar pamong belajar semakin kenal dan memberi dukungan moral, karena senyatanyalah sampai detik ini belum semua pamong belajar bangga dengan keberadaan IPABI.

Idak Sudaksi, Ummang Harisman, Dadang Subagja, Agus Sadid dan Ginting, adalah nama-nama yang digadang-gadang menjadi nahkoda IPABI menggantikan Fauzi. Dikalangan perempuan, muncul nama Yetty Pudiantari dan Eva Umar yang dikenal cerdas dan trengginas dalam penguasaan tupoksi dan pengalaman organisasi. Edi Basuki pun dimunculkan sebagai kuda hitam, lebih tepatnya di-kambing hitam-kan untuk meramaikan bursa ketua umum. Yah, kemungkinan nama-nama diatas sengaja dihembuskan sebagai upaya memanaskan Susana munas. Sayangnya munas yang digelar tanggal 27-29 September 2012 itu tidak sepanas kopi yang disediakan pihak hotel.

Tidak seorang pun yang terang-terangan nekat mencalonkan diri dengan menebar visi misi, maupun mengusung satu nama jagoannya. Semuanya adem ayem menikmati suasana jogja, termasuk ketika kontingen Jakarta mencoba memperdengarkan Mars IPABI untuk dimintakan koreksi dalam rangka penyempurnaan aransemen agar bisa memberi semangat bagi yang menyanyikan maupun yang mendengarkan. Berbagai komentar bermunculan, dengan satu tujuan agar tercipta komposisi yang indah dan enak di dengar.

Nun jauh disana, pamong belajar yang tidak berkesempatan merasakan nikmatnya melihat perhelatan munas ke 3 ini, ternyata banyak yang berharap agar kepengurusan lama, khususnya Ketua Umum, tetap dipertahankan dengan merubah aturan main. Karena menurut asumsi mereka, sampai saat ini belum ada sosok yang mampu mengawal program yang sedang diwacanakan dan belum tampak manfaatnya bagi pamong belajar (statusnya masih terdengar…). Artinya, banyak pamong belajar yang takut jika ketuanya diganti, maka program yang sedang diperjuangkan itu kandas ditengah jalan, layu sebelum berkembang, hal ini akan bisa menambah sikap antipati pamong belajar terhadap IPABI. Apalagi, beberapa masukan dari daerah yang diposting lewat media jejaring sosial banyak yang ‘berbobot’, dan hampir tidak mungkin direalisasikan oleh siapapun pengurusnya, maklumlah IPABI statusnya masih sebagai organisasi kecil yang sedang mencari bentuk, mencari simpati dukungan dan mencari dana operasional. Pepatah mengatakan, nafsu besar tenaga kurang, termasuk kurang dukungan kebijakan dari direktorat. Dampaknya jelas, banyak pamong belajar berpaling ke lain hati (organisasi) yang lebih menguntungkan karier dan financialnya.

Munaspun dibuka dengan pembacaan tata tertib yang dipimpin Hermanto Ginting. Hujan interupsi silih berganti bersahut-sahutan  sebagai bentuk dinamisasi munas untuk kemudian disepakati bersama dan kembali kondusif. Dari 40 orang peserta, hanya 25 orang yang mempunyai hak suara memilih ketua, sedang lainnya sebagai peninjau mengamini apa kata pimpinan sidang. Dengan kata lain, tidak semua pengurus daerah bisa hadir karena terbatasnya dana, juga karena pengurus daerahnya belum terbentuk.

Laporan pertanggungjawaban pengurus lama diterima begitu saja dengan catatan, hal-hal yang belum tercapai akan menjadi agenda utama pengurus baru. Acara pun masuk pada sidang komisi  membahas  AD/ART, Kode Etik Pamong Belajar dan program kerja yang memerlukan pencermatan serius yang nantinya akan dijadikan pedoman pengurus baru dalam melaksanakan program-programnya. Entah karena terbawa suasana Jokja yang serba adem ayem atau adanya rasa sungkan, sehingga permasalahan pamong belajar yang nyata belum banyak disentuh, termasuk laporan rincian penggunaan dana dan barang inventaris organisasi pun luput dari perhatian peserta munas.

Munas pun memasuki babak akhir, yaitu pemilihan ketua. Beberapa nama dimunculkan dengan memaparkan visi misinya. Tidak ada acara banting kursi, gebrak meja, lempar sepatu maupun kehebohan yang berarti ketika Dadang Subagja dari Jakarta memenangi kursi ketua umum IPABI, semuanya mendukung dengan penuh suka cita ketika Ibu Dani, dari direktorat P2TK PAUDNI melantik rejimnya Dadang masa bakti 2012 – 2016. Selamat berkarya, tunjukkan bahwa kalian bisa merangkul seluruh pamong belajar dimanapun berada untuk bersama-sama membangun IPABI, membangun jiwa korsa pamong belajar agar tumbuh loyalitas, dedikasi dan kebanggaan terhadap profesi dan organisasi profesinya, senyampang pamong belajar belum dimutasi ke berbagai instansi karena tiadanya payung hukum yang memayunginya (khususnya terkait dengan pengadaan pamong belajar baru).

Ya, sesungguhnyalah pekerjaan rumah pengurus baru sangat banyak dan cukup berat. Tanpa bantuan seluruh pamong belajar, adalah hil yang mustahal pengurus bisa menyelesaikannya. Wallahu a’lam bishowab.[ebas/humasIPABIpusat_online]