100_5236Oleh Edi Basuki

Akhirnya penantian panjang itu pun datang juga, surat keputusan (SK) kenaikan pangkat yang telah diusulkan setahun yang lalu, kini benar-benar telah saya terima. Begitu juga dengan teman-teman yang berbarengan mengusulkan, semua sudah memegang SK kenaikan pangkat. Konon, oleh bagian kepegawaian, SK baru tersebut akan ditindak lanjuti, diproses untuk penyesuaian gaji.

Ya, kini, dengan usia yang mendekati pensiun,  saya berhasil menduduki jabatan pamong belajar madya dengan pangkat IV/b, Pembina tingkat I. sungguh sebuah kejutan yang tidak terkira, mengingat saya hanyalah pamong belajar biasa tanpa prestasi sama sekali, bahkan cenderung tersisih dan dikucilkan dalam pelaksanaan program Balai sebagai UPT Ditjen Paud dan Dikmas.

Mengapa saya dikucilkan?, saya juga tidak tahu. Tetapi mungkin pihak manajemen punya penilaian sendiri, seperti misalnya dianggap tidak loyal, pemalas, tidak cakap dan sejenisnya. Semua saya terima saja dan saya jalani sebagai takdir dari sebuah sistem. Konsekwensinya pun sudah saya perhitungkan, bahkan sangsi dari pasal 28 permenpan dan RB nomor 15 tahun 2010 serta UU ASN yang mewajibkan setiap aparatur memiliki kompetensi tinggi, saya siap menanggung.

Karena, sesungguhnyalah, sudah sejak dua tahunan ini saya telah dikotak oleh sistem, sudah tidak dipakai manajemen, dan hanya menjadi penonton setia melihat seluruh karyawan Balai bergembira ria menikmati fasilitas program dan proyek. Bersenang-senang bersama merasakan enaknya rejeki kantor.

Dari pada diam di kantor sambil melihat karyawan bergembira menikmati rejeki surat tugas, mendingan mencari peluang rejeki di luar kantor sambil nyangkruk di warung kopi, atau berlama-lama di perpustakaan ‘menemani’ mbak Dita yang sibuk mengencani aneka buku koleksi sambil pura-pura baca Koran agar tidak kelihatan ngantuknya.

Jikalau imannya lagi stabil, ya menghabiskan pagi di mushola kantor yang dingin ber AC. Berlama-lama Sholad dhuha sambil berdoa agar tidak gelap mata hati yang bisa mendorong keinginan membunuh pejabat yang dzolim. Berdoa sebisanya agar diampuni segala dosa korupsi kecil-kecilan selama menjadi PNS. Saking khusyuknya berdoa, tidak jarang ketiduran dibuai semilir angin yang dikondisikan pada angka 18 derajat.

Ya, sudah lama, saya tidak menerima surat tugas untuk menjadi nara sumber, fasilitator, peserta diklat, surat tugas rapat dengan pusat, bahkan sekedar surat tugas sebagai panitia tukang absensi pun, tidak pernah. Dampaknya jelas, saya jarang mendapat rejeki dari surat tugas sehingga kesulitan mendapatkan angka kredit.

Ada yang bilang saya terlalu bodo sehingga tidak perlu dilibatkan, dan sudah selayaknya untuk dicampakkan. Padahal di kantor, yang bodonya setara dengan saya juga ada, bahkan ada yang melakukan perbuatan yang tidak patut dilakukan oleh PNS pun juga ada, tapi mengapa mereka masih dipakai?. Jika memang saya dianggap bodo, mengapa manajemen tidak melakukan fungsinya sebagai Pembina yang wajib membina bawahannya. Harusnya dibina dulu, bukan langsung dibinasakan.

Ya, sekarang saya sudah masuk golongan IV/b. golongan tertinggi yang bisa saya capai, walau harus dengan cara tipu-tipu sedikit, seperti yang lazim dilakukan oleh pamong belajar di seluruh Indonesia. misalnya ngarang bukti fisik, rekayasa kegiatan belajar mengajar, memaksa tim penilai angka kredit agar meloloskan DUPAK, dan banyak lagi rekayasa sesuai kreativitas dan keberanian masing-masing pamong belajar.

Sebuah kelakuan yang sepertinya harus dilakukan oleh setiap pamong belajar agar bisa naik pangkat dan jabatan. Mungkin guru dan dosen pun juga melakukannya, kan mereka juga manusia. Karena ini adalah perbuatan yang manusiawi sekali sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan. Itu wajar, masih dalam batas toleransi. Dalam bahasa agamanya, kelakuan ini hukumnya termasuk makruh, yaitu dikerjakan tidak apa-apa, kalau ditinggalkan mendapat pahala.

Beberapa teman mengatakan bahwa golongan IV/b itu tugasnya berat, tanggungjawabnya besar. Tupoksi yang harus dijalani pun tidak ringan, dan itu ada aturannya. Namun kenyataan di lapangan lain. Semua aturan bisa dikondisikan dan diatur. Dan saya pun sudah terlanjur dianggap goblok, tetap dibiarkan terpuruk tanpa pembinaan sehingga sangat potensial kena hukuman, termasuk dipensiun dini karena dianggap tidak kompeten.

Mungkin inilah nasib pamong belajar yang menjadi korban kebijakan sistem buatan pejabat yang alim sekaligus dzolim, mengakibatkan luka hati yang tak terperi, dibiarkan rapuh agar tidak tumbuh. Luka hati itu pun kini sulit sembuh, bahkan tidak mungkin sembuh, kecuali dibunuh. [edibasuki/humasipabi.online]