images (1)Dalam sebuah kesempatan, Pak Ajang mengatakan bahwa banyak SKB yang kalah penampilan dengan PKBM dalam menyelenggarakan program PAUDNI, pamong belajar SKB kalah kreatif  dengan PKBM dalam menjaring “konsumen”. padahal jika dilihat dari gedung, ruang kelas dan beberapa sarana pembelajaran, SKB bisa dibilang cukup memadai daripada PKBM yang kebanyakan masih ndompleng atau menyewa. Begitu juga dengan anggarannya. Pertanyaannya, mengapa Pak Ajang bisa bilang begitu?.  Ngarang untuk menarik perhatian atau berdasarkan fakta?, atau memang SKB serba rikuh, takut melanggar ketentuan yang ditetapkan oleh penguasa otoda. Wallahu a’lam bishowab.

Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian, masih banyak yang tetap berprestasi ditengah keterbatasan dukungan APBD. Salah satunya adalah menyelengarakan program PAUD Terpadu, yang dikelola sedemikian rupa sehingga layak dijadikan program percontohan di wilayah kerjanya. Ini perlu dilakukan mengingat PAUD saat ini sedang naik daun, semua bicara PAUD. Seakan, anak kecil yang tidak disekolahkan di PAUD, maka masa depannya akan suram dan tidak akan terstimuli kepandaiannya seperti aneka teori yang dijejalkan dalam aneka seminar PAUD. Padahal secara empiris belum terbukti bahwa pembelajaran PAUD menjadi jaminan lahirnya generasi top markotop.

Mumpung masyarakat (dan pemerintah) masih mabuk PAUD, tidak ada salahnya jika dijadikan Program unggulan, seperti di SKB Situbondo, salah satunya adalah program PAUD terpadu, dimana dalam satu lokasi ada program PAUD, Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak dan penyelenggaraan TPA (tempat penitipan anak) yang dilakukan secara kreatif oleh pamong SKB.

Dengan adanya penambahan alat permainan edukatif, keberadaan program PAUD terpadu ini semakin diminati oleh masyarakat sekitar. Beberapa pengelola PAUD juga banyak yang belajar ke SKB untuk dikembangkan di daerahnya. Walau tidak terjadwal, pamong belajar SKB juga melakukan pembinaan kepada orang tua yang mengantarkan siswa PAUD dengan memberikan penyuluhan berbagai masalah, khususnya yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak.

Disamping itu, SKB juga mempunyai binaan PAUD di beberapa desa yang perkembangannya cukup menggembirakan, seperti PAUD Mawar di Desa Curah Cotok, PAUD Cempaka di Desa Batal, PAUD Teratai di Desa Carah Tatal, PAUD kusuma Bangsa di Desa Pelehan, PAUD terpencil di Desa Sumber waru, PAUD Dahlia di Desa Ulehan, dan TPA Anggrek, PTP 2 di Desa kayumanis.

Peran pamong belajar SKB disini adalah, melakukan pembinaan rutin sebulan sekali untuk memberikan motivasi dan melihat kemajuannya. Kemudian ada juga pembinaan insidental jika ada masalah yang harus segera diatasi. Disamping itu, pamong belajar juga mencarikan terobosan dalam hal pendanaan, baik dari Propinsi, Dinas Kabupaten maupun BPPAUDNI, terkait dengan penambahan bantuan APE. Selain itu juga mengadakan kegiatan peningkatan mutu pendidik PAUD dan menyelenggarakan Diklat dasar pendidik PAUD, ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kompetensi dan kinerja pendidik PAUD binaan SKB, sekaligus upaya penjaminan mutu program PNF di wilayahnya, paling tidak di kelompok belajar binaannya.

Ya, sesungguhnyalah hampir semua SKB telah memiliki dan menyelenggarakan program PAUD, baik yang masih disubsidi maupun jalur mandiri. Tinggal bagaimana menampakkan gaungnya yang layak dicontoh, agar terdengar oleh Pak Ajang dan kawan-kawannya di Jakarta sana, sehingga anggapan bahwa SKB kalah dengan PKBM bisa dibuang jauh-jauh. Karena sesungguhnyalah jajaran SKB, khususnya pamong belajarnya, telah berbuat semaksimal sesuai tupoksinya dalam memberdayakan masyarakat lewat bidang PAUDNI. Harapannya, mudah-mudahan pemerintah pusat dan pemda setempat berkenan memberikan perhatian yang lebih untuk tumbuh kembangnya program PAUDNI di SKB, wabil khusus pengangkatan pamong belajar baru, untuk menggantikan mereka yang pensiun, mutasi dan mati. Wallahu a’lam bishowab. [eBas/humas-ipabipusat.online]