Oleh Siti Donatirin, SP, M.Pd. *)

DAPAnak usia dini sebagai penerus generasi bangsa tigapuluh tahun ke depan mulai perlu dipikirkan mulai dari sekarang. Bekal yang paling utama bagi mereka adalah pendidikan yang diharapkan nantinya dapat digunakan untuk membangun masa depan bangsa. Pendidikan yang harus diberikan pada anak usia dini adalah pendidikan yang akan mengantar mereka untuk menyukai belajar sepanjang masa dalam semua situasi. Pendidikan yang menyenangkan bagi anak usia dini akan berdampak jauh ke depan, yaitu memberikan  kesenangan pada anak untuk terus belajar.

Konsep pendidikan yang menyenangkan bagi anak, adalah pendidikan yang sesuai dengan perkembangan anak. Pendidikan yang sesuai dengan perkembangan anak diartikan sebagai  pendidikan yang cocok untuk individu dan usia anak.  Tentunya perlu diketahui lebih jelas konsep pendidikan yang sesuai dengan anak, bukan sekedar pendidikan yang tidak menarik minat anak, tetapi  lebih pada membawa anak pada pengalaman-pengalaman langsung, berinteraksi dengan orang-orang dan lingkungan.

Konsep pendidikan yang sesuai dengan perkembangan anak atau sering disebut dengan Developmentally Appropriate Practice (DAP) akan mengubah bentuk pendidikan di seluruh dunia secara umum , termasuk di Indonesia secara khusus. Kelas yang dahulu cenderung tradisional mulai berubah menjadi kelas yang lebih modern dengan design lebih menarik. Pembelajaran sudah tidak lagi berpusat pada guru, namun anak lebih diprioritaskan menjadi pusat pembelajaran. Bukan guru lagi yang aktif memberikan banyak informasi kepada anak, tetapi anaklah yang terlibat aktif dalam mengeksplorasi dan menginvestigasi dunia dan lingkungannya.

A. Prinsip-Prinsip Dasar Perkembangan

DAP berdasarkan pada pengetahuan bagaimana anak berkembang dan belajar. Semua  pendidik anak usia dini perlu memahami apa yang terjadi pada 8 tahun pertama dan bagaimana cara terbaik untukmendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.  Berikut ini adalah prinsip-prinsip dasar perkembangan :

  1. Aspek perkembangan anak – fisik, sosial,emosional, dan kognisi saling berkaitan erat. Perkembangan di salah satu aspek mempengaruhi dan dipengaruhi  oleh perkembangan aspek yang lain. Program anak usia dini harus memenuhi kebutuhan  anak di semua aspek. Kita tidak bisa hanya mengutamakan kognisi saja sementara bahasa diabaikan.  Seseorang akan menggunakan bahasa untuk menunjukkan kemampuan kognisinya, demikian juga  dengan fisik dan sosial emosional berkaitan erat.  Kurikulum untuk anak usia dini harus menggunakan prinsip-prinsip perkembangan anak di semua domain ini.
  2. Perkembangan terjadi di dalam suatu urutan di mana  suatu kemampuan dan ketrampilan  dibangun dari pengalaman sebelumnya. Pertumbuhan dan perkembangan anak pada umumnya dapat diramalkan, tentunya ada variasi antara anak yang satu dengan yang lainnya.   Pemahaman terhadap perilaku dan kemampuan akan memudahkan kita mengamati pola-pola pada umumnya, sehingga memudahkan kita memberikan rangsangan dan dukungan sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak lebih optimal. Perkembangan tidak akan berlanjut dengan baik jika anak dipaksa melompati tahap-tahap yang semestinya dilaluinya. Anak memerlukan waktu untuk melewati proses tahap demi tahap.
  3. Perkembangan bervariasi antara satu anak dengan anak lainnya. Kita perlu berhati-hati agar tidak membandingkan perkembangan  anak pada usia anak yang sama. Setiap anak memiliki pola dan tahapan  perkembangan yang unik yang dipengaruhi oleh faktor keturunan, kesehatan, temperamen individu dan kepribadian, gaya belajar, pengalaman dan latar belakang keluarga yang menciptakan berbagai perbedaan.
  4. Pengalaman awal berpengaruh pada perkembangan setiap anak. Pengalaman memberikan pengaruh pada perkembangan anak selanjutnya. Misalnya : anak yang diberikan kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan sosial melalui bermain dengan teman sebaya akan memiliki rasa percaya diri. Sehingga pada saatnya anak memasuki Sekolah Dasar, anak akan lebih siap.  Pengalaman pada anak usia dini akan menumbuhkan  syaraf-syaraf otak  yang berpengaruh pada perkembangan otak.
  5. Perkembangan melewati proses  yang lebih kompleks, terorganisasi dan terinternalisasi. Perkembangan melewati proses dari perkembangan fisik, sampai pada proses dari sensorimotor ke pengetahuan simbolik.  Program pendidikan anak usia dini yang mengetahui prinsip ini akan memberikan kepada anak pengalaman-pengalaman secara langsung sehingga anak dapat memperluas pengetahuan perilaku mereka. Pendidik perlu menyediakan media dan bahan-bahan yang beragam sehingga anak dapat bertumbuh dalam pemahaman tentang konsep-konsep.
  6. Perkembangan dan pembelajaran terjadi dan dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya yang beragam. Perkembangan anak paling banyak dapat dikenali ketika anak berada di lingkungan keluarga, kemudian lingkungan sekolah, selanjutnya lingkungan komunitas yang lebih luas di sekitarnya. Anak mampu  mempelajari lebih dari satu budaya dan bahasa secara bersamaan jika mendapatkan dukungan.  Bahasa dan budaya yang  diabaikan pada usia dini akan lebih mudah hilang.
  7. Anak adalah pembelajar aktif yang membangun pengetahuan dan memahami dunia di sekeliling mereka dengan pengalaman fisik dan sosial secara langsung. Piaget dan Vygostky menjelaskan bahwa pengetahuan anak diperoleh melalui  interaksi dengan orang lain, bahan-bahan dan pengalaman-pengalaman.  Kelas yang tepat untuk anak usia dini adalah kelas yang menciptakan lingkungan sesuai dengan anak, yaitu dengan menyediakan bahan-bahan (mainan) dan kesempatan berinteraksi. Strategi pendidik  akan mendukung anak untuk belajar secara aktif.
  8. Perkembangan dan pembelajaran adalah hasil dari interaksi kematangan biologis dengan lingkungan, yang  melibatkan  baik lingkungan fisik dan sosial  tempat anak itu berada. Kematangan biologis merupakan fakta yang  berpengaruh pada pembelajaran. Selain itu lingkungan tempat anak tinggal maupun belajar juga berperan dalam mengembangkan anak.  Jadi interaksi antara faktor biologis dan lingkungan sama-sama berperan dalam perkembangan.
  9. Bermain adalah saranan penting untuk mengembangkan ketrampilan sosial, emosional, dan kognisi anak. Melalui bermain anak dapat aktif membangun pengetahuannya. Bermain akan memberikan kesempatan pada anak  untuk memahami dunia berinteraksi dengan anak lain, mengekspresikan dan mengendalikan emosinya, dan mengembangkan kemampuan simboliknya.  Memahami secara utuh apakah bermain itu dan bagaimana peran bermain bagi anak secara menyeluruh  merupakan aspek penting  dari DAP.
  10. Perkembangan akan semakin maju jika anak memiliki kesempatan untuk praktek ketrampilan-ketrampilan yang diperolehnya. Ketika anak berhasil dalam kegiatan-kegiatan bermainnya, anak akan membangun citra dirinya sebagai pembelajar yang berhasil. Karena itu pendidik memilliki peran yang penting untuk menumbuhkan kompetensi dan minat anak dan menyesuaikannya dengan kurikulum pembelajaran. Orang dewasa perlu memberikan dukungan  dan bekerjasama sehingga anak dapat berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya mulai dari yang sederhana sampai ke kompleks.
  11. Anak menunjukkan apa yang mereka ketahui dengan cara yang berbeda-beda. Setiap anak memiliki ”kecerdasan” yang berbeda-beda atau metode-metode yang berlainan untuk memahami dunia mereka. Karena itu pendidik perlu memberikan bermacam-macam pengalaman sehingga setiap anak yang memilki cara belajar yang berbeda-beda dapat menemukan kompetensi yang sesuai dengan diri mereka dan dapat memperkuat area lain yang diperlukan.
  12. Anak dapat belajar dengan baik jika berada di dalam komunitas yang nyaman dan aman dan menghargai mereka serta kebutuhan fisik dan psikologis terpenuhi.
  13. DAP sangat memperhatikan lingkungan yang nyaman dan aman. Nutrisi yang cukup dan kesehatan yang baik serta perhatian terhadap lingkungan yang memberikan kehangatan akan mengembangkan anak dengan baik.

B. Implementasi Dalam Menyusun Program Pendidikan yang Berbasis Tahap Perkembangan

  1. Ciptakan lingkungan yang penuh perhatian, saling peduli, terbuka, dan nyaman untuk belajar

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

a. Tumbuhkan hubungan yang positif dan konsisten dengan anak-anak lain dan orang dewasa (dalam jumlah yang terbatas). Ciptakan kebiasaan saling menghargai dalam ruang kelas sehingga anak juga belajar untuk menghormati dan memahami perbedaan-perbedaan yang ada dan mampu menghargai kelebihan-kelebihan tiap orang.

b. Berikan anak-anak kesempatan untuk bermain bersama, mengerjakan tugas dalam kelompok kecil, berbicara dengan teman-temannya atau orang dewasa. Melalui hal-hal tersebut anak belajar bahwa kelebihan dan minatnya berpengaruh terhadap kelompoknya.

c. Lingkungan belajar harus mempunyai tempat untuk dapat bergerak dan beraktivitas dengan leluasa namun juga menyediakan tempat dimana mereka dapat beristirahat.

d. Berikan anak keleluasan untuk belajar dengan berbagai cara tetapi sediakan juga kegiatan yang terjadawal dan rutin. Adanya kedua faktor ini dalam lingkungan belajar membuat anak memahami bahwa belajar merupakan proses yang dinamis dan terus berubah, namun tidak membuat anak menjadi bingung atau takut karena tetap ada hal-hal/jadwal rutin yang ia ketahui.

  1. Gunakan metode mengajar yang tepat

Anak adalah pembelajar yang aktif. Mereka senang mencari pengalaman sendiri dengan menjelajah dan melakukan eksperimen coba-salah, serta berinteraksi dengan teman-temannya. Meskipun demikian, mereka tetap membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang dewasa. Tugas Anda lah untuk menyeimbangkan kapan anak belajar dengan inisiatif sendiri dan kapan belajar dengan bantuan dari orang dewasa.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

a. Kenali setiap anak dengan baik

  • Dengarkan anak-anak dan berikan tanggapan yang sesuai dengan kebutuhan, minat, karakter, dan kemampuan anak yang berbeda satu sama lain.
  • Lakukan observasi ketika anak-ana sedang bermain spontan dan berinteraksi dengan lingkungan serta anak-anak yang lain. Dari observasi inilah Anda dapat mengetahui minat, kemampuan, dan kemajuan perkembangan mereka yang akan berguna ketika akan menyusun program pendidikan.
  • Ciptakan komunikasi yang baik dengan keluarga.
  • Tanggaplah terhadap tanda-tanda anak tertekan dan atau adanya peristiwa-peristiwa traumatis dalam kehidupannya. Pahami strategi-strategi yang efektif untuk menurunkan stres dan medukung perkembangan daya tahan anak terhadap stres.
  • Ajarkan anak kemampuan mengatur diri sendiri.

b. Ciptakan lingkungan yang tanggap akan kebutuhan anak dan merangsang kecerdasan

  • Sediakan berbagai macam pengalaman, tugas/proyek, material, permasalahan, dan ide-ide yang menarik perhatian anak dan mendorong anak untuk menjelajah dan menyelidiki.
  • Berikan kesempatan bagi anak untuk memilih sehingga ia dapat belaajr mengambil keputusan dan membuat pilihan. Contohnya, memberikan waktu kepada anak di beberapa kesempatan untuk memilih antara berpartisipasi dalam aktivitas sendiri atau kelompok kecil. Ini juga merupakan kesempatan bagi guru untuk membantu dan megarahkan anak-anak yang belum mampu memilih aktivitasnya sendiri.

c. Susunlah rencana belajar dan tujuan-tujuannya untuk setiap disiplin ilmu yang ada dalam kurikulum

  • Gabungkan bermacam-macam pengalaman, material dan strategi mengajar dalam menyusun kurikulum dan sesuaikan dengan pengalaman-pengalaman yang dipunyai anak sebelumnya, tingkat kematangan, gaya belajar, kebutuhan, dan minatnya.
  • Gabungkan bahasa dan budaya dari rumah anak dengan sekolah sehingga setiap anak dapat menyumbangkan keunikannya dan belajar untuk menghargai perbedaan yang ada.
  • Persiapkan diri untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk anak-anak dengan kecacatan dan mereka yang menunjukkan minat dan ketrampilan yang tidak biasa. Dalam hal ini, Anda harus menggunakan segala strategi, menghubungi ahli yang tepat, dan memastikan anak mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.

d. Doronglah anak untuk bekerjasama menyelesaikan tugas dengan teman-temannya

  • Doronglah anak untuk bekerjasama tetapi jangan menjadi terlalu dominan atau justru mengambil alih, sehingga anak akan kehilangan minatnya.
  • Acaklah kelompok anak sehingga mereka mendapatkan teman kerja yang berbeda-beda.

e. Gunakan berbagai macam strategi mengajar

  • Berikan kesempatan anak untuk memilih dan membuat rencana untuk aktivitas belajar agar mereka belajar berinisiatif.
  • Ajukan pertanyaan dan komentar yang merangsang anak berpikir.
  • Berikan perhatian dan dukungan dalam berbagai bentuk seperti pujian dan kedekatan fisik (misal: membelai kepala anak, memeluk, dll).
  • Sesuaikan derajat kesulitan dengan tingkat ketrampilan dan pengetahuan anak agar anak menjadi percaya diri bila berhasil mengejakan tugas-tugasnya.
  • Berikan tantangan dan juga petunjuk untuk tugas-tugas sulit agar anak termotivasi dan berani mengambil resiko.
  • Berikan waktu dan kegiatan untuk mengulang kembali hal-hal yang telah dipelajari.

f. Kembangkan kemampuan anak untuk bertanggung jawab dan mengatur diri

  • Tetapkan standar perilaku yang diharapkan dan peraturan-peraturan yang jelas, konsisten, dan masuk akal. Ajak anak bersama-sama membuat peraturan, sehingga akan membuatnya lebih patuh dalam mentaatinya.
  • Arahkan perilaku anak dan ingatkan akan peraturan-peraturan yang telah disepakati bersama.
  • Amati, dengarkan dan cari tahu permasalahan utama dari anak-anak yang bermasalah, serta berikan contoh bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri.

 

  1. Susunlah kurikulum yang tepat

a. Buat tujuan kurikulum yang realistik.

b. Susun kurikulum yang meliputi semua aspek perkembangan anak yaitu: fisik, emosi, sosial, bahasa, seni dan kognitif.

c. Perkuat pengetahuan dan ketrampilan yang telah dipunyai anak-anak tetapi juga tambahkan pemahaman konsep dan ketrampilan-ketrampilan baru.

d. Gabungkan berbagai topik pembelajaran agar anak belajar melihat dan menghunbungkan berbagai macam konsep. Contohnya, mintalah anak mencari berbagai macam benda alam di halaman sekolah dan menghitung berapa yang berhasil ia kumpulkan. Kegiatan ini menggabungkan pelajaran sains dengan matematika.

e. Jangan hanya memberikan informasi, berikan anak kesempatan untuk mempraktekkan pengetahuannya.

f. Berikan berbagai macam bentuk tugas, seperti: mengadakan percobaan ilmiah, menulis, mempraktekkan, menyelesaikan soal-soal Matematika, mengumpulkan dan menganalisa data, dan mengumpulkan keterangan dengan bertanya.

g. Ajarkan anak beradaptasi dengan budaya yang digunakan di sekolah.

h. Manfaatkan teknologi, seperti: komputer dan permainan elektronik.

  1. Buatlah evaluasi atas proses dan hasil belajar anak

Ingatlah hal-hal berikut ini dalam melakukan evaluasi:

a. Evaluasi meliputi apa yang bisa dilakukan anak secara mandiri dan apa yang dapat dikerjakannya dengan bantuan anak atau orang dewasa lain.

b. Gunakan hasil evaluasi untuk mengetahui sejauh mana anak berkembang dan untuk perbaikan kurikulum di kemudian hari. Evaluasi tidak digunakan untuk memberi label/cap yang justru akan merugikan anak. Evaluasi yang digabungkan dengan asesmen dan observasi dapat digunakan untuk mengenali dan menangani anak berkebutuhan khusus.

c. Sesuaikan metode evaluasi dengan usia anak. Untuk anak-anak usia dini evaluasi lebih menekankan pada hasil observasi, data-data, hasil kerja, tindakan-tindakan mereka dalam kegiatan-kegiatan bebas, dan masukan dari keluarga.

d. Jangan membuat keputusan yang berdampak besar pada anak, seperti penerimaan siswa dan penempatan bersasarkan satu evaluasi saja. Perlu sekali menggabungkan informasi mengenai anak dari berbagai sumber yang tepat dan terutama dari hasil observasi.

d. Dalam mengevaluasi, pertimbangkan keunikan tiap-tiap anak dalam gaya dan kecepatan belajar.

 

C. Hasil DAP Dibandingkan Praktek Pembelajaran yang Tidak DAP

Banyak pendidik yang sangat peduli pada DAP, karena banyak keuntungan yang diperoleh ketika DAP diterapkan dalam pendidikan anak usia dini. Ada 4 hal penting yang diperoleh anak, yaitu : harga diri, kontrol diri, stress dan pola akademis selanjutnya.

  1. Harga diri

DAP harga diriAnak akan bisa menghargai dirinya sendiri ketika ia  berhasil melakukan sesuatu yang penting bagi dirinya maupun bagi orang lain.  Kata kunci untuk keberhasilan adalah ”menguasai”. Ketika anak tidak menguasai suatu tugas yang diberikan, maka anak akan merasa kesulitan untuk menyelesaikannya.  Jika tidak dapat menyelesaikannya, maka di dalam diri anak muncul perasaaan tidak berhasil. Hal ini akan berpengaruh pada penurunan rasa percaya diri anak. Pendidik anak usia dini perlu memperhatikan tugas-tugas yang akan diberikan kepada anak. Tugas harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Tugas-tugas yang terlalu akademis dan mementingkan  aspek kognitif saja  jika diberikan terlalu dini akan membuat anak merasa tidak mampu.  Pengalaman negatif semacam itu  menimbulkan pengaruh pada perkembangan harga diri anak.

Kata kunci yang lain adalah ”bermakna”.  Jika kita mengharapkan anak menguasai tugas yang tidak bermakna bagi anak sebagai individu, anak akan merasakan kurang puas di dalam mengerjakannya, meskipun ia berhasil menyelesaikannya. Menghafal ketrampilan-ketrampilan yang abstrak sangat jauh dari minat alami anak dan keingintahuan anak.  Riset menunjukkan bahwa anak di dalam kelas yang berpusat pada anak memiliki harapan-harapan yang tinggi  untuk kesuksesan mereka, anak akan kurang tergantung pada orang dewasa, dan memiliki kemauan untuk mencoba mengerjakan tugas-tugas akademis.

  1. Kontrol diri.

Begitu anak matang secara kognitif, maka anak secara perlahan-lahan mulai dapat mengatur perilakunya sesuai dengan  petunjuk yang diterimanya dari orang dewasa. Jika orang dewasa terlalu banyak berperan dalam kehidupan anak, anak akan memiliki sedikit kesempatan  untuk belajar  dan menginternalisasi informasi yang mereka perlukan untuk secara bertahap mengontrol hidup mereka.

DAP kontrol diriSemua pendidik anak usia dini percaya bahwa anak perlu belajar disiplin  dalam bentuk batasan-batasan perilaku dan dorongan. Perbedaan antara teknis petunjuk perkembangan yang sesuai dan tidak sesuai adalah seberapa jauh orang dewasa memilih teknik  yang sesuai dengan  apa yang diketahui dari kemampuan belajar anak.  Orang dewasa tampaknya lebih cenderung menggunakan teknik kekuatan disiplin  ketika mereka tidak memahami kemampuan perkembangan  dan keterbatasan anak  di dalam berbahasa, mengemukakan alasan dan ketrampilan menilai atau kemampuan berpikir secara mental. Kontrol diri hanya dapat bertumbuh pada saat anak  memahami dan mengalami alasan mengapa dia  harus berperilaku seperti itu, daripada sekedar dilarang dan diminta berhenti melakukan sesuatu.

Pengaruh dari kedisiplinan yang tidak sesuai dengan usia perkembangan  berdasarkan perilaku mendatang  menunjukkan  bahwa ketika di SD (kelas 3) anak menjadi lebih agresif, bermusuhan, suka menyerang, mudah cemas dan takut serta hiperaktif dibandingkan anak yang semasa pra sekolahnya mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan usia perkembangan. Anak yang mendapatkan penerapan DAP di lembaga pra sekolahnya terlihat lebih kooperatif dibandingkan yang tidak.

Belajar untuk menentukan pilihan yang baik merupakan komponen penting dari disiplin diri.  Lingkungan dan interaksi  yang mendukung anak  dalam memilih sangat penting untuk mendapatkan kontrol diri yang sehat.

  1. Stress

Banyak psikolog yang mengatakan bahwa anak usia dini sekarang banyak yang beresiko tinggi.  Hal ini disebabkan sejak dini anak-anak sudah berada dalam situasi yang kompetitif seperti pelajaran-pelajaran yang khusus, paksaan untuk menyelesaikan masalah , mempersiapkan pelajaran-pelajaran akademis untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, perubahan cepat di dunia orang dewasa dan kondisi terpaksa memiliki orangtua tunggal  membuat anak terkena dampak dari tekanan-tekanan tersebut.

DAP stressKetika anak diminta mempelajari  hal-hal yang berlawanan dengan cara anak belajar secara alami, mereka akan mengalami  konflik antara keinginan  mereka dan sistem yang  yang dipaksakan oleh orang dewasa. Untuk bisa menyenangkan orangtua dengan cara menuruti keinginan mereka, maka anak harus berusaha keras untuk  mengontrol perilaku mereka. Sebagai contoh : seorang anak berusia 5 tahun  yang secara fisik tampaknya tidak bisa duduk dan mendengarkan guru, atau anak usia 18 bulan yang bisanya senang memanjat dan berjalan ke mana-mana.

Anak yang berada di dalam kelas DAP  merasa lebih nyaman dibandingkan anak yang belajar di kelas belum menerapkan DAP.  Anak-anak akan lebih stress jika harus menghadapi buku kerja, menunggu atau dalam kegiatan transisi. Bahkan sering anak menjadi sangat cemas karena tidak  bisa menyalin huruf yang ditunjukkan guru, membedakan huruf yang satu dengan yang lainnya atau menulis tidak dengan bentuk tulisan yang tepat. Hal tersebut sama stress nya dengan anak usia 1- 2 tahun yang disuruh duduk di dalam kelas memperhatikan guru, sementara usia mereka adalah usia menjelajah  yang cenderung bergerak di dalam ruangan dan  membongkar apa saja yang ditemuinya.

  1. Pola akademis selanjutnya

Anak cenderung dipaksa untuk belajar lebih dini ketrampilan akademis seperti membaca dan  menulis dengan cara-cara yang tidak menyenangkan untuk memenuhi harapan orangtua. Mereka harus banyak berlatih menulis, mendapatkan ”drilling” dari aneka huruf, dsb. Dengan latihan yang terus menerus dan teratur, tentunya a pada akhirnya anak akan bisa ”menguasai” hal-hal yang diajarkan.  Namun perlu diingat, bahwa anak yang mendapatkan pembelajaran yang tidak sesuai dengan usianya, dapat mengalami kemunduran dalam pembelajaran di sekolah dasar nanti.

Kenyataannya,  bukti-bukti menunjukkan bahwa lebih baik menunda daripada mempercepat anak untuk mempelajari  hal-hal akademis yang abstrak. Menunda lebih berdampak positif dibandingkan memaksa anak belajar lebih awal. Pada anak-anak yang banyak belajar menggunakan DAP ternyata di SD tidak mengalami perbedaan dengan anak-anak yang belajar tidak sesuai DAP. Jadi, jika tidak ada perbedaan antara pembelajaran dengan DAP atau bukan DAP dalam hal kesuksesan di jenjang SD (khususnya kelas 1 & 2) , maka tidaklah beralasan bagi pendidik anak usia dini untuk  memaksakan pembelajaran-pembelajaran yang kurang menyenangkan bagi anak.

 D. Contoh Implementasi DAP

Tidak sesuai DAP Sesuai DAP
Semua anak melakukan aktivitas yang sama di saat yang sama

 

Anak difasilitasi untuk

Melakukan hal yang beragam sesuai minat dan kebutuhannya

Guru berperan memberi instruksi, memerintah Guru berperan sebagai fasilitator

 

Banyak waktu digunakan anak untuk duduk, mendengarkan, mengerjakan tugas yang diperintahkan

 

Anak bergerak dengan aktif, melakukan eksplorasi, memunculkan inisiatif, menemukan problem solving, berkomunikasi aktif
Materi yang digunakan lebih banyak kertas dan Pensil (worksheet)

 

Banyak penggunaan benda konkrit yang dekat dengan kehidupan anak

dan bermakna

Jadual disusun untuk memenuhi kebutuhan guru agar anak menyelesaikan tugasnya.

 

Jadual bisa bersifat fleksibel sesuai dengan pemenuhan minat anak.

 

Fokus pada produk belajar, menyempitkan belajar berdasarkan target yang sama untuk setiap anak dalam kurun waktu tertentu Setiap anak memiliki tujuan belajar yang berbeda, sesuai dengan kekuatan dan keterbatasannya.

 

 

 E. Penutup

Pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak harus memberikan kesempatan pada anak untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman yang interaktif daripada sekedar pengalaman yang pasif, menerima dan reaktif.  Semakin muda seorang anak,  maka ia lebih banyak memerlukan pengalaman secara langsung dan nyata. Oleh karena itu pembelajaran yang sesuai dengan DAP harus mengijinkan anak  untuk mengalami proses pembelajaran yang sesuai dengan keunikan individu dan usia anak.

Pembelajaran yang sesuai DAP harus dimulai dari filosofi yang benar tentang pendidikan anak usia dini yang kemudian melalui pendekatan yang sesuai, maka kurikulum dapat dirancang untuk memenuhi minat dan kebutuhan anak. Unit plan dan lesson plan pun dapat disusun berdasarkan pada kurikulum yang sesuai dengan DAP.

Memberikan kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan orang lain memberikan kesempatan pada anak untuk memperkuat disposisi anak dengan mengembangkan pendidikan yang melibatkan hati dengan pikiran (engaging Mind and Heart).

 

Daftar Pustaka

Bredecamp, Sue, Teresa Rosegrant. Reaching Potentials: Appropriate Curriculum and Assessment for Young Children vol. 1, Washington D.C.: NAEYC. 1992

Gestwicki, Carol. Developmentally Appropriate Practice, Curriculum and Development in

Nur Cholimah. 2015. Makalah Pelatihan Pemahaman Developmentally Appropriate Practice. Universitas Negeri Yogyakarta: PG-PAUD

 

Siti Donatirin*) Siti Donatirin, M.Pd. adalah Pamong Belajar Muda pada Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Daerah Istimewa Yogyakarta