Oleh Bais Jajuli Sidiq

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 angka 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dalam perkembangannya, masyarakat telah menunjukkan kepedulian terhadap masalah pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan anak usia dini.

Usia dini dimulai dari sejak lahir (umur 0 tahun) sampai dengan 6 tahun. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan dengan berbagai jenis layanan pendidikan, baik dalam jalur pendidikan formal maupun non formal. Penyelenggaraan PAUD jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK)/Raudhatul Atfal (RA) untuk anak usia 4 s/d ?6 tahun. Sedangkan penyelenggaraan PAUD jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB) dan bentuk lain yang sederajat, menggunakan program untuk anak usia 2 – <4 tahun dan 4 – ?6 tahun. Taman Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD Sejenis untuk anak usia 0 – <2 tahun, 2 – <4 tahun, dan 4 – ?6 tahun. SPS (Satuan PAUD Sejenis) adalah Bentuk-bentuk layanan PAUD lainnya yang penyelenggaraannya dapat diinterintegrasikan dengan berbagai layanan anak usia dini yang ada di masyarakat seperti Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), BKB (Bina Keluarga Balita), TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an), TAPAS (Taman Pendidikan Anak Soleh), SPAS (Sanggar Pendidikan Anak Soleh), Bina Anaprasa, PAK (Pembinaan Anak Kristen), BIA (Bina Iman Anak Katolik), dan semua layanan anak usia dini yang berada di bawah binaan lembaga agama lainnya; serta semua kelompok layanan anak usia dini yang berada di bawah binaan organisasi wanita/organisasi kemasyarakatan. Salah satu bentuk program SPS adalah Pos PAUD, yaitu program PAUD yang diintegrasikan dengan layanan Posyandu dan BKB.

Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. (UU No.20 Tahun 2003, PSL 39 (2)). Pendidik merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasarannya adalah peserta didik didik.

Guru PAUD biasa dikenal dengan pendidik PAUD merupakan orang yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, serta lingkungannya. Karena itulah, pendidik PAUD harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu yang mencakup kompetensi pedagogi, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Selain itu, pendidik PAUD harus mampu mengambil keputusan secara mandiri dalam berbagai hal yang berkaitan dengan pembelajaran, serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan belajar. Pendidik bertindak secara cepat dan tepat dalam mengatasi masalah proses pembelajaran tanpa harus menunggu perintah dari atasan atau kepala sekolah.

Peserta didik juga harus memiliki kompetensi sosial sebagaimana pendidiknya, hal ini karena pendidik dan peserta didik hidup di lingkungan sosial yang sama. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jadi yang bertanggung jawab terhadap peserta didik di lingkungan keluarga adalah orang tua, di lingkungan sekolah adalah pendidik atau guru, dan di lingkungan masyarakat adalah orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pendidikan masyarakat.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan pendidikan pada masa emas perkembangan anak dimana semua aspek perkembangan anak dapat dengan mudah distimulasi. Periode emas ini hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia. Oleh karena itu, pada masa dini perlu dilakukan upaya pengembangan menyeluruh yang melibatkan aspek pengasuhan, kesehatan, pendidikan dan perlindung (holistik integratif).

Menurut Permen no 137 tahun 2014 tentang standar nasional pendidikan anak usia dini, Kompetensi pendidik PAUD (guru, guru pendamping, dan guru pendamping muda) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Untuk kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional telah banyak ditingkatkan melalui program pendidikan baik dari pemerintah maupun asosiasi, tetapi kompetensi sosial akan efektif dengan pembimbingan masih jarang dilakukan.

Kompetensi sosial adalah kompetensi pendidik dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Seorang pendidik harus berusaha mengembangkan komunikasi dengan orang tua, peserta didik sehingga terjalin komunikasi dua arah dengan orang tua, peserta didik sehingga terjalin komunikasi dua arah yang berkelanjutan. Dengan adanya komunikasi dua arah peserta didik dapat dipantau, secara lebih dan dapat dipantau lebih efektif pula.

Kompetensi  sosial haruslah dimiliki seorang pendidik. Pendidik harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dengan peserta didik, sesama pendidik, kepala sekolah, dan masyarakat sekitarnya.

Dalam standar nasional pendidikan pasal 28 ayat (3) butir d dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini juga membiasakan agar para pendidik PAUD dapat membangun kerjasama yang efektif, saling membantu dan bergotong-royong, serta berempati pada sesama.

Kompetensi Sosial merupakan kemampuan seseorang dalan bersosialisasi dengan masyarakat di lingkunganya. Kompetensi ini terdiri dari:

  1. Bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
  2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
  3. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.
  4. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

Pengembangan kompetensi sosial dimulai dengan mengenal karakter individu di dalam kelompok sosial tertentu. Kompetensi sosial pendidik PAUD dapat dikembangkan dengan dengan mengenal karakter individu didalam kelompok sosial di lingkungan lembaga PAUD atau masyarakat sekitar tempat tinggal. Sampai saat ini peningkatan mutu pendidik PAUD dalam hal peningkatan kompetensi profesional, kompetensi pedagogi, atau beberapa kompetensi kepribadian telah banyak dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun swasta, baik melalui diklat, workshop, seminar, atau kegiatan sejenis. Namun untuk peningkatan mutu kompetensi sosial belum banyak dilakukan. Pamong belajar dan penilik juga belum sepenuhnya melakukan pembelajaran tentang kompetensi sosial terhadap pendidik PAUD. Padahal salah satu pendukung tercapainya mutu hasil belajar dan mutu sosial peserta didik PAUD juga ditentukan oleh tauladan sosial dari pendidik PAUD.

Strategi Pembimbingan

Pembimbingan dapat berupa kegiatan bimbingan (guidance), konseling (counseling), pendampingan (coaching), mentoring, dan pendidikan dan latihan (training). Kegiatan ini dapat dilakukan secara individual ataupun kelompok. Untuk kegiatan pembimbingan yang bersifat individual dapat dilakukan dengan guidance, counseling, coaching, auaupun mentoring, sedangkan pembimbingan secara kelompok dapat dilakukan melalui diklat ataupun kegiatan yang sejenis, seperti workshop, diskusi, ataupun sarasehan.

Pembimbingan diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang terjadi pada lingkup pengelolaan lembaga PAUD ataupun pembelajaran dan pengasuhan dalam PAUD agar mutunya memenuhi standar yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Kegiatan pembimbingan untuk pengendalian mutu PAUD, baik terhadap pengelola maupun pendidik PAUD.

Dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang yang mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar yang harmonis dan bersahabat. Dalam keadaan ini seseorang peserta dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, untuk mencapai kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Selanjutnya peserta juga dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004).

Perbedaan mendasar antara Coaching dan Counseling adalah :

Coaching fokus mengajarkan berbagai keterampilan teknis dan non teknis kepada karyawan (dalam hal ini pengelola atau pendidik PAUD) dan menunjukkannya sesuai prosedur yang ditetapkan. Artinya, sang pembimbing (konselor) adalah sang ahli (expert), bukan hanya mengajarkan tapi juga bisa mendemonstrasikan teknisnya.

Counseling fokus membantu karyawan (dalam hal ini pengelola atau pendidik PAUD) untuk mengelola permasalahan mereka sendiri dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri. Artinya, sang pembimbing hanyalah seorang fasilitator, dan bisa jadi pembimbing belum pernah mengalami masalah serupa. (dalam http://istilah-humanresource.blogspot.co.id/2011/12/apa-itu-coaching-counseling. html)

Agar sumber daya manusia di lingkungan PAUD dapat mencapai sasaran kerjanya sesuai standar pendidikan anak usia dini, penilik dan pamong belajar  berkewajiban untuk membantu setiap mereka dengan cara memberikan counseling, coaching dan mentoring.

Coaching adalah suatu cara untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kapasitas seseorang, sehingga berhasil mencapai sasaran kerjanya secara optimal. Coaching dapat dilakukan kapan saja pembimbing apabila merasa diperlukan, tidak bergantung pada jadual tertentu.

Counseling adalah teknik untuk meningkatkan efektifitas perilaku dan sikap mental agar sesuai dengan kebutuhan profesionalisme pekerjaannya. Konseling dilakukan apabila setelah coaching dilakukan tidak terjadi perubahan atau peningkatan kinerja dari bawahannya. Konseling lebih mengarah pada aspek psikologis dari individual, sehingga untuk melaksanakan konseling seorang pembimbing perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan untuk memahami kebutuhan-kebutuhan psikologis peserta calon bimbingan.

Sedangkan mentoring merupakan sebuah metode yang bersifat pengalaman individual yang mencoba membagikan pengetahuan dan keterampilan serta kompetensinya kepada seseorang yang mempunyai pengalaman kerja lebih sedikit dengan situasi hubungan yang penuh kepercayaan dan menguntungkan. Mentoring meliputi coaching, counseling, and networking. Mentors atau pembimbing adalah seseorang yang melalui tindakan dan pekerjaannya membantu orang lain untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

Calon Peserta Pembimbingan

Calon peserta pembimbingan adalah pendidik PAUD yang terdiri dari guru PAUD dan guru pendamping, termasuk guru PAUD formal (guru TK), dan guru pendamping muda.

Kriteria calon peserta pembimbingan adalah:

  1. Memiliki masalah yang terkait dengan belum tercapainya kompetensi sosial guru PAUD atau guru pendamping termasuk guru TK dan guru pendamping muda yang diketahui dari hasil identifikasi, penilaian, dan atau monitoring.
  2. Bersedia menjadi peserta pembimbingan yang ditunjukan dengan surat pernyataan kesanggupan.
  3. Mau menerima persyaratan pembimbingan yang direncanakan oleh pembimbing yang ditunjukkan dengan pernyataan menyetujui persyaratan pembimbingan yang dibuat oleh pembimbing dan disepakati bersama.
  4. Sedang berprofesi sebagai guru PAUD atau guru pendamping, termasuk guru TK dan guru pendamping muda yang tercatat di lembaga PAUD.

Pengelolaan Pembimbingan

Pengelolaan dilakukan oleh lembaga penyelenggara pembimbingan baik pemerintah maupun non-pemerintah, atau dilakukan oleh perorangan yang memiliki tugas pokok dan fungsi melakukan pembimbingan. Pengelolaan penyelenggaraan pembimbingan dapat dilakukan secara individual atau kelompok. Adapun yang dapat melakukan pengelolaan penyeleggaraan pembimbingan sebagai berikut:

  1. Pamong Belajar
  2. Penilik PAUD
  3. Pengawas TK
  4. Pengelola Lembaga PAUD
  5. Akademisi
  6. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, serta;
  7. Lembaga pemerintah atau non-pemerintah yang berhubungan dengan pendidikan anak usia dini.

Pengelolaan penyelenggaraan pembimbingan oleh pemerintah dapat dilakukan oleh instansi pembina lembaga PAUD secara langsung yaitu Dinas Pendidikan di kabupaten/kota melalui penilik PAUD, ataupun UPTD Sanggar Kegiatan Belajar atau Balai Pengembangan Kegiatan Belajar melalui pamong belajar dan atau menunjuk orang yang bertugas fungsi melakukan pembimbingan terhadap pendidik PAUD.

Disamping itu pengelolaan pembimbingan juga dapat dilakukan oleh instansi pembina yang lebih tinggi dari tingkat provinsi ataupun tingkat nasional dengan menunjuk orang yang bertugas fungsi melakukan pembimbingan terhadap pendidik PAUD sebagai pembimbing.

Pengelolaan pembimbingan juga dapat dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat, lembaga swasta, ataupun pemerhati pendidikan anak usia dini dengan menunjuk orang yang bertugas fungsi melakukan pembimbingan terhadap pendidik PAUD.

Pengelolaan pembimbingan yang utama merupakan pengorganisasian penyelenggaraan pembimbingan secara menyeluruh yang dapat dilakukan menggunakan kegiatan terprogram menggunakan anggaran dari pemerintah atau swasta, dan atau secara pribadi melakukan pembimbingan terhadap pendidik PAUD karena menjalankan tugas pokok dan fungsinya dalam jabatan tertentu, misalnya penilik PAUD, pengawas TK, dan pamong belajar.

Pamong Belajar sebagai Pembimbing

Pembimbing dipilih sesuai kriteria sebagai berikut:

  1. Diutamakan bagi pamong belajar yang menduduki jabatan Pamong Belajar Madya
  2. Mampu melakukan kegiatan pembimbingan dengan kaidah yang benar.
  3. Berkontribusi nyata terhadap peningkatan mutu PAUD melalui kompetensi sosial PTK PAUD sesuai perencanaan pembimbingan.
  4. Mampu menyusun silabus bimbingan
  5. Mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Bimbingan (RPB)
  6. Mampu menyusun laporan pelaksanaan bimbingan
  7. Diutamakan pendidikan minimal S1.

Kompetensi sosial Pendidik PAUD

Dalam pembimbingan kompetensi sosial ini dilakukan pengukuran ataupun penilaian. Setiap selesai melakukan pembimbingan, pembimbing melakukan evaluasi untuk mengukur ketercapaian hasil bimbingan. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan wawancara, test tulis, maupun dengan unjuk kerja tindakan nyata pasca bimbingan.

Menurut Permendiknas Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini, Kompetensi sosial guru PAUD seperti dalam tabel berikut:

 

KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
A.      Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, suku, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi

 

1.      Bersikap inklusif dan objektif terhadap anak usia dini, teman sejawat dan lingkungan sekitar dalam melaksanakan pembelajaran

2.      Bersikap tidak diskriminatif terhadap anak usia dini, teman sejawat, orang tua, dan masyarakat lingkungan sekolah

B.      Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat

 

1.      Membangun komunikasi dengan teman sejawat dan komunitas lainnya secara santun, empatik, dan efektif

2.      Membangun kerja sama dengan orang tua dan masyarakat dalam program pengembangan anak usia dini

C.      Beradaptasi dalam keanekaragaman sosial budaya bangsa Indonesia

 

1.      Beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik, termasuk memahami budaya daerah setempat

2.      Melaksanakan berbagai program peningkatan kualitas pendidikan berbasis keanekaragaman sosial budaya Indonesia

D.     Membangun komunikasi profesi

 

Menggunakan beragam media dan komunitas profesi dalam berkomunikasi dengan rekan seprofesi

 

Sedangkan kompetensi sosial guru pendamping dalam tanel berikut:

KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
A.      Beradaptasi dengan lingkungan

 

1.      Menyesuaikan diri dengan teman sejawat

2.      Menaati aturan lembaga

3.      Menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar

4.      Akomodatif terhadap anak didik, orang tua, teman sejawat dari berbagai latar belakang budaya dan sosial ekonomi

B.      Berkomunikasi secara efektif

 

1.      Berkomunikasi secara empatik dengan orang tua peserta didik

2.      Berkomunikasi efektif dan empatik dengan anak didik, baik secara fisik, verbal maupun non verbal

Struktur materi pembimbingan terdiri materi  yang menjadi isi pembelajaran dan  bimbingan. Materi bimbingan disesuaikan dengan kebutuhan belajar peserta bimbingan.

Proses Pembimbingan

Untuk mengetahui kebutuhan bimbingan peserta pembimbingan, terlebih dulu dilakukan identifikasi kebutuhan belajar calon peserta pembimbingan dan kebutuhan sarana belajarnya.

Identifikasi kebutuhan belajar calon peserta pembimbingan adalah untuk upaya mempermudah merencanakan pembimbingan yang sesuai agar dapat menyelesaikan masalah-masalah kompetensi sosial peserta, sehingga mampu mencapai standar PAUD. Langkah ini merupakan prosedur untuk mendapatkan data dan informasi yang terkait tentang keadaan riil calon peserta termasuk sikap-sikap sosial yang sering dilakukan oleh peserta tersebut menurut orang-orang disekitarnya. Hal ini sangat penting karena akan dipakai dalam penyusunan rancangan pembimbingan.

Dalam pembimbingan harus dilakukan proses bimbingan. Kegiatan pembimbingan ini dilakukan dalam 2 (dua) bentuk yaitu perorangan (individual) dan kelompok. Pembimbingan juga dilakukan dengan tatap muka, klasikal, dan atau  latihan mandiri. Penjelasannya sebagai berikut:

1. Perorangan (individual)

Pembimbingan secara perorangan merupakan suatu kegiatan dalam upaya memberikan bimbingan secara individu sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta.

Bimbingan Perorangan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu peserta yang bermasalah guna mengentaskan masalahnya, demi tercapainya tujuan. Bimbingan perorangan dilakukan dengan wawancara interpersonal antara pembimbing dengan peserta bimbingan.

a. Langkah-langkah Bimbingan

Williamson juga menyarankan langkah-langkah dalam bimbingan secara berturut-turut, yaitu : analisis, sintesis, diagnosis, prognosis, treatment,  dan follow-up. Selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Analisa, yaitu pengumpulan data, fakta dan informasi tentang diri peserta bimbingan
  • Sintesa, yaitu merangkum dan menyusun data untuk memperoleh ganbaran diri peserta bimbingan
  • Diagnosa, yaitu merumuskan kesimpulan sementara tentang hakekat atau sebab yang dihadapi
  • Prognosa, yaitu ramalan tentang hasil yang dicapai dalam proses bimbingan
  • Treatment, yaitu proses bimbingan

b. Follow up, yaitu mengevaluasi hasil bimbingan yang telah dilakukan dan mengambil langkah selanjutnya

c. Percatatan Bimbingan, yaitu proses layanan bimbingan hendaknya dicatat dengan baik dalam satu buku dan ditempatkan pada tempat yang cukup rahasia.

2. Tatap muka (klasikal)

Dalam pembelajaran ini dilakukan tatap muka antara pembimbing dan peserta pembimbingan. Adapun hal-hal yang harus direncanakan adalah:

  • Pola pembelajaran; mengikuti pendekatan pembimbingan berbasis kompetensi (Competency Based Training) maka pola pembelajaran yang digunakan adalah 70 – 80 % materi teknis keahlian dan 20 – 30 % materi kompetensi umum serta 90% materi teknis digunakan metode praktik .
  • Pendekatan pembelajaran sebaiknya menggunakan pendekaran andragogi partisipatif, maksudnya pembelajaran yang menerapkan konsep pembelajaran untuk orang dewasa dan mengoptimalkan keterlibatan kemampuan, pengalaman, potensi inovasi (karya baru), daya kreatif, serta peran aktif peserta pembimbingan.
  • Metode yang digunakan dalam pembelajaran antara lain; ceramah, diskusi, tanya jawab, penugasan, simulasi, dan praktik. Dalam pembelajaran sebaiknya dipakai gabungan beberapa metode.

 3. Mandiri

Dalam pembelajaran ini setiap peserta melakukan belajar secara mandiri menggunakan bahan ajar, media, atau sember belajar lain yang mendukung isi materi.  Adapun hal-hal yang harus dipersiapkan dalam belajar madiri adalah:

  • Sumber belajar harus tersedia. Sumber belajar dapat berupa bahan ajar, media, buku-buku referensi, televisi, surat kabar, dan atau video yang berisi materi ajar.
  • Menyediakan waktu secara khusus dengan jadwal yang jelas.
  • Metode yang digunakan adalah membaca, mencatat, melihat, mendengarkan, dan latihan mandiri.
  • Untuk belajar mandiri memerlukan waktu yang lebih lama yaitu 3 (tiga) kali lipat dari waktu tatap muka.
  • Untuk mengefektifkan belajar mandiri, pembimbing dapat memberikan penugasan atau latihan di rumah.

 Simpulan

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru PAUD sebagai bagian dari masyarakat, sekurang-kurangnya meliputi (1) berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat, (2) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional,(3) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik, (4) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku, dan (5) menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan.

Melaksanakan sistem pendidikan nasional sistem pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pemberdayaan profesi guru PAUD diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, keahlian, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemukan bangsa dan kode etik profesi.

Suatu pekerjaan profesional jelas memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Sehingga yang dimaksud dengan guru PAUD profesional adalah guru PAUD yang memiliki keahlian, kemahiran, atau kecakapan dalam mendidik, membelajarkan, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi peserta didik.

Pengakuan dan kedudukan guru PAUD sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Jadi sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru PAUD sebagai tenaga profesional.

Referensi

Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini

Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Rineka Cipta

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Coaching, Counseling & Mentoring diunduh dari http://www.pelatihan-sdm.net/coaching-counseling-mentoring/

 

aku blangkonan 2Bais Jajuli Sidiq adalah pamong belajar muda pada Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Daerah Istimewa Yogyakarta.