AAA 13502034_10201669096245120_3128215579564073790_nDalam sebuah diskusi, dikatakan bahwa pendidikan dalam keluarga merupakan segala usaha yang dilakukan oleh orang tua melalui pembiasaan untuk membantu perkembangan anak tentang kehidupan yang dialami orang tuanya, masyarakatnya dan lingkungan sosialnya, seperti dalam konsep pendidikan informal yang berlangsung begitu saja secara alami sesuai kearifan lokal setempat.

Dari sinilah konon akan tercipta kehidupan keluarga yang penuh kasih sayang, saling menghargai. Lingkungan keluarga yang bersahabat akan membantu menyiapkan anak menghadapi masa depan yang sehat ceria. Namun demikian, perkembangan anak, termasuk psikologisnya, juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan informasi.

Entah menukil dari mana, seorang peserta diskusi mengatakan, Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama dalam tumbuh kembang anak, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak berada di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah keluaga dan saudaranya yang tinggal serumah.

Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota kelurga yang lain.

Keterlibatan sekolah pun dalam membumikan konsep gerakan pendidikan keluarga, diharapkan sebagai motivator, fasilitator dan pemicu munculnya upaya-upaya mandiri dari orang tua murid dalam kiprahnya membantu proses belajar mengajar.

“Untuk itulah diperlukan kesadaran orang tua akan pentingnya pengasuhan anak yang sehat dengan cara membangun visi misi keluarga, memahami perkembangan anak, menjalankan komunikasi efektif serta mempunyai waktu luang untuk bercengkerama dengan anaknya.” kata peserta diskusi sambil terkantuk kantuk.

Dalam konsep yang dikeluarkan oleh direktorat pembinaan pendidikan keluarga, dikatakan bahwa komunikasi efektif itu meliputi, kemampuan mendengarkan pendapat anak, tidak menyela dan terbuka, selalu menggunakan kata-kata positif. Kemudian dilengkapi dengan kemampuan mendengarkan pesan, menyampaikan pesan dan memberikan umpan balik. Dengan demikian, orang tua pun harus tahu teman sebaya anaknya serta berkontribusi terhadap lingkungan sekolah yang kondusif terhadap perkembangan anaknya.

Pertanyaannya kemudian, siapa sasaran dari pendidikan keluarga ini, dan sekolah yang bagaimana yang bisa melaksanakan konsep pendidikan keluarga? Jawabnya tentu akan beragam, karena masing-masing keluarga tentu mempunyai cara sendiri untuk mensiasati hidup agar sukses, bahagia dan sejahtera menurut versi masing-masing keluarga.

Begitu juga dengan pihak sekolah yang senyatanya sudah sibuk mengelola administrasi sekolah, mengelola BOS/BOPDA, guru sibuk dengan pemenuhan jam mengajar dan menyusun portofolio untuk kenaikan pangkat, belum lagi melayani kedatangan pengawas sekolah dan perintah atasannya, serta mengurusi rumah tangganya, sehingga akan berpengaruh saat menerapkan konsep tri sentra pendidikan, dimana sekolah sebagai penggeraknya.

Kemudian, apakah mungkin keluarga miskin yang setiap hari hidupnya disibukkan dengan urasan perut, berkenan mengikuti pendidikan keluarga? Bisa menyekolahkan anaknya saja sudah untung. Begitu juga dengan kaum kaya,  pejabat, penguasa dan pengusaha yang setiap hari sibuk melakukan lobbi sana sini demi kepentingannya.

Sementara, ada guyonan yang mengatakan bahwa jaman ini masalah pendidikan sudah diserahkan kepada pihak ke tiga (pembantu, sekolah, bimbel, kursus, guru privat dan mbah gugel), karena orang tua sibuk dengan urusan mencari nafkah. Benarkah demikian? Mari kita ikuti diklat selanjutnya, jika masih ada. *[edibasuki]