Oleh Trining Herlina

Seksualitas atau seks yang berasal dari bahasa Inggris Sex, adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang sering disebut jenis kelamin. Suatu hal yang perlu diketahui sejak dini sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Punya Robby kok nggak sama….”,  kata Robby  yang ketika itu berusia 3 tahun sedang mandi bersama dengan kakaknya Ida yang berusia 5 tahun. Orangtua bijak akan berkata sebenarnya dan bukan mengemukakan jawaban yang tidak nalar hanya karena tidak ingin anaknya mengetahui soal sensitive ini atau tidak tahu cara menjawabnya. Sedikit yang bisa menjawab dengan benar dan spontan alamiah. Kebanyakan orang berusaha menghindari pertanyaan itu dan mengalihkan perhatian anaknya pada hal yang lain. Jika itu yang terjadi, maka anak akan terus menyimpan pertanyaan dan dan bisa jadi menganggap orang tuanya tidak cukup tahu akan banyak hal lainnya. Bisa jadi anak enggan bertanya mengenai sesuatu yang belum diketahuinya pada bidang lain, karena beranggapan orangtua akan bersikap  yang sama terhadap pertanyaan yang akan diajukan.

Menghindar dari persoalan bisa sama buruknya dengan menipu anak, karena akan mendatangkan sesuatu yang tidak diinginkan. Pertanyaan anak yang belum terjawab atau jawaban bohong yang tidak nalar oleh orangtua justru akan menjadikan anak penasaran, lalu bertanya pada orang lain. Jika si orang tua sengaja menolak atau merujuk kepada orang lain yang dianggap tahu, atau kebetulan anak memang berinisiatif bertanya kepada orang yang bisa dipercaya memang tidak masalah. Persoalan muncul jika sumber informasinya bukan orang yang layak tetapi sangat dipercaya anak. Misalnya, teman sebaya atau orang dewasa yang diakrabi yang tidak tahu jawaban dan cara menjawabnya. Dapat diduga, jawabanna sulit dipertanggung jawabkan.

Anak Berhak Atas Kebenaran

Seharusnya anak berhak mengetahui sesuatudenan benar dan orang tua idealnya bisa memberikan penjelasan sesuai dengan kemampuan nalar anaknya. Secara substansial tidak salah, meskipun kurang sempurna, lagi,pula secara metodologis layak dan pantas. Memang untuk bisa memberikan jawaban yang memuasakan bagi anak dibutuhkan pengetahuan yang cukup dan kreativitas cara penyamapaiannya. Lebih dari  itu, harus ditampaknyatakan bahwa sikap orangtua positif terhadap pertanyaan rawan itu. Lagipula harus tegas, lugas, sejujur dan sepolos anak yang sedang bertanya dihadapannya, bahwa orangtua yakin tahu, pasti tidak tahu atau ragu-ragu. Anak harus mendapatkan referensi atas jawaban orangtua, lebih-lebih jika orangtua tidak tahu atau ragu-ragu akan kebenaran jawabannya: apa dasar jawabannya dan kepada siapa lebih tepat ditanyakan. Sikap ini bukan bermaksud ‘sok ilmiah’, melainkan lebih melatih fundamental sikap kritis, tidak semberono untuk hal penting dan tidak kehilangan akal atau putus asa karena digantung ketidakpastian oleh orang yang dipercaya.

Contoh misalnya, “Menurut Bu Guru yang dulu mengajar Bapak….”untuk suatu jawaban yang diyakini pasti benar. Referensi ini akan menolong anak jika kelak di kemudian hari anak tahu yang lebih tepat dari jawaban orang tua. Bila orangtua saat berkata memang jujur apa adanya, anak akan bisa membedakan, apakah salahnya jawaban itu orangtuanya  itu’ngawur’atau sumber informasi pengetahuan orangtuanya yang salah. Sikap yang akan dibangun anak menjadi jelas dan positif. Yang akan terjadi berikutnya adalah dialog saling membelajarkan , bukan pembatahan atau dalam bahasa Jawa ngundhat-undhat. Kasus yang sama dalam posisi lain , orang tua berkata, “ Wah, ibu lupa persisnya, …lebih baik tanya Budhe dokter. Besok kita Tanya bareng-bareng ya!” Jawaban ini tidak akan melemahkan kepercayaan anak pada orangtua meskipun anak tahu bahwa orangtuanya tidak tahu atau ragu-ragu. Alam pikir anak tidak diarahkan ke kompleks unggul tahu atau tidak tahu, tetapi apa yang harus diketahui dan kepada siapa saja bisa diperoleh informasi. Seaandainya waktu yang disepakati terlalu lama atau batal karena suatu hal, anak yang tidak sabaran sudah bisa mengambil tindakan sendiri, diam-diam menelepon, misalnya. Dan sikap tindakannya tepat. Anak sejak dini telah dilatih untuk bersikap obyektif, kritis, jujur, terbuka pada pemecahan dan tidak ad hominem yaitu sikap benci atau merendahkan orang yang tidak tahu dan sebaliknya.

Orang Boleh Berusaha

Tanpa harus menjadi rigid santistik seperti contoh di atas, orang tua bisa mencoba untuk mengambil sikap yan sama tetapi caranya lebih sederhana. Kata kuncinya, sikap positif dan jangan gunakan alam piker dirinya, melainkan alam piker si anakyang meskipun tampak lucu dan aneh. Pertanyaan seutar seksualitas pada anak usia dini biasanya menyangkut bentuk fisik yang paling kelihatan, misalnya perbedaan bentuk alat kelamin. Nah, cara  menjawab bisa dimulai dari mengulangi pertanyaan si anak. Kemudian merambah dahulu ke bagian-bagian tubuh lain yang menonjol bagi anak sebagai konteks, misalnya hidung, mata telinga, kaki, tangan dan lain-lain. Ajak anak menyadari atau mengetahui fungsi masing-masing. Sampai akhirnya pada bagian alat vital yang dimaksud juga diberi kerangka fungsi, dan bisa dibumbui apresiasi betapa unik dan bagusnya bagian tubuh itu. Bandingkan mata dengan mata, hidung denan hidung dan seterusnya. Buktikan bahwa yang berbeda tidak hanya bagian kelaminnya saja, tetapi banyak hal meman berbeda satu sama lain.

Jika cara memahamkan benar dan sistematik perbedaan bukan saja tidak menimbulkan rasa iri hati ingin punya seperti kakanya, karena merasa punya sendiri kurang menarik, bahkan bisa dibangun sikap bangga pada miliknya dan sekaligus bisa menghargai milik orang lain.Jawaban yang memuaskan menurut alam piker anak dan menumbuhkan sikap positif yang membanggakan akhirnya akan memancing dan merawat rasa keingintahuan yang lain. Lalu ini bisa disebut lankah stimulasi kecerdasan intelektual dan emisonal anak. Memberi menamai kepunyaan si Buyung dengan sebutan”burung dan punya si Upuk “Meme” tidak masalah. Tetapi memperlakukan secara berlebihan, seperti menutup mendadak atau memberikan komentar “hiii, jorok!” justru menimbulkan persoalan seketika atau buntut lebih panjang.

Ada sementara ahli yang tidak setuju memberi sebutan lain itu, dengan alas an lebih baik tahu nama sebenarnya bukan dari orang lain yang belum tentu tentu bisa dipertanggungjawabkan. Orang yang setuju dengan pemberian sebutan lain, misalnya yang bernuansa kekanak-kanakan, berdalaih bahwa anak tidak harus terlibat pada problem orang tua, anak-anak memiliki dunianya sendiri. Lagipula, selain esensi masih ada lagi etika dan estetika, kelayakan dan kepatutan. Anak mungkin layak dan perlu menerika pengetahuan ”yang benar menurut alam piker orang tua”, tetapi apakah mereka harus meinggalkan kepantasan etis estetis budaya local dan lebih-lebih dunia anak itusendiri? Ini masalah problematis lintas budaya dan memang persoalan literasi budaya.

Kadang-Kadang untuk Mengenal Perlu Memegang

Pada saat ibu belanja, seringkali ingin mengetahui apakah tempe yang akan dibeli cukup fermentasi atau tidak; atau manga yang akan dibeli cukup massak atau tidak. Untuk mengenalinya Ibu akan memegang atau mencium untuk memastikan aromanya. Begitu pula dengan anak-anak, kadang mereka perlu menyentuh atau bahkanmemegang penuh milik orang lain hanya untuk mengenali persamaan atau perbedaan dengan kepunyaan sendiri. Tidak ada muatan moral atau tendensis lainnya. Atau menjadikan alat vitalnya sendiri dan orang lain untuk mainan, karena menarik untuk dijadikan permainan. Orang tua bisa melarang denagn alas an yang lebih rasional, misalnyabisa terluka atau menyakiti. Belum perlu dilabeli komentar yang sebenarnya bagian alam piker orang dewasa.

Apabila orangtua mendapati anaknya seang memegang kepunyaan kakanya pada saat mandi bersama, sejenis atau lain jenis, orang tua tidak harus gusar. Ia sedang mengungkapkan dan mengembangkan rasa ingin tahunya yang alamiah. Ia sedang belajar, maka orangtua harus bijaksana dan waspada. Sebenarnya itu kesempatan atau kesiapan belajar , maka orangtua harus bijaksana dan waspada. Sebenarnya itu kesempatan atau atau kesiapan belajar bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dengan cara wajar dan bijaksana. Tunjukkan saja cara menyentuh yang benar dan etis  dan siapkan jawaban jikalau anak meluncurkan pertanyaan spontan. Peristiwa itu akan menjadi pengalaman belajar yang mengesankan dan berharga bagi anak.

Termasuk misalnya anak ingin tahu milik ibu atau bapaknya. Jangan buru-buru menepis tangan mungin polo situ, seakan tidak pantas karena dipandangnya ada orang dewasa berbentuk kecil. Anak mengelus perut buncit ibunya yang sedang hamil dan buah dada yang sedang membengkak merupakan awal yang baik untuk menyiapkan si calon kakak agar bisa menerima kelahiran calon adiknya kelak. “Ini rizki dari Tuhan, besok untuk adik yang akan lahir. Sekarang adik sedang tidur di dalam sini, menunggu sampai besar dan kuat untuk menemani bermain kakak”, bisa merupakan contoh jawaban diplomatis yang bijak jika tidak mungkin menjelaskan lebih baik. Biasanya anak sudah puas, karena bukan tuntutan  pengetahuan akademis yang diharapkan, tetapi terpenuhi rasa ingin tahu sesaat, spontan dan alamiahnya. Lebih-lebih kebutuhan untuk diperhatikan dan diakui keberadaannya.

Saat-saat itu adalah momentum yang tepat untuk memberikan pendidikan budi pekerti lebih luas. Misalnya, mengenalkan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta yang penuh kasih sayang pada manusia. Kesempatan menguatkan mental anak untuk bisa berbagi dengan Saudaranya, menyiapkan anak untuk saling menyayangi. Mungkin saatnya juga bicara soal reproduksi, tergantung tingkat pemahaman anak. Pengertian yang benar dan sikap yang baik akan mengantarkan anak pada pemahaman yang benar tentang realitas yang menarik perhatian dan rasa ingin tahunya. Selanjutnya anak mulai mengenali siapa dirinya dan keberadaannya di hadapan orang lain. Kelak ia akan mudah menerima hak dan kewajiban individu        dan sosialnya dengan nilai-nilai yang ia ikuti. Rasa hormat, penerimaan atas diri, persamaan dan perbedaan serta bangunan relasi komunikasional dengan orang lain akan lebih mudah dicapai.

Mula-Mula Perbedaan Jenis Kelamin Kemudian Gender

Dari pemahaman seks kemudian ke gender. Ini bahasa orang dewasa. Pendidikan seksualitas dan gender memang harus dimulai sejak dini. Dengan demikian kelak anak tidak menjadi orang dewasa yang terkena kejutan budaya. Seksualitas lebih merupakan perkara biologis alamiah, sedangkan gender adalah masalah konstruksi sosiokultural tentang eksistensi dan peran laki-laki dan perempuan. Bahwa kelengkapan fisiologis   primer dan sekunder antara laki-laki dan perempuan serta pengaruh-pengaruhnya fisio-psikologisnya mungkn condong ke biologis natural. Teta[pi nanti kalau sudah menyangkut emosi yang lekat dengan kedudukan dan peran , laki-laki dan perempuanpada suatu lingkungan masyarakat berbudaya tertentu mungkin sudah tidak cukup semata-mata factor biologis saja. Pengaruh bentukan sosial dan kultural kut bermain di dlamnya. Yang pertama itu wilayah seksual, dan yang kedua adalah wilayah gender.

Orangtua sejak dini bisa membantu anak-anak untuk mengembangkan potensi dirinya secara seksual yang sehat dan potensi dirinya secara seksual yang sehat dan potensi dirinya secara gender yang  adil dan berkebudayaan. Kelak anak-anak tidak akan tumbuh berkembang dalam bias seksual maupun bias gender. Jika mereka bisa saling  memahami , menerima dan melengkapi baik dari perspektif seksual maupun gender, mereka tidak hanya mampu merasa nyaman dan aman berdampingan dan bekerja sama baik sejenis maupun beda jenis, tetapi juga bersikap adil, proporsional dan selaras dengan lingkungannya.  Pada giliran selanjutnya  akan terbentuk  suatu angkatan  generasi yang membangun lingkungan hidup sosial dan kultural yang sehat. Memang harapan itu tidak otomatis terjadi , meskipun sejak dini telah disiapkan. Masih banyak factor pembentuk lainnya. Namun demikian, alangkah sayangnya jika orangtua tidak bertindak sejak dini dalam wilayah yang memang menjadi tanggung jawabnya dan  terjangkau untuk dilakukan.

Ada Lagi yang Perlu Mereka Ketahui

Suatu malam Upik terbangun dan bapak-ibunya ‘terangkap basah”. Orang tua jangan panic. Hentikan aktivitas dan perhatikan reaksi anak, baik yang terungkap verbal maupun bahasa tubuhnya. Mungkin ini pengalaman baru anak yang belum tentu diperoleh lagi. Reaksinya bisa heran yang mengundang rasa ingin tahu atau marah karena salah persepsi. Orangtua harus memberikan  penjelasan pada anak. Disini masalahnya, persoalan ini tidak sekedar kemampuan menjelasakan realitas pada anak,  tetapi juga konsep dan sikap dasar  orang tua sendiri berkaitan dengan kegiatan seks suami isteri. Di lain pihak mereka harus cekatan menetralisir suasana diri mereka sendiri dan suasana hati dan pikiran anak.

Pertama, mereka tidak memiliki pikian tidak senonoh atau porno, hanya ingin mengetahi apa yang terjadi. Oleh sebab itu jangan ditangga[pi dengan bias nilai. Atasi dahulu reaksi emosional dan intelektualnya dengan cara yang jernih dan simpatik. Seandainya mereka telah terlanjur ‘terpolusi’ dari sumber lain, itulah kesempatan untuk meluuskan dan memberikan dasar konsep dan persepsi yang lebih memadai dan lebih layak. Misalnya, jika hanya sekedar bertanya bapak-ibu sedang melakukan apa, jawablah”bapak-ibu sedang berkasih saying supaya besok lahir adik baru” (kalau anak pernah ingin adik baru). Tetapi kalau anak mengira bapak sedang menjahati ibu , si iblah yan harus menjawab, “bapak tidak nakal, ibu tidak sakit, bapak saying sekali seperti kalau sedang membopong kamu”. Pastikan bahwa anak tidak akan terguncang (trauma)di kemudian hari sampai timbul rasa benci pada lawan jenis karena ada ingatan dan solidaritas semacam aniaya terhadap figure yang dicintai.

Mungkin saja anak lain kali meniru adegan mirip yang dilakukan bapak-ibu sewaktu ia memergoki. Anak sebenarnya tidak tahu mengapa ia ingin meniru dan belum memiliki intensional atau bertujuan seperti yang dipikirkan orang dewasa. Ia semata-mata ingin meniru. Di sinilah saat penting dan strategis yang harus ada penjelasan yang wajar dan tidak tendensius. Jangan sampai justru memberi inspirasi untuk melakukan lagi seakan-akan ada tujuan dewasa,  maupun  sebaliknya merupakan pengalaman buruk yang akan mengganggu kesehatan mental kelak. Sebaiknya, jika anak sudah berusia 3 tahun, tidur terpisah dan tidak menyaksikan adegan serupa dari film, misalnya. Berulang-ulang memergoki atau menyaksikan dari sumber lain bagaimanapun juga bisa menimbulkan persoalan lebih rumit. Misalnya, ia lalu menganggap perbuatan lumrah yang bisa dilakukan siapa saja, termasuk dirinya dengan orang lain. Ada persoalan problematis yang lebih luas dari itu.

Lalu Sebatas Mana Anak Boleh Melihat

Sebenarnya anak boleh saja menyaksikan orang tuanya saling bermesraan didepannya (dalam batas tertentu) bahkan justru ini bisa dijadikan sarana pendidikan. Masalahnya batasan cara bermesraan mana yang seyogyana anak-anak harus tahu dan tidak pelu tahu. Peluk cium yang lembut dan sopan menurut ukuran nilai susila masyarakat dan keluarga kiranya itu inspirasi yang baik. Tetapi jika kasar, eksploitatif dan sampai pada ekspresi’menikmati’, jelas tidak bijaksana. Disana sulit bagi anak dimengerti sebagai ungkapan konsep kasih saying filial (kekeluargaan) antara ayah dan ibu. Anak juga belum waktunya mengkonsumsi ekspresi kenikmatan seksual suami-isteri dalam adegan peluk cium. Dalam tatakeama umum, ada ciuman dan pelukan yang sensual dan yang filial. Pilih yang filial sebagai media pendidikan sistematik yang sehat. Libatkan anak agar ikut mendapatkan bagian pengalaman peluk dan cium filial itu. Cara-cara yang pantas sekitar ini menurut  para ahli justru cara sehat untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan anak,karena memang diperlukan. Anak membutuhkan pengalaman  dan sediaan inspirasi cara-cara sehat mengungkapkan kasih sayang.  Lebih dari itu, pengalaman dicintai dan mendapatkan pengakuan: saat ayah dan ibu bermesraan ia tidak merasa ditinggalkan.

Ada satu lagi yang perlu dijaga oleh orangtua di hadapan anaknya, yaitu menghindari jangan sampai membuka aurat tanpa konteks yang bisa dipertanggungjawabkan. Juga jangan duduk atau tidur dengan cara yang tidak layak menurut etika dan estetika budaya setempat. Jangan masukkan anak-anak ke wilayah konflik nilai. Lebih-lebih jika orang tua memiliki ukuran nilai berbeda bahkan berseberangan dengan  yang dihayati lingkungan yang wajar bagi anak.

Penutup

Sebaliknya anak sudah mendapatkan pendidikan seksualitas dan gender. Pendidikan ini sebenarnya pertama-tama kewajiban dan tanggungjawab orang tua. Baru jika orangtua tidak mampu, bisa diserahkan kepada orang lain yang dipercaya dan bisa dipertanggungjawabkan dari segi substansial maupun nilai-nilai dasarnya. Meskipun demikian, bukan berarti soal cara bisa sembarangan. Bagi anak kemasan lebih berpengaruh dibanding isinya.

Pada saat orangtua tidak mampu  memberikan cara substansial atau secara metodologis, bukan berarti orangtua tidak bisa mengambil bagian tugas itu. Minimal anak perlu ditunjukkan bahwa orangtua memperhatikan, jujur dan obyektif. Sering anak lebih puas dan terbentuk sikap hati dan intelektualnya oleh cara  mendapatkan tanggapan disbanding kebutuhan jawaban sesungguhnya. Tokh, jawaban yang benar pun mungkin kelak sudah tidak benar lagi karena penemuan baru yang diketahui anak sendiri. Tetapi sikap yang tidak benar bisa merusak sejak dini.

Berangkat dari pendidikan seksualitas, bisa melangkah ke pendidikan gender pada anak sejak usia dini. Pendidikan seksualitas mencakup hal-hal yang bekaitan dengan gejala biologis alamiah, sedangkan gender mencakup hal-hal yang berkaitan dengan gejala konstruksi (bentukan) sosiokultural lingkungan masyarakat berbudaya setempat. Ada juga ranah-ranah yang saling berkaitan antara yang fisiobiologis  alamiah dengan sosiokultural. Dan di sini letak problematis dan dilematisnya pendidikan gender. Hendaknya orangtua tidak risau dengan kategori-kategori rumit ini, melainkan melangkah dengan pasti dimulai dari yang benar-benar diketahui dan diterima umum.

Akhirnya, meskipun anak berhak tahu segala yang ingin diketahuinya, ia tidak harus tahu terlalu dini untuk hal-hal yang menjadi konsumsi anal lebih dewasa. Ada batas-batas yang perlu diketahui dan harus diatasi dengan arif jika menyangkut hal-hal  yang terpaksa atau terlanjur diketahui anak padahal belum waktunya. Cara dan sikap lebih penting dari substansi obyektif pengetahuannya. Lebih dari itu, orangtua sendirimemang harus memperkaya dan melengkapi denan hal-hal yang dibutuhkan untuk memberitahu informasi pengetahuan dan membentuk sikap perilaku anak berkaitan  dengan issue seksual dan issue gender. Akhirnya, antara orangtua dan anak pada hakekatnya sama-sama belajar dari realitas  dalam konteks perkembangan nilai dari yang kental tradisional ke yang cair kontemporer.

Yogyakarta, 4 November 2016

Trining Herlina adalah pamong belajar madya pada Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Daerah Istimewa Yogyakarta