12295440_10200980170942418_3651223347548538825_n“Mengundang seluruh pamong belajar BPPAUDNI Reg II pada kegiatan diklat Internal Pamong Belajar 2015, tanggal 25 s/d 27 November 2015, di Hotel Halogen”. Begitu bunyi undangan dari Seksi Fasilitasi Sumber Daya yang dikirim lewat sms. Padahal, sesungguhnya pengumuman tentang jadwal UJK tanggal 30 November 2015 yang ditunggu oleh pamong belajar BPPAUDNI, juga pamong belajar SKB se wilayah kerja Balai yang berkantor di Jalan Gebang Putih sepuluh, Surabaya.

Sebuah program tahunan untuk memotivasi sekaligus meningkatkan kinerja pamong belajar. Jika tahun sebelumnya program ini diselingi ‘outbond game’ dan pembagian kaos. Tahun ini dikemas lain dikaitkan dengan pengembangan model yang berhubungan dengan upaya peningkatan kinerja dan profesionalisme pamong belajar, jadi ya tidak ada apa-apanya, sepertinya peserta jadi kelinci percobaan yang diamati perilakunya untuk dijadikan bahan kajian.

Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Halogen, Sidoarjo ini, pamong belajar diajari berfikir dan berprasangka positif dalam melihat sesuatu yang bisa digunakan membangun untuk kemajuan, baik secara pribadi maupun kelembagaan. Kegiatan ini juga dalam rangka membangun komitmen dan kesadaran bersama sebagai anggota komunitas, rasa  saling menghargai, saling belajar dan peduli antar pamong belajar untuk kemajuan bersama sekaligus mensukseskan tujuan kelembagaan.

Memang indah sekali isi modul pengembangan diri pamong belajar yang disusun Tim Psikologi Unair Surabaya (TPUS). Sangat rinci sekali tahapan-tahapan yang harus dilalui agar bisa menjadi pamong belajar yang hebat, saling memberi semangat, berfikir positif untuk mengajak terus belajar dan menggali informasi dalam rangka menambah wawasan sebagai pembelajar yang cerdas.

Proses penyampaian materi oleh TPUS pun tampak antusias, peserta bersemangat menyelesaikan tugas yang ada di dalam modul. Masing-masing serius menggali potensi dalam bentuk saling menceritakan pengalamannya, termasuk saat melakukan tugas verifikasi PK-LKP maupun PK-PKBM serta bertugas sebagai asesor yang melakukan desk dimana-mana dengan segala variasi perolehan rejekinya.

Cerita-cerita diatas itulah yang mewarnai penyelesaian tahapan discovery, yaitu menggali dan mengenali kekuatan yang dimiliki. Kemudian dilanjutkan ke tahapan dreaming, design dan destiny. Konon, jika ke empat tahapan ini bisa di kristalkan dalam sebuah tindakan nyata, maka akan terwujudlah pamong belajar yang hebaat, akronim dari harmonis, empati, belajar, aktif, adaptif dan terpercaya.

Acara yang diselenggarakan di ruangan yang cukup dingin itu juga diselingi oleh komentar dari peserta yang kebetulan ulang tahun dan baru menerima surat keputusan kenaikan pangkat. Dalam komentarnya, tersirat nada Saling membanggakan diri dan pamer kemampuan yang berlebihan sehingga mengundang tawa dan senyum hambar dari yang mendengarnya.

Ya, sebuah komentar yang berbunga-bunga penuh harapan sebagai bentuk basa basi perkantoran, karena senyatanyalah semuanya sulit dilaksanakan dalam praktek keseharian pasca kegiatan ini, karena pengalaman mengatakan begitu.

Ini terjadi karena suasana kerja yang telah dibangun selama ini hanya mengedepankan kepentingan individu dan kelompoknya dengan mengesampingkan komitmen bersama dan kerjasama senasib seperjuangan seperti yang termaktub dalam hymne BPPAUDNI, serta jargon motivatif yang banyak terpampang di dinding kantor.

Program yang dirancang untuk membangun energy positif agar pamong belajar sebagai ujung tombak Balai, semakin kompeten dan professional melaksanakan tugas itu, kayaknya akan mengalami nasib yang sama dengan program sejenis yang sudah pernah diadakan karena padatnya kesibukan ‘kejar tayang kejar setoran’ dan lemahnya komitmen bersama, sehingga yang terjadi adalah, kekuatan dan energy positif yang dibangun dalam diklat ini masih sebatas pada konstruksi teoritis.

Artinya, ketika mimpi indah tentang kinerja itu dicoba dinarasikan dengan amat indah, ternyata hanya sampai pada tataran konseptual yang kemudian hilang sekeluar dari Hotel, menguap di sepanjang jalan menuju Rumah masing-masing. Dan ketika masuk Kantor, sudah tidak ada bekasnya, tenggelam dalam rutinitasnya sendiri-sendiri.

Sementara pihak manajemen tampak enggan menindak lanjutinaya, enggan mengoptimalkan semua komitmen yang telah dibangun di ruangan Hotel. Sehingga yang terjadi upaya peningkatan kompetensi pribadi itu dilakukan oleh masing-masing individu yang mendukung tupoksinya. Dampaknya jelas kompetensi yang dimiliki masing-masing personil tidak sama bahkan cenderung ‘njomplang’.

Nara sumber pun rupanya memahami kondisi psikologis peserta yang seolah-olah serius mengikuti materi. Padahal semua dilakukan hanyalah sekedar menggugurkan kewajiban sebagai karyawan yang loyal terhadap program lembaga. Keterlibatan dalam kegiatan ini dianggap sebagai refreshing setelah melakukan tugas ke luar daerah menjalankan pekerjaan di luar tupoksi pamong belajar.

Konon, kata pakar, suatu keadaan tidak akan bisa berubah jika tidak dimulai dari diri sendiri. Ada prinsip yang menarik untuk direnungkan, ‘satu langkah kecil untuk mewujudkan perubahan yang besar’. Artinya, jika perubahan itu dimulai dari diri sendiri akan lebih mudah terwujud dibandingkan jika harus menunggu orang lain yang mewujudkannya.

Diakhir kegiatan, ketua TPUS menyarankan bahwa semua yang telah kita pelajari bersama, bertukar pengalaman dan gagasan untuk kemudian kita sepakati bersama mewujudkan jargon pamong belajar yang hebaat melalui empat tahapan yang ditawarkan oleh TPUS, itu akan sia-sia manakala modul pengembangan diri pamong belajar itu tidak ditindak lanjuti dengan aksi nyata. Wassalam. [edibasuki/humasipabi_online].