PB berkarakterOleh Bais Jajuli Sidiq

Pamong Belajar adalah profesi. Orang yang profesional sebaiknya orang baik. Orang baik adalah orang yang bermanfaat bagi sesama makhluk di bumi ini. Oleh karena itulah seorang yang berprofesi pamong belajar sebaiknya orang baik. Dalam istilah sekarang untuk orang baik ini “orang yang ber karakter”. Pamong belajar sebaiknya menjadi pribadi yang berkarakter dalam mengemban tugas dan fungsi jabatannya.

Pribadi yang berkarakter adalah individu yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang terpuji dan memegang teguh serta mewujudnyatakan nilai tersebut. Nilai-nilai utama kehidupan diperoleh dari berbagai sumber, baik dari bimbingan keluarga, masyarakat, dan agama yang diyakini.

Dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 15 Tahun 2010 Pasal 1 menyebutkan yang dimaksud dengan Jabatan Fungsional Pamong Belajar adalah jabatan yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melakukan kegiatan belajar mengajar, pengkajian program, dan pengembangan model Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) pada Unit Pelaksana Teknis (UPT)/Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan satuan PNFI sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan pasal duanya menyebutkan Pamong Belajar adalah pendidik dengan tugas utama melakukan kegiatan belajar mengajar, pengkajian program, dan pengembangan model Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) pada Unit Pelaksana Teknis (UPT)/Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan satuan PNFI.

Definisi jabatan pamong belajar dan pamong belajar di atas, menunjukan upaya supaya orang yang menduduki jabatan pamong belajar menjadi bermanfaat dengan menjalankan tugas utama sebagai pendidik. Sebuah tugas yang berat bagi pamong belajar. Disamping sebagai pendidik, juga sebagai pengkaji program dan pengembang model Pendidikan Nonformal dan Informal. Untuk menjalankan tugas ini sebaiknya diniati dengan karakter, dijalankan dengan karakter, dan dievaluasi dengan karakter.

Membangun karakter bukanlah merupakan pekerjaan yang sederhana, melainkan membutuhkan proses yang cukup lama, sebab karakter adalah rangkaian dari kebiasaan.  Mengubah kebiasaan dan membangun karakter membutuhkan proses dan komitmen yang tinggi.

Menurut Avan Pradiansyah (2006), orang yang berkarakter adalah orang yang senantiasa digerakkan oleh nilai-nilai (value-driven) kemanusiaan, seperti: integritas, kerendahan hati, kesetiaan, pengendalian diri, keberanian, kesabaran, kerajinan, kesederhanaan dan sebagainya. Ini bedanya dengan orang yang tak berkarakter yang hidupnya dikendalikan oleh kepentingannya (inter est-driven).

Maka inilah pentingnya membangun karakter bagi pamong belajar agar pelaksanaan tugas dan fungsi yang dikembangkan tidak cukup hanya dengan memusatkan perhatian pada penampilan fisik hasil saja, tetapi memfokuskan diri pada  bagaimana membangun nilai-nilai bagi pribadinya. Mengembangkan nilai baik dalam diri pribadi pamong belajar untuk menghasilkan produk yang bermanfaat baik merupakan hal yang jauh lebih penting, karena pribadinya maupun masyarakat  akan mendapatkan keuntungan jangka panjang yang bersifat langgeng.

Salah satu cara untuk membangun karakter yang sesuai dengan tata diri pamong belajar dengan mengidentifikasikan semua kekurangan dan ancaman diri, kemudian membangun perilaku diri yang baik dan ideal melalui kekuatan raga (kekuatan fisik tubuh), kekuatan jiwa (mental diri, emosional diri, motivasi, dan spiritualitas diri), serta kekuatan berkomunikasi (berhubungan secara sosial dengan sesama manusia dan alam).

A. Makna Karakter

Undang Undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah:

“…mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa …mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan  menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.” (Bab II, Pasal 3)

Jadi, tujuan utama dari pendidikan adalah membentuk watak dan peradaban bangsa, aklak mulia, dan keimanan serta ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Namun demikian, Sistem Pendidikan Nasional belum mampu mengentaskan bangsa dari kemiskinan, kebodohan dan persoalan moral. Sistem pendidikan belum mampu membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang jaya dengan keimanan, kemanusiaan, demokrasi, kemakmuran, dan keadilan sosial yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan karakter untuk membangun karakter bangsa.

Sejalan dengan hal tersebut, Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).

Menurut (Ekowarni, 2010) pada tatanan mikro, karakter diartikan; (a) kualitas dan kuantitas reaksi terhadap diri sendiri, orang lain, maupun  situasi tertentu; atau (b) watak, akhlak, ciri psikologis. Ciri-ciri psikologis yang dimiliki individu pada lingkup pribadi, secara evolutif akan berkembang menjadi ciri kelompok dan lebih luas lagi menjadi ciri sosial. Ciri psikologis individu akan memberi warna dan corak identitas kelompok dan pada tatanan makro akan menjadi ciri psikologis atau karakter suatu bangsa. Pembentukan karakter suatu bangsa berproses secara dinamis sebagai suatu fenomena sosio-ekologis.

Ki Hadjar Dewantara telah jauh berpikir dalam masalah pendidikan karakter. Mengasah kecerdasan budi sungguh baik, karena dapat membangun budipekerti yang baik dan kokoh, hingga dapat mewujudkan kepribadian (persoonlijkhheid) dan karakter (jiwa yang berasas hukum kebatinan). Jika itu terjadi orang akan senantiasa dapat mengalahkan nafsu dan tabiat-tabiatnya yang asli (bengis, murka, pemarah, kikir, keras, dan lain-lain) (Ki Hadjar Dewantara dalam Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1977: 24).

Selanjutnya Ki Hadjar Dewantara mengatakan, yang dinamakan “budipekerti” atau watak atau dalam bahasa asing disebut “karakter” yaitu “bulatnya jiwa manusia” sebagai jiwa yang “berasas hukum kebatinan”. Orang yang memiliki kecerdasan budipekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan, dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Itulah sebabnya orang dapat kita kenal wataknya dengan pasti; yaitu karena watak atau budi pekerti itu memang bersifat tetap dan pasti.

B. Cakupan Karakter

Menurut pendekatan yang digunakan The Joseph Institute of Ethics (Hill, 2005), terdapat enam karakter ideal utama:

  1. Trustworthiness, bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi: berintegritas, jujur, dan loyal
  2. Fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka memanfaatkan orang lain.
  3. Caring, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan
  4. Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain.
  5. Citizenship, bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan
  6. Responsibility, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggungjawab, disiplin, dan selalu melakukan sesuatu dengan sebaik

Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosio-kultural dapat dikelompokkan dalam  empat  kategori,  yakni

  1. olah hati  (spiritual  and  emotional development),
  2. olah pikir  (intellectual  development),
  3. olah raga  dan  kinestetik (physical  and  kinestetic  development),
  4. olah rasa  dan  karsa  (affective  and creativity development). Keempat proses psiko-sosial ini secara holistik dan koheren saling terkait dan saling melengkapi dalam rangka pembentukan karakter dan perwujudan nilai-nilai luhur dalam diri seseorang (Kemdiknas, 2010: 9-10).

Secara mudah karakter dipahami sebagai nilai-nilai yang khas-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Secara koheren, karakter memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau  sekelompok orang  yang  mengandung nilai,  kemampuan, kapasitas  moral,  dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan (Pemerintah RI, 2010: 7)

C. Pendekatan Pengembangan Karakter Bagi Pamong Belajar

Terkait dengan implementasi pengembangan karakter, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu.

Terdapat lima pendekatan dalam penanaman nilai yakni:

  1. Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach). Penanaman pembelajaran kepribadian menekankan pada mengusahakan agar pamong belajar mengenal dan menerima nilai-nilai sebagai milik  mereka dan bertanggungjawab atas keputusan yang diambil. Cara yang tepat menurut pendekatan ini dengan melakukan kegiatan keteladan (modeling).
  2. Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach). Pendekatan ini lebih menekankan pada tingkatan dari pemikiran moral. Pemimpin membantu pamong belajar dalam penerapan proses pemikiran moral melalui diskusi masalah moral sehingga pamong belajar dapat membuat keputusan tentang pendapat moral. Nilai–nilai moral yang didiskusikan misalnya kode etik, tata tertib, standar pelayanan minimal, dan lain-lain.
  3. Pendekatan analisis nilai (values analysis approach). Pendekatan ini menekankan agar menggunakan kemampuan berpikir logis dan ilmiah dengan menganalisis masalah sosial yang berhubungan dangan nilai tertentu. Cara yang digunakan   misalnya diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion) yang menuntut argumentasi, penegasan bukti, penegasan prinsip, analisis terhadap kasus, maupun
  4. Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach), Pendekatan ini menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan pamong belajar dalam mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri dan nilai-nilai orang lain. Cara yang dapat digunakan pendekatan ini adalah simulasi, analasisi mendalam tentang diri sendiri, aktivitas, yang mengembangkan sensitivitas, kegiatan outbound dan diskusi kelompok.
  5. Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach). Pendekatan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan pamong belajar melalui pendekatan analisis dan klarifikasi. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan pamong belajar dalam kegiatan sosial serta mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan masyarakat. Cara yang dapat digunakan melalui klarifikasi nilai dengan metode proyek, hubungan antar pribadi, dan bakti sosial masyarakat.
  6. Pendekatan Model (Modeling)

Pendekatan ini lebih menekakan peran atau prilaku seseorang   sebagai model perilaku pamong belajar. Pada intinya pendekatan ini lebih menekankan peran dan pribadi pemimpin dan pamong belajar lain yang layak  dijadikan contoh perilaku, baik dalam berbicara, bersikap, berprilaku, dan penampilan diri.

  1. Pendekatan pembelajaran melalui simulasi (Simulations). Penanaman pembelajaran karakter menekankan pada mengusahakan agar pamong belajar mengenal dan menerapkan nilai-nilai sebagai milik  mereka dan mampu  bertanggungjawab atas pilihannya sendiri.

 D. Strategi Pengembangan Karakter

Program pengembangan karakter pamong belajar secara terprogram dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pamong belajar secara individual atau tim melalui pembiasaan. Metode sebagai rencana menyeluruh tentang penyajian materi secara  sistematis   dan  berdasarkan   pendekatan   yang  ditentukan. Sedangkan pembiasaan merupakan proses penanaman kebiasaan. Yang dimaksud dengan kebiasaan (habit) ialah cara-cara bertindak yang persistent, uniform, dan hampir-hampir otomatis (hampir-hampir tidak disadari  pelakunya). (Hery Noer, 1999)  Secara  istilah  pembiasaan  merupakan  proses penanaman kebiasaan.

Metode   pembiasaan   ini   mempunyai   ciri   khas   berupa kegiatan   yang   dilakukan   secara   berulang-ulang.   Pengulangan   ini sengaja dilakukan berkali-kali supaya asosiasi antara stimulus dengan suatu  respon  menjadi  sangat  kuat.  Dengan  demikian,  terbentuklah sebuah kebiasaan pada diri pamong belajar.

Jadi metode pembiasaan adalah suatu kegiatan melakukan hal yang  sama,  berulang-ulang  secara  sungguh-sungguh  dengan  tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan   agar   menjadi   terbiasa.   Dengan   kata   lain   metode pembiasaan merupakan cara mendidik dengan mengulang materi ataupun menanamkan sebuah kebiasaan.

Kegiatan pembiasaan dapat dilakukan melalui hal-hal sebagai berikut:

  1. Kegiatan rutin

Kegiatan yang dilakukan terjadwal oleh pamong belajar secara terus menerus dan konsisten, misalnya pertemuan berkala, forum diskusi, dan evaluasi diri.  Membiasakan untuk memulai dan mengakhiri kegiatan dengan doa bersama. Meneriakkan yel-yel atau menyanyikan lagu bersama akan meningkatkan semangat kerja tim.

  1. Kegiatan terprogram

Merupakan kegiatan yang diprogramkan bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan mutu pamong belajar. Kegiatan terprogram dapat berupa:

a. Pembinaan Pamong belajar

Pembinaan merupakan faktor terpenting untuk mencapai keberhasilan pengembangan karakter. Keberhasilan pengembangan karakter tidak hanya tergantung dan terletak  pada  keterampilan  dan kecakapan  pamong belajar saja, akan tetapi karakter pamong belajar yang menjadi ciri khas sebuah pengembangan karakter akan menentukan kekuatan dan ketahanan suatu pengembangan karakter dalam mempertahankan mutu. Maka ketiganya perlu dilaksanakan secara integratif melalui pembinaan yang tepat dan berkesinambungan.

b. Pengembangan pamong belajar

Pengembangan kompetensi profesional pamong belajar adalah usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan para pamong belajar untuk menangani beraneka tugas dan untuk meningkatkan kapabilitas diluar kapabilitas yang dibutuhkan pekerjaan saat ini. (Mathis & Jackson, 2006).

Program pengembangan diperuntukkan bagi semua pamong belajar, bahwa setiap pamong belajar memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kompetensinya.  Agar pengembangan pamong belajar dapat dilakukan secara cermat dan tepat, maka perlu adanya catatan atau dokumentasi tentang program pengembangan yang telah dilakukan, baik berasal dari program internal maupun eksternal. Hal ini untuk membantu pimpinan dalam memetakan kompetensi pamong belajarnya, sehingga tergambarkan secara jelas pamong belajar yang perlu dikembangkan pada level atau tahap berikutnya, dan pamong belajar yang masih perlu ditingkatkan keterampilan teknisnya.

c. Apresiasi terhadap pamong belajar

Penilaian atas kinerja pamong belajar merupakan kegiatan yang juga penting dilakukan untuk mengetahui aspek-aspek mana yang harus diganti, diperbaiki, ditingkatkan, atau dipertahankan. Berdasarkan pada hasil penilaian itulah, masayarakat atau pemerintah akan memberikan penghargaan terhadap pamong belajar. Bentuk penghargaan yang bisa diberikan antara lain kenaikan jabatan, pemberian insentif, bonus, dan pujian.

  1. Kegiatan spontan

Kegiatan yang dilakukan pamong belajar secara spontan atau tidak terjadwal. Kegiatan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja.  Tidak dibatasi oleh ruang dan waktu secara pribadi, serta terjadi pada saat itu juga. Kegiatan sepontan ini hasil dari pembiasaan selama ini yang menjadi pengalaman belajar.

Kegiatan spontan  misalnya,

  • Datang ke kantor sesuai dengan ketentuan jam kerja
  • Mengucapkan salam apabila bertemu peserta didik, pamong belajar lain, atasan, dan tamu pengembangan karakter.
  • Membiasakan mengatasi silang pendapat dengan benar dan santun
  • Membiasakan antri
  • Membiasakan diri bekerjasama dalam tim
  • Membuang sampah pada tempatnya
  • Menyelesaikan pekerjaan sesuai target
  • Membereskan dan mengembalikan alat-alat di tempat semula;
  • dan sebagainya

E. Keteladanan

Keteladanan dari seorang contoh baik merupakan perilaku dan sikap dalam memberikan contoh kepada para pamong belajar melalui tindakan-tindakan yang baik yang menjadi panutan. Keteladanan digunakan dalam berbagai aktivitas dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti: berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu.

Seorang pemimpin yang mampu menjadi teladan yang baik akan menjadi guru atau pendidik yang baik. Dalam berbagai segi, keteladanan akan memiliki kecenderungan ditiru oleh para pamong belajar, bahkan tanpa diperintah sekalipun.

Keteladanan di tingkat pimpinan (vertikal) dan di tingkat rekan sekerja (horizontal) cenderung memiliki sisi yang berbeda. Kalau pimpinan dijadikan rujukan maka disitu terdapat proses berbagi nilai (shared values). Sistem nilai kepemimpinan dalam bekerja keras dan cerdas dari pimpinan cenderung mengalir ke kalangan pamong belajar. Lalu diperhatikan, dipahami, dan ditiru oleh pamong belajar dalam bentuk nyata. Sampai suatu ketika sistem nilai yang berbagi itu menjadi perilaku budaya kerja. Sementara rujukan horizontal cenderung menunjukkan terjadinya berbagi motivasi dan spirit untuk maju di antara sesama pamong belajar. Dalam prakteknya kalau sistem rujukan vertikal dan horizontal berlangsung sinergis maka akan menjadi fondasi budaya kerja yang semakin kokoh.

Mengenai kepemimpinan, Ki Hajar Dewantara (Tugiman, 1999: 46) mengajarkan Trilogi Kepemimpinan yang sangat populer, yaitu:

  1. Ing Ngarso Sung Tulodho, artinya sebagai seorang pemimpin harus dapat memberikan teladan baik kepada anak buahnya, yaitu dengan cara disiplin, jujur, tidak korupsi, penuh toleransi, dan selalu bertindak adil.
  2. Ing Madyo Mangun Karso, yang artinya dalam melaksanakan tugas bersama-sama anak buahnya harus mampu memberikan motivasi agar anak buahnya dengan senang hati melaksanakan tugas bersama-sama dengan baik. Pemimpin tidak hanya memerintah saja, tetapi ikut melaksanakan tugas bersama-sama dengan baik. Pemimpin tidak hanya memerintah saja tetapi ikut melaksanakan tugas bersama-sama dengan anak buahnya agar sasaran dan tujuan bersama dapat tercapai dengan baik dan memuaskan. Menurut Djokosantoso (2006;54), siapapun pemimpin itu, dia adalah middle manager artinya apabila mau berpikir dan bertindak konsisten, siapapun pemimpin itu pasti punya atasan. Dengan demikian sebagai pemimpin jika ingin berhasil dianjurkan untuk dapat membentuk, memperhatikan, memelihara, dan menjaga kehendak dan keperluan atasan serta bawahan secara seimbang.
  3. Tut Wuri Handayani, artinya seorang pemimpin memberi pelimpahan wewenang kepada anak buahnya sesuai kemampuannya. Dalam hal ini pemimpin memberikan kepercayaan penuh kepada anak buahnya. Selama anak buahnya melaksanakan tugas dengan baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku, penuh dedikasi dan tanggung jawab, maka pemimpin tinggal merestui saja. Pimpinan memberikan delegasi dan kepercayaan yang besar kepada pamong belajar untuk melakukan tugas yang menjadi tanggung jawab pamong belajar, tetapi tidak melepas begitu saja. Pimpinan akan mengontrol dan mengevaluasi untuk perbaikan.

F. Pengkondisian

Guna mendukung pengembangan karakter pamong belajar, perlu adanya dukungan instrumental komponen yang terlibat dalam atau lintas kegiatan, antara lain:

1. Kurikulum

Kurikulum untuk pengembangan karakter pamong belajar sebaiknya mampu mengembangkan nilai diri dan membantu pamong belajar supaya menjadi baik dan bermanfaat, bukan hanya berorientasi pada keterampilan (hard skill) saja, tetapi juga mencakup kecakapan (soft skill).

2. Sumber Daya Manusia (SDM)

  • Adanya sistem nilai yang menjadi ciri khas hubungan antar pamong belajar, pamong belajar dengan pihak lembaga, pamong belajar dengan peserta didik,
  • Pengembangan karakter membantu pamong belajar dan peserta didik dalam mengembangkan motivasi diri.
  • Pimpinan dan pamong belajar menjadi komunitas belajar etika yang dapat menjadi tauladan bagi sesama dan peserta didik.
  • Pengembangan karakter mengembangkan komunikasi pendukung pendidikan karakter.
  • Pengembangan karakter melibatkan orangtua dan komunitas  sebagai patner pendidikan karakter.

3. Lingkungan

  • Penataan halaman hijau penuh dengan pepohonan atau tanaman hias dalam pot
  • Penataan ruang tamu yang akomodatif
  • Penataan ruang belajar yang interaktif dan aman
  • Penataan ruang baca yang nyaman
  • Tersedianya ruang ibadah
  • Toilet yang bersih
  • Tempat sampah yang memadai.
  • dan sebagainya

4. Kelengkapan pendukung

  • Poster kata-kata bijak yang dipajang di setiap sudut ruang dan di dalam kelas.
  • Pemasangan gambar tokoh panutan
  • Pemasangan simbol-simbol keagamaan dan nilai-nilai religius
  • dan sebagainya

G. Penutup

Pengembangan karakter bagi pamong belajar merupakan upaya baik supaya pamong belajar dapat bermanfaat baik bagi sesama dan alam. Pengembangan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial pamong belajar menjadi pintu untuk pendidikan karakter bagi pamong belajar. Implementasi dari upaya inilah yang sebaiknya ditindaklanjuti. Untuk menindaklanjuti sebenarnya tidak harus memerlukan intenfensi, tetapi keteladanan serta melakukan pengkondisian diri dengan pembiasaan akan dapat membentuk perilaku yang berkarakter.

Daftar Pustaka

Abdul  Majid,  Perencanaan  Pembelajaran  Mengembangkan  Standar  Kompetensi Guru, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2006), hlm. 133

Dewantara, Ki Hadjar. 1977. Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Ekowarni, Endang. 2010. “Pengembangan nilai-nilai luhur budi pekerti sebagai karakter                        bangsa”.                      Diambil                        dari http://belanegarari.wordpress.com/2009/08/25/pengembangan-nilai-nilai- luhur-budi-pekerti-sebagai-karakter-bangsa,

Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), hlm.184

Hill, T.A., 2005. Character First! Kimray Inc., http://www.charactercities.org/downloads/publications/Whatischaracter.pdf

Hiro Tugiman. 1999. Budaya Jawa & Mundurnya Presiden Soeharto. Yogyakarta. Penerbit Kanisius

http://kamusbahasaindonesia.org/

Djokosantoso Moeljono, Dr. 2006. Beyond leadership. 12 Konsep Kepemimpinan. Jakarta: PT. Gramedia

Kemdiknas. 2010. Desain Induk Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

Pemerintah  Republik  Indonesia. 2010.  Kebijakan  Nasional  Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas.

Slamet PH. (2011). Pendidikan Karakter dalam Prespektif Teori dan Praktek.Yogyakarta.

 

aku blangkonan 2Bais Jajuli Sidiq adalah pamong belajar muda pada Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Daerah Istimewa Yogyakarta