100_2719‘’Ternyata ada tho pendidikan kesetaraan paket C yang berstandar nasional, padahal program sekolah RSBI saja barusan dibubarkan. Apalagi sampai saat ini di Jombang belum ada perpindahan tanggungjawab secara formal dalam hal penanganan program pendidikan kesetaraan dari Kasi PNF ke Kasi Dikmen. Tapi biarlah, yang penting kejar paket C tetap berjalan karena memang banyak peminatnya’’ Kata Kusnadi Said, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang mengawali sambutannya pada acara pembukaan “In House Training Pembelajaran Paket C Berstandar Nasional bagi Tutor Paket C SKB dan PKBM se Kabupaten Jombang. Dikatakan pula bahwa sampai saat ini masih banyak penyelenggaraan program paket yang sifatnya ada dan tiada, yaitu ada ketika pendaftaran dan ujian, namun tiada ketika proses pembelajaran disetiap harinya, jadi yang begini ini harusnya ditutup saja. Karena, jika ingin membangun kesetaraan yang berstandar nasional, maka kegiatan pembelajarannya harus benar-benar seperti yang berlaku di sekolah formal, ada perencanaan, pelaksanaan dan penilaian yang terjabar dalam silabus, RPP dan jadwal pembelajarannya, termasuk di dalamnya ada buku-buku administrasi yang lengkap.

Kegiatan yang diselenggarakan di aula SKB Gudo ini menegaskan bahwa pendidikan kesetaraan pada hakekatnya merupakan program pelayanan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal, dimana jalur ini bertujuan memberikan pelayanan pendidikan setara SD, SMP dan SMA kepada masyarakat yang karena sesuatu hal, kebutuhan pendidikannya tidak mungkin dapat ditempuh melalui pendidikan formal atau mereka yang dengan sadar memilih untuk menempuh jalur pendidikan nonformal untuk menuntaskan pendidikannya. Seperti diketahui, sejak tahun 2011, sesuai kebijakan Kemendikbud, pananganan program kesetaraan paket C diamanatkan kepada Direktorat pembinaan SMA (ditbin SMA). Sejalan dengan tugas dan fungsinya, Ditbin SMA mempunyai tugas melaksanakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi penerapan standar teknis di bidang SMA dan Kesetaraan sesuai permendiknas nomor 36 tahun 2010.

Salah satu upaya pembinaan terhadap penyelenggaraan program kesetaraan paket C adalah memprogramkan pembinaan terhadap 50 lembaga penyelenggara program kesetaraan paket C yang tersebar di 14 propinsi melalui pemberian bantuan sosial pengelola program paket C.

Kasmuji Rahardja, Kepala SKB Gudo mengatakan bahwa program ini terlaksana berkat adanya akad kerjasama antara SKB dengan Dikmen untuk menyelenggarakan pendidikan kesetaraan paket C berstandar nasional yang benar. “Ini bukan upaya memformalkan pendidikan kesetaraan paket C, tetapi ingin menyelenggarakan pendidikan kesetaraan yang benar-benar mengacu pada 8 standar pendidikan. Untuk itulah dalam kegiatan ini akan diberikan materi tentang kalender pendidikan, pemetan SKKD, penyusunan soal, pembuatan prota, promes, silabus dan RPP serta pemetaan KKM. Semua materi akan diikuti dengan praktek sehingga peserta benar-benar siap menjalankan program ini. ‘’Nantinya, pendidikan kesetaraan bukan lagi sebagai sekolah ongko loro atau alternatif pengganti, tetapi menjadi sebuah pilihan secara sadar karena pendidikan kesetaraan sudah benar-benar setara. Selain itu nanti juga harus ada kontrak belajar antara warga belajar, tutor dan pengelola serta tersedianya dokumen pendukung yang bisa dipertanggungjawabkan.’’ Kata Kepala SKB yang juga dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Jombang. Untuk itulah, tambahnya, dalam rangka mewujudkan ‘Proyek’ ini, maka salah satu cara yang ditempuh adalah merekrut guru menjadi tutor sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. ‘’Namun karena para guru ini juga mempunyai tanggungjawab mengajar di sekolahnya, maka pada kesempatan pembukaan acara ini mereka tidak bisa hadir.’’ Ujarnya.

Fauzi Eko Pranyono, narasumber dari Tim Paket C Direktorat Pembinaan SMA Ditjen Dikmen, dengan gayanya yang khas menyampaikan semua materi dengan gamblang sehingga mudah dicerna oleh peserta. Termasuk member tugas kelompok untuk dipresentasikan. Sayang acara praktek kurang mendapat respon, masing-masing peserta sibuk mencatat sehingga kurang terjadi interaksi yang dinamis sebagai upaya tukar pengalaman mengasah kemampuan sebagai calon tutor kesetaraan gaya baru. Ini terjadi mingkin karena cuaca yang cukup panas dan perut dalam keadaan kenyang oleh asupan nasi kotak dan kudapan yang memenuhi standar gizi. [eBas/humas.ipabipusat_online]