100_2227Dengan semangat pembaharuan, masing-masing kementerian berusaha memunculkan program dan kebijakan baru sesuai dengan semangat nawa cita menuju Indonesia hebat, sekaligus biar dinilai sebagai menteri yang berjiwa reformis sehingga akan terhindar dari kegaduhan issue reshuffle.

Tidak terkecuali ranah pendidikan nonformal pun juga tersentuh dengan semangat perubahan, diantaranya adalah lelang jabatan di lingkungan Ditjen PAUD dan DIKMAS serta kocok ulang pejabat di PPPAUDNI dan BPPAUDNI, termasuk keberadaan sanggar kegiatan belajar (SKB) yang menjadi sandaran hidup pamong belajar, dihimbau untuk berubah menjadi satuan pendidikan setara pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).

Dalam rangka menjawab himbauan itu, beberapa Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sudah mulai mengadakan rapat untuk memberi nama baru SKB, misalnya SKB berubah menjadi PKBM Negeri. Ada juga yang mengganti nama menjadi UPT PNF Kabupaten/Kota, dan mungkin akan muncul lagi nama baru yang unik sesuai kesepakatan pemilik kuasa otoda setempat.

Dengan bergantinya nama kelembagaan, menurut Fauzi Eko Pranyono, dari BPKB Jogjakarta, ada semacam situasi psikologis yang tidak bisa diterima oleh pamong belajar SKB karena selama ini SKB ikut membina pendidik dan tenaga kependidikan PKBM.

Sungguh ironis, sebuah lembaga pemerintah yang menyelenggarakan pendidikan kesetaraan yang relatif lebih bermartabat dan berkualitas harus menginduk atau mendompleng pada lembaga pendidikan swasta yaitu PKBM, tulis Fauzi dalam blognya.

Konon, perubahan pun akan menyentuh perundang-undangan yang memayungi personil dan program PNF, tinggal menunggu waktu dan anggaran yang akan mendukung rapat dan diklat untuk mempercepat semangat pembaharuan, dimana draft naskah akademiknya sedang disusun oleh tim.

Sungguh, sebuah gagasan bagus guna meningkatkan kinerja, kompetensi dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan Ditjen PAUD dan DIKMAS, serta meningkatkan kebermanfaatan program dalam mewarnai kehidupan masyarakat yang menjadi sasarannya.

Hal ini sejalan dengan Agus Sadid dalam postingannya di grup whatsapp,  bahwa, sesditjen paud dan dikmas, wartanto, pada upacara serah terima jabatan kepala BP-PAUD dan DIKMAS Nusa Tenggara Barat,mengatakan, kita semua harus bekerja untuk rakyat, melayani kebutuhan rakyat dan memenuhi keinginan rakyat. Gunakan bahasa rakyat dan ikuti hati nurani.

Terkait dengan pengembangan model, masih kata Sadid, begitu panggilan akrab ketua pengda IPABI NTB, bahwa Pak Sekretaris menekankan untuk menyusun dan mengembangkan model berbasis rakyat, jangan membuat jarak dengan rakyat.

Apa yang dikatakan oleh mantan pamong belajar BPPLSP Ungaran ini, sejatinya sudah lama akrap dengan dunia PNF. Ya memang harus begitu seyogyanya program yang disuguhkan kepada masyarakat yang masih terbelakang pendidikannya. Hanya redaksinya saja yang diubah disesuaikan dengan bahasa nawa cita yang mencoba menghidupkan kembali gagasan Bung Karno, bapak marhaenisme Indonesia.

Guna mendukung gagasan pembaharuan, tentulah akan sangat elok jika didukung oleh sarana prasarana yang memadai serta dana operasional yang signifikan untuk mewujudkan program-program pro rakyat. Artinya program yang akan dikemas nanti tidak lagi “model hit and run”, tapi mengedepankan program yang berkelanjutan, yang benar-benar bisa memberi warna pada kelompok sasaran. Tanpa itu, gaung pembaharuan hanyalah pepesan kosong yang sarat akan kepentingan sang pejabat.

Kemudian, terkait dengan pamong belajar yang semakin menyusut jumlahnya itu, maka kepala SKB harus segera berbuat sesuatu agar mendapat perhatian pemerintah daerah setempat. Contohnya seperti yang telah dilakukan oleh La Subu, pamong belajar senior dari SKB Gudo, Jombang, Jawa Timur, seperti yang di posting dalam grup facebook ipabi, dimana menurutnya, selama ini SKB tidak ada penambahan karyawan baru, khususnya pamong belajar, itu karena SKB kurang melakukan sosialisasi ke Diknas, BKD dan Pemda, tentang ” Peraturan” Pemerintah yang mendukung keberadaan SKB itu sendiri beserta pendidik dan tenaga kependidikannya.

Jika personil SKB tidak proaktif dan progresif dalam melakukan pendekatan, hanya menunggu kebaikan hati pejabat otoda, maka silahkan membunyikan lonceng kematian, agar bisa disiapkan peti mati yang diatasnya dipahat kata indah “disini pernah ada SKB yang berkarya memberdayakan masyarakat di bidang pendidikan luar sekolah”, lengkap dengan karangan bunganya, sebelum dilupakan. [edibasuki/humasipabi_pusat].