Oleh Edi Basuki

100_1908Konon, anak usia 0-6 tahun harus memiliki akses pada program pendidikan anak usia dini (PAUD) yang berkualitas. Ini penting, untuk menyiapkan generasi yang mumpuni diberbagai sektor dengan bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap professional yang mandiri serta berkarakter Indonesia. Mereka adalah calon tenaga kerja masa depan sebagai modal pembangunan yang mengglobal saat memasuki 100 tahun Indonesia merdeka.

Dengan sentuhan program PAUD hasil rekayasa pamong belajar di berbagai daerah, anak-anak yang merupakan aset Negara dimasa depan akan lebih siap memasuki dunia pendidikan untuk mengasah kemampuan calistung serta berkenalan dengan pendidikan kemandirian dalam berkarya. Tentu ini perlu difasilitasi dengan berbagai sarana prasarana yang mendukung terciptanya generasi emas Indonesia merdeka.

Tentunya pemerintah tidak hanya meningkatkan fasilitas, anggaran dan kapasitas tutor PAUD dalam hal kemampuan pedagogik, professional, sosial dan kepribadian. Tapi juga melibatkan orang tua dan lingkungannya agar anak-anak lebih kaya wawasan, karena banyak yang dipelajari (dilihat dan didengar).

Upaya menyiapkan generasi emas ini pun juga mendorong keterlibatan orang tua dan keluarga sebagai orang yang pertama dan utama dalam berinteraksi dengan anak, sehingga mereka bisa membantu tutor PAUD dalam KBM di rumah, serta berupaya mencukupi kebutuhan nutrisi, kesehatan dan perhatian yang penuh kasih terkait dengan perkembangan emosional dan karakter anak. Dengan demikian pihak sekolah dan tutor PAUD bisa cepat menangani jika ada masalah pada si anak.

Ini penting, karena, seperti hasil studi para pakar PAUD, mengatakan bahwa masa usia keemasan anak 0-6 tahun itu pertumbuhan sel-sel otak mereka sangat pesat, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk.

Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (Golden Age). Sehingga perlu distimulasi melalui kegiatan yang menyenangkan agar muncul daya imajinasi, kreativitas, daya inovasi, pandai bergaul dan cepat menangkap pesan yang diberikan oleh tutor PAUD, dan orang tua.

sebagai orangtua, hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Untuk itulah peran orang tua adalah menjaga keseimbangan emosi anak di rumah dan di sekolah agar tidak membebani jiwanya dan bisa bebas berkreasi dalam suasana yang menyenangkan, nyaman dan aman saat berinteraksi dengan tutor dan teman sebayanya.

Contohnya, mengajak anak bermain peran secara berkelompok. Ini sangat baik untuk perkembangan anak, khususnya yang berhubungan dengan perkembangan daya imajinasi dan mengekspresikan diri diantara temannya. Dengan demikian, tutor PAUD yang memberikan permainan mendidik akan lebih bermakna untuk menyiapkan anak memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi daripada memaksa anak belajar calistung, karena usia 0- 6 tahun itu adalah masa bermain, bukan belajar.

Disamping itu, ada baiknya sejak dini anak-anak diperkenalkan dengan lembaga publik, seperti kantor pos, kantor polisi, gereja, pasar, warung, bank dan sejenisnya. Agar suatu saat nanti mereka tidak canggung ketika harus berhubungan dengan lembaga tersebut.

Tutor PAUD pun hendaknya juga segera mengenalkan Kemandirian kepada anak sedini mungkin. Menurut Susanto, dari FIP-UMJ, dengan kemandirian tersebut anak akan terhindar dari sifat ketergantungan pada orang lain, dan yang terpenting adalah menumbuhkan keberanian dan motivasi pada anak untuk terus mengekspresikan pengetahuan-pengetahuan baru.

Masih menurut Susanto, Kemandirian anak sangat diperlukan dalam rangka membekali mereka untuk menjalani kehidupan yang akan datang.  Dengan kemandirian ini seorang anak akan mampu untuk menentukan pilihan yang ia anggap benar, selain itu ia berani memutuskan pilihannya dan bertanggung jawab atas resiko dan konsekwensi yang diakibatkan dari pilihannya tersebut.

Tentunya apa yang dikatakan oleh Susanto itu harus disesuaikan dengan adat kebiasaan dan budaya setempat dimana PAUD berada, agar niat baik menanamkan sikap kemandirian, disiplin, rajin, ulet dan pantang menyerah serta sikap positif lainnya sejak dini tidak bertabrakan dengan kebiasaan setempat. Perlu ada dialog panjang sebelum memasukkan dalam program pembelajarannya.

Yang jelas, semangat mendirikan lembaga PAUD itu sangat pesat sekali, bagai tumbuhnya jamur dimusim penghujan.  Tinggal bagaimana pihak kemendikbud yang menangani program PAUD bisa membina, memfasilitasi dan meningkatkan kapasitasnya agar pelaksanaannya tetap berkiblat pada standar pendidikan, sehungga mutunya tetap terkendali dan terjamin. *[edibasuki/humasipabi_pusat]*