100_2649Seorang pamong belajar UPTD SKB Jombang, pernah berkata bahwa kelemahan SKB yang paling mencolok adalah kurangnya promosi program pendidikan nonformal (PNF) yang dikerjakan disetiaptahunnya, sehingga keberadaannya semakin hari bukannya semakin ‘terkenal’, akan tetapi seakan menjadi “kerakap diatas batu, hidup tak mau, mati nanti dulu” dan tidak mendapat perhatian dari pejabat otoda yang signifikan. SKB Kabupaten Mojokerto, saat ini sedang mencoba menjalin dengan media massa local untuk membantu memberitakan kegiatan PNF yang dikerjakan oleh kawan-kawan pamong belajar, sehingga lambat laun keberadaan SKB menjadi tolehan masyarakat sekitar.

Diakui atau tidak, upaya pendokumentasian program pendidikan nonformal (PNF) yang dilakukan oleh pamong belajar diperlukan sebagai bahan pengkajian dikemudian hari dalam rangka melakukan ‘pembaharuan’ sesuai dengan tupoksinya yaitu, mengembangkan model dan program PNF dalam rangka mengejar kredit poin maupun kredit koin yang sesungguhnya menjadi idaman pamong belajar.

Dari tahun ke tahun, seiring bertambahnya usia ‘Balai’, kiranya tidaklah terbantahkan bahwa sudah banyak karya-karya pamong belajar yang dihasilkan melalui kegiatan pengembangan model PNF dalam rangka mencari solusi alternatif, baik terkait dengan model penyelenggaraan maupun metodenya agar semakin efektif dan efisien guna membantu percepatan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang dipercaya bisa membantu meningkatkan kesejahteraan dalam arti luas. Karya yang demikian banyak itu jika tidak didokumentasikan dengan baik, tentunya akan mudah hilang terlupakan oleh gerak jaman. Artinya, model yang telah dikembangkan dengan memakan biaya yang tidak sedikit itu, hanya akan ‘seumur jagung’ yang sama sekali tidak berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat yang dimobilisasi mengikuti program (untuk tidak mengatakan tidak layak baca, apalagi untuk dijual). Untuk itulah upaya pendokumentasian ini sangat diperlukan, karena dengan didokumentasikan inilah masing-masing tim pengembang akan berusaha semaksimal untuk melahirkan sebuah model yang layak terap dan bermanfaat.

Bentuk-bentuk pendokumentasian itu diantaranya berupa buku/modul yang dipajang di perpustakaan, sehingga bisa dengan mudah dinikmati oleh setiap pengunjung dan para pemerhati PNF sebagai bahan referensi memperkaya wawasan tentang dunia ke-PNF-an. Bisa juga berupa synopsis yang dibukukan sebagai bunga rampai atau artikel yang dimuat di media massa yang dimiliki, seperti lewat web, lewat radio komunitas serta melalui majalah mediksi yang tetap eksis mengawal jalannya program PNF di Balai yang terletak di wilayah kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya. Dokumentasi pun bisa diwujudkan dalam bentuk media film yang memanfaatkan jasa cameraman dari Seksi Informasi.

“Pendokumentasian ini penting, karena bisa dijadikan bahan kajian serta penyadaran ketika ditayangkan kepada masyarakat dimana film tadi dibuat. Sehingga secara tidak langsung akan mendapat masukan dari masyarakat untuk bahan evaluasi dan perbaikan bagi tim pengembang model PNF. Masukan itupun juga bisa dijadikan bahan untuk menyempurnakan karya kita dikemudian hari.” Ujar Rudi Susilo Laksono, salah seorang anggota tim pengembang model. Masih menurut pria alumni Universitas Negeri Surabaya, jurusan pendidikan luar sekolah ini, dampak lain adalah, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga kita akan semakin baik. “Dengan demikian, ketika suatu saat kita mempunyai program lagi, maka masyarakat akan menyambut dan mendukung suksesnya program kita. Tinggal bagaimana menjaga hubungan baik sekaligus keterlaksanaan program yang benar-benar bisa dilihat, bermanfaat dan mudah di duplikasi oleh orang lain.” Katanya ketika menemani tim kreatif dari Seksi Informasi, BPPAUDNI Surabaya yang diminta melakukan pendokumentasian kegiatan pelestarian keberaksaraan pasca program keaksaraan fungsional yang pernah digarap oleh UPTD SKB Gudo, Jombang.

Beberapa hal yang diabadikan lewat lensa camera minidivi merek sony adalah, visualisasi ketika anggota forum pemberdayaan desa aksara melakukan kegiatan pembelajaran secara klasikal kepada mantan warga belajar keaksaraan fungsional yang dibina dan didampingi, dengan materi pencatatan keuangan dalam buku kas sederhana. Kemudian, proses pembuatan “nasi ampog jagung”, wawancara dengan warga belajar lain yang memanfaatkan dana usaha untuk pembuatan sekaligus penjualan jamu gendong sebagai testimony yang bisa menyemangati warga belajar lainnya, namanya Narti, janda beranak 9 yang tetap gigih berusaha meningkatkan kesejahteraan hidup keluarganya. Terakhir, melakukan pengambilan gambar di rumahnya Nono, warga belajar yang mengusahakan pembuatan krupuk puli. Dimana, saat itu digambarkan dia sedang belajar menghitung keluar masuknya dana modal usaha ditemani istrinya yang diposisikan sebagai tutor keluarga, yaitu salah seorang anggota keluarga yang berperan sebagai pendamping belajar, sehingga sewaktu-waktu bisa ngajari calistung tanpa terikat waktu dan tempat.

Disamping itu,  dokumentasi ini juga diperkuat dengan pengambilan gambar dari Ibu Camat yang sedang memberikan pengarahan kepada peserta program dan pengurus forum, serta saat memberikan kesan dan harapan dari pelaksanaan program desa aksara. Begitu juga pernyataan Kepala Desa Selorejo, Anang Amrullah. Intinya, kedua pejabat tersebut mengucapkan terimakasih kepada BPPAUDNI Regional II Surabaya yang telah membantu mengurangi jumlah penyandang buta aksara sekaligus berupaya memberdayakan masyarakat Selorejo dengan program desa aksara. “Tidak semua desa di wilayah kecamatan mojowarno yang berkesempatan mendapatkan dan menikmati program pemberdayaan melalui pendidikan nonformal yang didanai oleh teman-teman dari Balai. Untuk itu kami harapkan masyarakat disini bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya,” Ujar Dwi Yudawati, Camat Mojowarno dalam pengarahannya kepada peserta program desa aksara di Balai Desa Selorejo.

“Bahan-bahan ini nanti akan di edit dan diberi narasi untuk kemudian bisa di edarkan sebagai bahan laporan dan promosi tentang upaya pelestarian keberaksaraan mantan peserta program keaksaraan fungsional  untuk mengurangi jumlah barisan buta aksara sekaligus meningkatkan kesejahteraan dengan mengusahakan keterampilan yang dimiliki sebagai mata penaharian yang dapat menambah penghasilan keluarga.” Kata Cak Doel, alumni PUSKAT saat ditanya proses selanjutnya dari proses pengambilan gambar yang memakan waktu hamper seharian itu.

Seandainya masing-masing pengembang model melakukan pendokumentasian garapannya, pastilah akan sangat berguna sebagai bahan promosi kepada khalayak ramai dan pasti akan berdampak positif ke depannya dalam rangka menampakkan sosok BPPAUDNI sebagai Unit Pelaksana Tugas dari Ditjen PAUDNI yang berkedudukan di Surabaya.*[ebas/humasipabi_online]