100_1602Konon, yang namanya pengurus apa saja, baik itu organisasi, paguyuban, asosiasi, rukun warga, pengurus partai dan sejenisnya, itu sangat menyenangkan, karena disitu ada gengsi, penghormatan dan kepercayaan. Ada juga yang bilang bahwa menjadi pengurus pasti akan mendapat rejeki dan punya kuasa dari keberadaannya sebagai pengurus. Benarkah ?.

Eits …… nanti dulu. Pengurus yang mana nih yang dimaksud ?. karena tidak semua organisasi atau paguyuban itu profit oriented. Ada memang, bahkan banyak pengurus organisasi yang berbayar dengan tujuan dan struktur yang jelas, tegas dan mempunyai target tertentu, seperti pengurus partai politik, pengurus organisasi kemasyarakatan yang mapan, pasti disitu ada uang karena memang ada perputaran rupiah dalam bentuk usaha. Merekapun bisa dan berani bersuara keras untuk mengkritisi sebuah kebijakan karena banyak pendukungnya, loyalitas dan dedikasi dari anggotanya yang banyak tersebar dimana-mana menjadi andalannya. Mereka juga mempunyai dana untuk menyuarakan kepentingannya. Ya, disini pengurus benar-benar punya gigi untuk membela anggota dan kepentingannya.

Coba kita tengok sekilas keberadaan PGRI, Ikatan Guru Indonesia, Forum Guru Independen dan sejenisnya. Merekapun mempunyai banyak anggota, memiliki dana operasional, ada rapat terjadwal dengan program tertentu yang akan disuarakan kepada pembuat kebijakan, ada iuran ala kadarnya, bahkan konon ada subsidi anggaran dari APBN/APBD.

Sekarang mari kita lihat keberadaan organisasi dan pengurus IPABI, apa yang telah diperbuat untuk anggotanya, bagaimana mengimplementasikan AD/ART nya, bagaimana pelaksanaan hak dan kewajiban anggota dan pengurus, bagaimana dengan pencapaian program kerjanya ?.

Dari postingan di facebook, seringkali ada berita duka tentang meninggalnya pamong belajar di berbagai daerah, juga ada pamong belajar yang pensiun atau terpaksa alih profesi untuk mengejar rejeki dan gengsi. Namun tidak ada postingan yang menyebutkan tentang penambahan atau datangnya pamong belajar baru. Jadi, jumlah pamong belajar yang sedikit itu pun semakin menyusut, dengan jumlah itu apa yang  bisa diperbuat oleh pengurus IPABI, sungguh keberadaan pamong belajar tidak punya ‘daya tekan’ sama sekali bahkan sering saling menekan sendiri diantaranya.

Sementara di lapangan, banyak pamong belajar yang kurang peduli terhadap keberadaan IPABI. Mereka lebih asyik dengan dunianya sendiri, mengembangkan model, sibuk mengelola kegiatan belajar mengajar, jadi instruktur sana sini. Asyik dengan kerja tambahan sebagai assessor, ferivikator, fasilitator, nyambi sebagai dosen terbang kesana kemari, juga ngamen sebagai konsultan panggilan, bekerjasama dengan lembaga mitra untuk merekayasa dana program, Pinjam istilahnya Mulyono, pamong belajar SKB Situbondo, ngarit di luaran lebih banyak hasilnya untuk meningkatkan kesejahteraan anak istri dan kerabatnya.

Kalau kita jeli, coba amati, berapa pamong belajar yang mempunyai kepedulian menyuarakan idealismenya melalui komentar di facebook ?. berapa yang berani melontarkan gagasan atau guyonan sedikit nakal untuk mengkritisi kebijakan yang kurang bijak terhadap masa depan habitatnya ?. kemudian, jika ada pamong belajar yang bersuara kritis, seperti Fauzi, dewan penasehat IPABI, yang lewat tulisannya sering menggelitik kepekaan sosial pamong belajar, tapi berapa sih yang berani mendukung dengan komentar yang cerdas ?. dari situ jelas dedikasi dan loyalitas terhadap profesi pamong belajar belum tumbuh, begitu juga dengan jiwa korsa, rasa senasip seperjuangan belum berkembang, apalagi terhadap keberadaan IPABI yang konon untuk membantu mengkoordinir pamong belajar.

Dengan kesibukan yang seabrek itu bisa dimaklumi jika pamong belajar sudah tidak mempunyai waktu untuk turut menyumbangkan pikiran terhadap kemajuan IPABI, bahkan banyak yang bersikap apriori terhadap keberadaannya. Nah, kalau sudah begini, pengurus bisa apa mau bagaimana ? mau narik iuran ?, jelas akan ditertawakan dan mendapat perlawanan karena dinilai selama ini keberadaannya tidak membawa manfaat pada kehidupan pamong belajar. Mau mengadakan rapat pengurus atau rapat anggota ?. jelas tidak mungkin karena memerlukan dana yang tidak sedikit, sedangkan mengajak pamong belajar urunan untuk kegiatan masih aras-arasen Semetara, pejabat yang merestui kelahiran IPABI tidak bertanggungjawab  menafkahi untuk keberlangsungan dan kebermaknaan hidupnya, sehingga program-program yang disusun, terpaksa hanya indah diatas kertas. Jadi harap maklum saja bro/sis, percayalah pengurus IPABI tetap berjuang dan berdoa.

Memang benar, di lapangan banyak masalah yang membelenggu kehidupan pamong belajar (pengurus juga pamong belajar lho ya ?). mulai dari tunjangan profesi, issue sertifikasi, uji kompetensi, kenaikan pangkat, dana program, hubungan dengan instansi terkait, batas usia pensiun, peningkatan kompetensi PTK-PAUDNI dan masalah lain yang bersifat sektoral yang harus diatasi namun tidak tahu dari mana memulainya. Tapi percayalah, pengurus pasti mengetahui permasalahan itu, namun sementara ini hanya bisa diam tanpa berbuat apa-apa. Paling-paling pengurus hanya menampung untuk kemudian meneruskan ke Jakarta, tanpa tahu akan ditindak lanjuti atau tidak. Ya hanya itu yang bisa dilakukan, tidak lebih.

Boro-boro IPABI, orang Jakarta saja tidak punya kuasa untuk menjinakkan birahi otoda yang cenderung ‘seenak udelnya’ sendiri dalam memainkan kebijakan. Dengan kata lain, sesungguhnyalah Jakarta tidak punya taring untuk membela pamong belajar melawan maunya penguasa otoda. Alih-alih memperhatikan nasib pamong belajar, membuat payung hukum untuk pengadaan pamong belajar baru di SKB saja tidak ada keseriusan, sementara banyak kementerian lain yang sudah dan mulai bertindak nyata mensejahterakan tenaga fungsionalnya dengan memberikan tunjangan fungsional yang menenteramkan jiwa raga.

Dalam ketidak berdayaan itu bukan berarti pengurus berdiam diri, secara diam-diam, dengan falsafah sepi ing pamrih rame ing gawe, era rezimnya Fauzi, sudah beberapa kali menyodorkan naskah akademik terkait dengan perbaikan nasib pamong belajar serta kegiatan lain yang didanai Jakarta. Kemudian eranya Dadang Subagja, beberapa kali dipercaya oleh Jakarta melakukan kegiatan untuk pamong belajar, kegiatan pendataan, diikutkan rapat tingkat nasional, terlibat kegiatan uji petik dan lainnya. Memang kegiatan-kegiatan itu belum menyentuh nasib pamong belajar, karena Jakarta memang masih menghendaki IPABI seperti ini, selalu resah dan gelisah,  risau mendengar rintihan pamong belajar di daerah. Ya, sampai saat ini pengurus IPABI masih seperti ini, hanya bisa galau dalam ketidak berdayaan mengayomi anggotanya.

Agar pamong belajar tidak mengalami kegalauan yang mendalam, ada baiknya jika tidak terlalu menggantungkan nasib kepada pengurus IPABI, karena pengurus ipabi pun juga pamong belajar yang perlu memikirkan masa depannya sendiri. Untuk itu, bagaimana jika seluruh pamong belajar yang ada di lembaga mana saja, bersatu meneriakkan nasibnya lewat dunia maya secara bersama-sama kemudian ‘di-forward-kan’ ke Jakarta, agar mereka tahu bahwa pamong belajar melakukan demo lewat dunia maya. Perlu dibangun kesadaran bersama untuk berkomentar di media jejaring sosial  tanpa harus bersemuka dan harus meninggalkan kesibukannya masing-masing.

Kendalanya ada dua, beranikan pamong belajar menerima tantangan berdemo lewat dunia maya dengan sedikit mengorbankan zona nyamannya, dan apakah orang Jakarta suka basa-basi di dunia maya ?, sehingga bisa membaca keluh kesah pamong belajar. Hanya nurani yang bisa menjawabnya. [eBas]