seleksi TPAK“Kepada seluruh peserta, diwajibkan selalu duduk sesuai dengan nomor yang tercantum di keplek. Kemudian keplek harus dipakai selama diklat agar panitia mudah dalam melakukan penilaian aktivitas peserta, penilaian ini meliputi kedisiplinan, keaktivan, perhatian dan ketertiban, semuanya akan berpengaruh terhadap lolos tidaknya peserta sebagai  tim penilai angka kredit.” Kata penitia dalam sesi penjelasan teknis, tegas tanpa seulas senyum di bibirnya.

Yups, hari pertama panitia sudah menebar ancaman, sebagai upaya menjinakkan peserta dan memaksa untuk tidak ngantuk dalam memperhatikan penjelasan fasilitator. Sungguh, diklat yang dilaksanakan di bulan ramadhan ini terkesan kurang nyaman, sangat formal dan menegangkan. Mungkin karena diklatnya bersifat seleksi untuk menentukan layak tidaknya sesorang menjadi anggota TPAK, sehingga semua peserta serius, takut tidak lulus.

Padahal, seperti yang sering terjadi di lapangan, era otoda ini semuanya bisa terjadi sesuai selera penguasa setempat. Bukan masalah kompetensi dan profesionalitas, tapi loyalitaslah yang dinomor satukan dalam penentuan personil di era otoda.

Penyaji materinya semua dari luar kota, tidak ada yang dari lokal Surabaya. Namun, seperti diklat pada umumnya, cara penyajiannya pun tidak ada yang istimewa, semuanya normatif, penuh ceramah satu arah. Termasuk pesertanya, diam memperhatikan sambil manggut-manggut menahan kantuk sebagai dampak menjalankan ibadah puasa ramadhan.

Begitu juga dengan Pak Ajang dalam memaparkan materinya. Beliau mengatakan bahwa, pamong belajar yang lebih dari 5/6 tahun tidak naik pangkat akan diberhentikan sementara dari jabatannya, dan bagi pamong belajar yang alih fungsi menjadi pejabat struktural, hendaknya jabatan pamong belajarnya tidak dilepaskan, untuk jaga-jaga (?).

Namun, pada kenyataannya di lapangan, apa yang dijelaskan itu tidaklah selalu begitu. Terbukti banyak pamong belajar yang sudah lebih dari 6 tahun tidak naik pangkat/jabatan, ternyata tidak diberhentikan, dan siapa yang berhak memberhentikan pun tidak pernah jelas siapa orangnya. Begitu juga proses alih fungsi, tidaklah semudah seperti yang di jelaskan pria gendut berkacamata itu.

Mendapat masukan yang bertolak belakang, Pak Ajang meradang, dan keluarlah pernyataannya, “Kalau sudah tidak mau menjadi pamong belajar, ya mengundurkan diri aja secara gentle, beralih menjadi pedagang.”

Lho, jawaban seorang Kasi PTK yang sudah senior dan menjadi panutan serta rujukan nasib pamong belajar kok seperti itu ya?. Kayaknya tidak mendidik, tida, tidak mencerahkan, pun tidak menyejukkan. Sehingga dapat dipastikan peserta tetap akan kebingungan sepulang dari diklat ini, dan dapat dipastikan pula peserta yang lolos seleksi pun, bukan karena pandai dan bermutu, tapi lebih karena nasib baik sebagai berkah ibadah ramadhan.

Ya, Pak Ajang, sebagai senior yang sangat expert dalam mengatur nasib pamong belajar dan penilik lewat jabatannya, ternyata dalam penampilannya, tampak serba tergesa-gesa. Penyajian materi dalam bentuk slide yang berslide-slide itu pun ditayangkan sepintas lalu, sehingga peserta tidak bisa mencerna dengan baik. Begitu juga dengan pemateri lainnya, serba tergesa-gesa tampil seadanya lebih banyak guyonannya, sekedar gugur kewajiban memenuhi paket kejar tayang demi daya serap anggaran.

Begitu juga dengan Profesor Sony, yang menyampaikan materi pengembangan profesi. Sepanjang waktunya lebih banyak diisi cerita tentang sistimatika penyaduran, cara membedakan buku saduran, terjemahan, dan ringkasan. Ya, harapan Sony, pamong belajar bisa menunjukkan kompetensinya dalam bidang penulisan buku ajar, modul, menyadur, mengalih bahasakan dan sejenisnya, sebagai upaya memperkaya khasanah dunia pendidikan nonformal yang sampai saat ini masih minim bahan pustaka.

Pria kelahiran Banyuwangi ini juga bercerita tentang keluarganya, tentang pengaruh warna terhadap karakter manusia, serta mengajak peserta berdiri sejenak untuk menggerak-gerakkan anggota badan agar semangat kembali, dengan gayanya yang kocak, setiap akan menjawab pertanyaan, selalu diberi ilustrasi cerita pengalaman hidupnya, atau menyanyikan sebagian lagu dan dikomentari sendiri dengan dialek Purwokerto yang kental. Inilah yang membuat peserta terlena dan sejenak lupa lapar. Panitia pun tetap dengan gayanya, sok mengawasi dan menilai setiap gerak peserta, entah menilai sungguhan atau pura-pura menilai sambil menahan kantuk. Karena peserta juga manusia.

Suasana yang serba kaku itu pun akhirnya pecah juga karena munculnya issue pasal 350 jungto pasal 287. Peserta meradang, protes agar pasal di revisi setara kenaikan BBM. Panitia pun berubah perangainya, lebih santun setengah takut menghadapi La Subu dan kawan-kawannya. Merka sepakat mogok jika tidak ada kesepakatan.

Sungguh, panitia cukup bijaksana menghadapi protes pamong belajar. Pasal diatas tetap berlaku dan tidak bisa berubah, namun diberi tambahan amplop dan snack untuk menemani perjalanan pulang. “Atas budi baik pimpinan kami, maka disamping mendapat uang transport yang sesuai dengan aturan, peserta akan mendapat tambahan ala kadarnya.” Kata panitia, menjelang penutupan. Tempik sorak pun meledak menandai kemenangan aspirasi pamong belajar dalam menuntut kenaikan honor.

Seluruh peserta yang terdiri dari penilik, staf BKD, staf Dinas, Kasi dan pamong belajar pun puas meninggalkan Hotel Utami, pulang  kembali kepada rutinitas kantor masing-masing sambil menunggu hasil seleksi TPAK yang akan diumumkan entah kapan. Pertanyaannya kemudian, diambilkan dari mana dana tambahan itu?. Wallahu a’lam bishowab. [eBas]