100_5022Diharapkan kehadiran seluruh karyawan BPPAUDNI Regional II untuk mengikuti kegiatan workshop e-SKP pada hari senin dan selasa, tanggal 15 – 16 Juni 2015, pukul 09.00 sampai selesai, di ruang A. Yani, diharapkan membawa laptop. Demikian bunyi pengumuman lewat Short Massage Service (SMS. Kegiatan ini sengaja di agendakan oleh manajemen dalam rangka menyiapkan karyawan Balai agar semakin terbiasa menyusun SKP berbasis internet.

Konon, SKP merupakan sarana untuk menyususn rencana pekerjaan sesuai tupoksi sebagai pertanggungjawaban karyawan sesuai dengan hak dan kewajibannya. Ada juga yang bilang SKP merupakan pengganti penilaian DP-3 yang lebih objektif dalam melihat capaian kinerja individu, sehingga akan mempermudah proses administrasi kepegawaian terkait dengan proses kenaikan pangkat, jabatan dan pemberian tukin dan rejeki kantor lainnya.

Tujuan pengisian e-SKP ini diantaranya untuk meningkatkan kompetensi karyawan dalam melaksanakan tugasnya. Kini sedang digagas ada media untuk meningkatkan kompetensi tersebut, diantaranya adalah mengadakan seminar kolegial. Harapannya karyawan Balai, khususnya pamong belajarnya benar-benar bisa unggul dalam  melaksanakan tugasnya, sebagai barometer keberhasilan program kemendikbud di bidang paudni.

“Sebelum karyawan mengisi e-SKP yang format isiannya terpampang di http://skp.sdm.kemdikbud.go.id, maka semua rencana tugas harus disesuaikan dengan format, seperti isian target penyelesaian tugas bulanan. Jadi, nantinya, penilaian itu bukan berdasar absensi saja, tetapi juga target pekerjaan yang diselesaikan sesuai rencana. Kalau tidak bisa menyelesaikan, maka akan berakibat pada dikuranginya jumlah tukin yang diterima,” Kata Anjar Basuki, nara sumber dari Jakarta.

Penyampaian materi tata cara memasukkan data itu ternyata ada sedikit perbedaan dengan aturan main dari sistem sijapi, yang dikembangkan oleh karyawan Balai yang sangat ahli di bidang teknologi informasi. Hal ini memicu Tanya jawab berkepanjangan antara penanggungjawab sijapi, nara sumber, dan pamong belajar, serta staf structural, yang juga masih ‘gagap sijapi’, apalagi SKP yang baru di workshop kan ini. Dengan demikian, suasana menjadi hangat dan dinamis saling tukar argumentasi, sehangat kopi yang siap dinikmati bersama kudapan ala kadarnya.

“Beberapa waktu yang lalu kita telah menyusun SKP online ala sijapi, beberapa kali kita melakukan revisi. Lantas sekarang ada e-SKP dari Jakarta. Kemudian, nanti kita akan menggunakan yang mana dan yang kita susun kemarin itu untuk apa dan akan dikemanakan?” Tanya peserta silih berganti. Sementara pihak manajemen yang mengikuti workshop hanya tersenyum simpul, diam seribu bahasa.

Mengingat SKP sangat erat dengan perolehan tukin, maka acara praktek pun menjadi arena diskusi seru dengan harapan tukin tidak terpotong banyak-banyak. Apalagi keberadaan pamong belajar itu terdiri dari tiga golongan yang mempunyaai tupoksi berbeda, yaitu pamong belajar pertama, muda dan madya. Seharusnya beda perlakuan dalam pengisian SKP. Sementara nara sumbernya kurang paham dengan tupoksi pamong belajar beserta angka kreditnya. Sudah begitu, praktek pengisian data ke e-SKP terkendala oleh akses internet yang kurang responsif.

“Tentulah format e-SKP ini masih banyak kekurangannya, terimakasih atas koreksinya sebagai bahan masukan kami,” Kata Anjar menyudahi penyampaian materinya.

Kasubag Taus BPPAUDNI Surabaya, menyatakan bahwa semua permasalahan yang muncul dalam workshop penyusunan SKP akan dilaporkan kepada kepala Balai sebagai bahan pembuatan kebijakan. Semuanya akan dikomunikasikan sehingga nanti seluruh karyawan Balai bisa mengisi rencana kerja ke dalam e-SKP sesuai dengan tupoksinya, agar tukin bisa diterima tanpa potongan yang signifikan.

“Mudah-mudahan informasiyang diberikan oleh Pak Anjar bisa dijadikan bahan belajar antar teman di Balai, kemudian nanti dikumpulkan pada bulan Juli untuk divalidasi,” Kata ibu yang baru saja dikaruniai seorang cucu. [edibasuki/humas.ipabionline]