berbagiSemua pasti sepakat jika dikatakan bahwa, Ditjen PAUDNI belum mampu meningkatkan kompetensi seluruh pamong belajar dan penilik dalam sebuah diklat, di setiap tahunnya. Celakanya, karena sesuatu dan lain hal, mereka yang selalu berkesempatan mengikuti diklat, ya itu-itu saja orangnya. Sedang yang lain hanyalah angka ikut, layaknya kasta sudra yang tidak tahu apa-apa. Sudah gitu, mereka yang spesialis diklat itu, tidak mau mengimbaskan ilmunya kepada sejawatnya, enggan berbagi pengalaman dengan kawan-kawannya yang juga kepingin pinter, juga kepingin menikmati rejeki diklat.

Konon, mereka yang bergiat di lembaga swadaya masyarakat (LSM), mereka mempunyai forum bersama untuk berbagi ilmu, berbagi informasi dan pengalaman. Mereka saling mengadvokasi, membangun rasa senasib sepenanggungan untuk melakukan edukasi kepada masyarakat miskin lewat program pemberdayaan, yang memungkinkan terjadinya transformasi sosio kultural di masyarakat dampingannya. Dampaknya, walau kecil keberadaan mereka, namun sangat diperhitungkan oleh pemerintah.

Andai pamong belajar dan penilik bisa berlaku seperti LSM itu, sungguh karya-karya mereka di bidang PNF akan semakin menjadi tolehan berbagai pihak, juga menjadi perhatian pejabat di lingkungan Kemendikbud, dan lembaga mitra lain yang mempunyai kepedulian di bidang PNF.

Ya, sesungguhnyalah, sudah ada satu dua orang, yang mempunyai kepedulian untuk saling berbagi ilmu, manakala disambati. Namun sifatnya masih individual, masih pilih-pilih, hanya untuk kalangan sendiri yang dianggap saling menguntungkan.

Disamping itu, pamong belajar dan penilik juga sudah memiliki media berbagi informasi untuk saling berkomunikasi, saling menguatkan melalui media jejaring sosial, yang bisa diakses dimana saja, kapan saja dan mengenai apa saja, gratis pula. Namun sayang belum semua dari mereka yang berkenan memanfaatkannya untuk berbagi informasi.

Sebenarnya, banyak informasi yang bisa di-share-kan melalui media facebook maupun situs (weblog) maupun majalah kantor yang dimiliki. Seperti hasil rapat koordinasi, rapat temu konsultasi, hasil musda/munas organisasi, hasil diklat, seminar, cerita kunjungan menghabiskan dana, kegiatan uji petik naskah, dan kegiatan lain yang tentunya akan sangat bermanfaat menambah pengetahuan bagi penilik dan pamong belajar yang ada di daerah, khususnya mereka yang tidak pernah berkesempatan mengikuti acara begituan.

Sungguh, sekiranya, penilik dan pamong belajar di berbagai daerah, berkenan meluangkan sedikit waktunya untuk berbagi cerita dengan mengirimkan tulisannya (baik berupa berita maupun artikel lainnya) ke ipabi.org sebagai situs resmi organisasi pamong belajar, tentulah jagat PNF akan semakin berwarna warni dengan aneka informasi. Tulisan tidak harus ilmiah, nakal-nakal sedikit tidak apa-apa, yang penting menggelitik, sehingga bisa menginspirasi untuk dituangkan dalam tupoksi.

Kalau melihat tingkat pendidikan penilik dan pamong belajar yang rata-rata bergelar sarjana, bahkan banyak yang sudah mencapai pasca sarjana, juga doktor, kayaknya lucu kalau merasa tidak bisa menulis (kecuali kalau gelarnya beli abal-abal untuk sekedar kepentingan administrasi dan gengsi, itu bisa dimaklumi). Apalagi tupoksinya juga tidak pernah jauh dari menulis (menulis laporan kegiatan dan sejenisnya). Ya, terkait dengan aktivitas menulis untuk media, bukan sekedar mengandalkan gelas sarjana dan kemampuan akademik semata, tapi lebih kepada ada tidaknya kemauan untuk berbagi informasi bagi sesama pegiat PNF.

Jangan-jangan mereka yang enggan menulis, sudah dihinggapi sifat materialism, dimana semuanya harus bernilai rupiah, sehingga untuk memunculkan kemauan berbagi dan peduli kepada sesama pun harus diiringi dengan rupiah. Namun, ada juga, yang mengatas namakan profesionalisme dan kesibukan yang sangat menyita waktu itulah, yang membuat kesempatan menulis sangat sedikit. Ini juga alasan yang manusiawi sekali dikemukakan.

Fenomena yang berkembang (dari dulu?), Penilik dan pamong belajar pun cenderung bertindak sendiri-sendiri. Bahkan, pada saat secara resmi mewakili organisasi dalam sebuah kegiatan, mereka tetap tampil sebagai individu yang menawarkan keakuannya, menawarkan kepakarannya untuk meraih popularitas pribadi, dan tentu saja rejeki. Sehingga yang terjadi, mereka saling selintutan sendiri-sendiri, membangun koneksi ke pusat-pusat kuasa untuk mencari peluang kariernya. Bahkan, nabrak aturan pun tidak segan-segan dilakukan.

Parahnya lagi IPABI (dan mungkin juga IPI) sebagai organisasi resmi yang direstui keberadaannya oleh direktorat, kurang diberdayakan dengan berbagai kegiatan yang bernuansakan peningkatan kompetensi bagi seluruh anggotanya, tanpa kecuali.

Karena sesungguhnyalah, disengaja atau tidak, jika ada acara transfer pengetahuan, keterampilan dan sikap, yang dipilih/terpilih selalu berdasarkan kedekatan (koncoisme). Inilah, mungkin, yang menjadikan anggota kurang respek kepada induknya, sehingga loyalitas, dedikasi dan jiwa korsa terhadap nilai-nilai kebersamaan dalam organisasi tidak tumbuh, pun tidak berkembang. Memprihatinkan memang, tapi itulah potret yang sesungguhnya.

Mudah-mudahan kegagalan mengegolkan kata pamong belajar di dalam salah satu ayat dan pasal yang ada di PP 32 tahun 2013, bisa menjadi cermin bersama. Mari membangun rasa peduli dan berbagi, agar suara pamong belajar semakin solid dan lantang menggema di lingkungan Ditjen PAUDNI. [eBas/humas.ipabi.org]